Mencoba merenung mengerjakan tugas Bahasa Indonesia. Ternyata gampang-gampang susah!
Puisi sebagai ungkapan perasaan bisa dialami dan dlakukan oleh siapa pun segala umur,, di mana pun, dan kapan pun. Kodrati manusia adalah mankhluk yang bernalar dan berperasaan. Maka, karya puisi merupakan media curahan perasaan seseorang dalam kemasan bahasa yang indah berhubungan dengan pokok masalah hidup dan kehidupan, bsa bersifat personal maupun klasikal universal.
Pelajar SMA merupakan subjek pembelajar yang secara psikologis merupakan fase perkembangan yang paling bergejolak dalam rangka menentukan jari dirinya. Oleh sebab itu, gejolak perasaan sedang mengalami arah puncak penemuan formulasi yang tepat untuk dirinya. Hal ini memerlukan wadah sebagai tempat pencurahan perasaan untuk mengurangi endapan emosi dan pikiran. Maka, menulis puisi merupakan salah satu media pencurahan perasaan seseorang, dalam hal ini remaja tingkat SMAm, dalam berbagai konteks yang mereka alami dan rasakan setiap harinya.
Rubrik ini merupakan tempat bagi siswa-siswi untuk mengungkapkan hal di atas dalam kaitannya proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Maka, tentunya akan diberikan apresiasi dan penghargaan terhadap karya siswa, terutama dikaji dari sisi keberanian, kejujuran, ketulusan, keihlasan, di samping tinjauan hakikat dan metode berpuisi ala I.A. Richard dalam buku Hakikat dan Metode Berpuisi.
Siswa-siswi kelas ini diwajibkan mengunggah puisinya untuk diapresiasi dan sebagai syarat pemenuhan kewajiban belajar. Maka, harap kalian lakukan sebagaimana mestnya yang sudah ditentukan. Judul, nama, dan nomor absen harus disertakan. Manakala ada yang amat berminat, boleh mengirimkan lebih dari satu karyanya, dengan catatan harus orisinal dan tidak plagiaris sehingga tidak melanggar undang-undang hak cipta.
Selamat mencurahkan pikiran dan perasaan! Terima kasih atas aktivtas berkarya kalian dan semuanya akan bermakna, mungkin nantinya. Waktu semakin memperkuat kenangan dan perasaan yang kalian ungkapkan dan rasakan!

148 comments:
Peluh yang Kujunjung Tinggi
Karya: Jacko Foltradz
Pundakmu usang dipikul waktu yang tak kenal ampun
Tak pernah kau lepaskan aku dari gendongan
Peluh yang kau seka di dahi saat lelah bekerja
Kukenang sebagai mahkota paling berharga
Aku bangga jadi anak pejuang yang tak pernah mengeluh
Tanganmu kasar karena membanting tulang untukku
Tapi setiap sentuhanmu lembut seperti doa
Kau ajarkan arti nama dan harga diri
Bukan dengan nasihat panjang, tapi diam yang berbicara
Dalam setiap tetes keringatmu ada universitas hidupku
Kau bangun sebelum matahari terbit
Hanya untuk memastikan aku berangkat kenyang
Dulu aku tak paham mengapa kau sering lelah
Kini air mataku tak terbendung
Kau memberi segalanya saat tak punya apa-apa
Rumah kecil dulu terasa istana karena senyummu
Kemiskinan bukan aib karena kau menyulamnya dengan cinta
Aku belajar menerima takdir tanpa gugat
Dan tetap tersenyum saat dunia tak ramah
Kau adalah puisi terpanjang yang tak akan selesai kubaca
Kini giliranku menjaga dan membahagiakan
Meski tak bisa membalas sepersekian jasamu
Aku terus berjalan jujur di jalan yang kau doakan
Saat ragu, kuingat punggungmu yang kokoh
Karena aku bangga jadi anak pahlawan sesungguhnya
Palembang, 7 April 2026
Aku Tetap Melangkah
Karya: Jacko Foltradz
Kaki ini tegak menapak bumi yang keras
Walau bayang raguku sempat gamang
Jatuh bukan akhir dari segalanya
Tapi cara bumi mengajariku bangkit
Dari luka tumbuh akar keyakinan
Cermin di kamar tak pernah dusta
Ia memantulkan cahaya yang nyata
Bukan tentang sempurna menurut mereka
Tapi utuh menerima semua lekuk
Aku percaya: cukup sudah diriku
Suara dalam hatiku lantang mengalahkan ragu
Dulu aku malu pada langkah berbeda
Sekarang tahu bahwa berbeda adalah keberanian
Bukan kelemahan yang harus kusembunyikan
Setiap orang punya jalan, aku punya jalanku
Aku berhenti membandingkan dengan bayang orang lain
Mereka juga bergulat dengan gelapnya sendiri
Yang kuperlu hanyalah melangkah jujur
Bukan hebat di mata semua insan
Tapi utuh dalam pelukanku sendiri
Biarlah angin menerpa dengan kerasnya
Aku tetap berdiri dengan dada terbuka
Percaya diri bukan tentang paling benar
Tapi tentang berani hadir tanpa topeng
Aku cukup, aku berharga, aku bisa
Palembang, 8 April 2026
Gemerlap yang Memisahkan
Karya: Jacko Foltradz
Dunia dalam genggaman tangan yang mungil
Sunyi panjang di antara dua insan bersebelahan
Kita ramai tapi sendiri dalam diam
Lupa ada ruang nyata di luar sana
Digital menjanjikan dekat, tapi menjauhkan
Informasi deras tanpa batas dan henti
Tapi kita asing dengan tetangga sebelah rumah
Tahu kabar artis di seberang samudra
Lupa bertanya pada ibu apakah sudah makan
Ironi di balik gemerlap notifikasi
Generasi muda tumbuh dengan layar sebagai teman
Lebih fasih berkata pada algoritma
Daripada menyapa mata dan membaca ekspresi
Kecerdasan buatan belajar dari kita
Tapi apakah kita masih belajar menjadi manusia
Kita terjebak dalam kecepatan yang membius
Scroll demi scroll menghabiskan waktu tak kembali
Postingan bahagia di linimasa sering palsu
Sementara hati sesungguhnya tak pernah kita bagi
Tantangan terbesar digital: tetap merasa nyata
Aku memilih bijak di tengah arus deras
Menggunakan layar sebagai alat, bukan tujuan
Aku ingin melihat matamu saat bicara
Merasa hangat pelukan yang sesungguhnya
Digital biarlah jalan, bukan akhir kemanusiaanku
Palembang, 8 April 2026
Sederhana tapi Nyata
Karya: Jacko foltradz
Senja itu berdegup kencang di dada hijau
Saat matamu tak sengaja bertemu mataku
Cinta remaja sederhana tapi sungguh nyata
Seperti angin lembut menyapuku tanpa janji
Tanpa drama, tanpa patah hati buatan
Aku ingat degup pertama saat tanganmu menyentuh
Gugup membuncah di sela tawa kita
Cinta masa muda tak perlu kemewahan
Cukup es pinggir jalan dan cerita panjang
Kau hadir seperti lagu favorit yang kuhafal
Kita belajar cinta dari hal-hal kecil yang terlupa
Dari pesan singkat yang tak kunjung kubalas
Dari diam-diam mencuri pandang di sela pelajaran
Dari degup polos yang belum terluka
Inilah cinta paling jujur: tanpa topeng dan hitungan
Tak perlu janji sampai mati yang berat
Cukup kau masih ada saat aku butuh tawa
Cinta remaja sering disebut labil oleh orang dewasa
Tapi mereka lupa bahwa mereka juga pernah muda
Dan pernah merasakan sempurnanya satu senyum di senja
Biarkan kami jatuh cinta dengan sederhana
Kelak kami dewasa dan mungkin lupa
Tapi untuk sekarang aku ingin merasakannya apa adanya
Sekuat degup, selembut gugup, setulus mata
Karena cinta remaja adalah puisi yang tak butuh kata-kata indah
Palembang, 10 April 2026
Rinduku pada Hijau
Karya: Jacko Foltradz
Pepohonan berbisik lembut pada langit biru
Mereka rindu pada hujan yang jujur datang
Tanah di bawah kaki mulai menghela napas pilu
Sungai kecil dulu meracau, kini suaranya hilang entah
Aku masih menanti hijau itu pulang
Angin malam membawa debu dan sepi panjang
Daun-daun berguguran sebelum waktunya mati
Pohon-pohon tua seolah ikut menangis panjang
Melihat sampah plastik mengotori setiap hati
Hanya ada satu pintaku: biarkan alam tetap bersih dan asri
Mata air di bukit mulai enggan mengalir
Burung-burung kehilangan rumah di ranting
Manusia sibuk dengan gedung dan layar yang gemerlap
Lupa bahwa akar kehidupan ada di tanah yang menopang
Kini hanya secercah harap yang tersisa di ujung senja
Namun aku masih percaya pada kekuatan tunas baru
Yang menerobos sela aspal yang dingin dan tandus
Setiap helai rumput adalah perlawanan kecil yang sungguh
Kita masih punya waktu untuk sadar dan bertumbuh
Bumi ini rumah, bukan tambang yang harus habis
Mari kita sirami lagi dengan cinta yang nyata
Bukan hanya kata-kata manis di status belaka
Karena hijau bukanlah sekadar warna
Ia adalah napas kedua setelah doa
Aku dan alam, selamanya akan berjumpa
Palembang, 12 April 2026
DETAK HATI DI BAWAH SENJA
Karya: Novalia Feloni
Kelas: X. 3
No. Absen: 23
Di bawah senja yang berwarna merah,
Dia berjalan sendirian, aku di sampingnya.
Tangan kita tak sengaja bersentuhan,
Hati ini berdetak kencang,
tak bisa disembunyikan.
Aku merasa bahagia saat itu.
Kita berbicara tentang mimpi dan harapan,
Tawa kita mengguncang keheningan malam.
Mata kita bertemu, dan aku tahu,
Aku tak bisa lagi menyembunyikan perasaan.
Aku merasa hidup, saat itu juga,
Aku tahu, aku telah menemukan dia.
Cinta remaja, yang tak terduga,
Menyambar kita seperti badai di musim panas.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi,
Tapi aku tahu, aku ingin bersama.
Aku ingin merasakan, cinta yang tulus,
Aku ingin mencintainya, dengan segenap hati.
Di bawah bintang-bintang yang berkelap-kelip,
Aku berjanji untuk mencintainya,
Dengan semua kelemahan dan kekuatan,
Aku akan mencintainya, selama-lamanya.
Aku akan menjadi, cahaya di kegelapan,
Aku akan menjadi, tempatnya beristirahat.
Dan ketika waktu membawa kita jauh,
Aku akan tetap di sini, mencintainya.
Dengan setiap napas, dengan setiap detak,
Aku akan mencintainya, sampai akhir zaman.
Aku akan mengingat, kenangan kita bersama,
Aku akan mencintainya, sampai akhir hayat.
Palembang, 30 Maret 2026
CAHAYA DI KEGELAPAN
Karya: Novalia Feloni
Kelas: X. 3
No. Absen: 23
Di lorong-lorong kesedihan,
Aku melihatmu, tersenyum lemah.
Bebanmu berat, tapi aku ada,
Untuk mendengar, untuk mengerti, untuk membantu.
Aku akan menjadi tempatmu beristirahat,
Aku akan menjadi kekuatanmu, dalam kelemahan.
Air mata kita bercampur,
Dalam pelukan yang hangat dan tulus.
Aku tak bisa menghilangkan sakitmu,
Tapi aku bisa berbagi, menjadi tempatmu beristirahat.
Aku akan menjadi pelabuhanmu, dalam badai,
Aku akan menjadi cahaya, dalam kegelapanmu.
Cinta kita bukan hanya kata-kata,
Tapi tindakan kecil, yang penuh kasih.
Aku akan berjalan bersamamu,
Dalam perjalananmu, menuju cahaya.
Aku akan menjadi temanmu, dalam kesulitan,
Aku akan menjadi kekuatanmu, dalam kelemahan.
Di kegelapan, aku akan menjadi cahaya,
Menuntunmu, menuju harapan.
Aku akan mencintaimu, tidak peduli apa,
Karena cinta sejati, tidak mengenal batas.
Aku akan mencintaimu, dengan segenap jiwa,
Aku akan mencintaimu, sampai akhir hayat.
Aku akan mencintaimu, dengan segenap hati,
Dan membantumu, melewati kesulitan.
Aku akan menjadi cahaya
Dan menuntunmu, menuju kebahagiaan.
Aku akan menjadi bagian dari dirimu,
Aku akan menjadi cinta, yang tak pernah berakhir,
Aku mencintaimu, sampai akhir zaman.
Palembang, 30 Maret 2026
HIJAU DAN INDAH
Karya: Novalia Feloni
Kelas: X. 3
No. Absen: 23
Bumi kita, hijau dan indah,
Rumput yang lembut, bunga yang mekar.
Kita adalah penjaga, kita adalah pelaksana,
Untuk menjaga keindahan, untuk melestarikan.
Kita harus bertindak, dengan hati yang tulus,
Kita harus menjaga, keindahan alam ini terus.
Aku melihatmu, hutan yang lebat,
Pepohonan tinggi, sungai yang jernih.
Aku mendengarmu, burung yang berkicau,
Lagu yang merdu, simfoni alam.
Aku merasa damai, di tengah keindahanmu,
Aku merasa bersyukur, atas anugerahmu.
Kita harus menjaga, kita harus melindungi,
Dari polusi, dari kerusakan.
Kita harus berbagi, kita harus menghormati,
Hak-hak alam, untuk generasi.
Kita harus bijak, dalam menggunakan sumber daya,
Kita harus menjaga, keindahan alam ini terus.
Aku berjanji, untuk mencintaimu,
Bumi kita, dengan segenap hati.
Aku akan menjaga, aku akan melestarikan,
Keindahan alam, untuk selamu-lamanya.
Aku akan menjadi, bagian dari solusi,
Aku akan menjaga, keindahan alam ini terus.
Kita harus bertindak, sekarang juga,
Untuk menyelamatkan bumi, dari kehancuran.
Kita harus bersatu, kita harus berjuang,
Untuk menjaga keindahan, untuk melestarikan.
Kita harus menjadi, penjaga bumi yang baik,
Kita harus menjaga, keindahan alam ini terus.
Palembang, 30 Maret 2026
ORANGTUA, SEGALANYA
Karya: Novalia Feloni
Kelas: X. 3
No. Absen: 23
Ibu, ayah, kalian adalah segalanya,
Cinta yang tulus, kasih yang tak pernah habis.
Kalimat pertama, yang ku dengar,
Adalah doa kalian, untukku.
Kalian adalah sumber kekuatan, dalam kelemahanku,
Kalian adalah pelabuhan, di tengah badai.
Aku melihatmu, ibu, dengan mata kasih,
Aku mendengarmu, ayah, dengan hati yang terbuka.
Kalian adalah pahlawan, tanpa topi,
Yang selalu ada, di setiap langkahku.
Kalian adalah inspirasi, dalam setiap perjuangan,
Kalian adalah cinta, yang tak pernah berakhir.
Aku bangga, memiliki kalian,
Orang tua yang sempurna, dalam setiap hal.
Aku berjanji, untuk membuat kalian bahagia,
Dengan cinta dan kasih, yang tak pernah berakhir.
Aku akan menjadi, anak yang baik,
Aku akan membuat, kalian merasa bangga.
Kalian adalah cahaya, di tengah kegelapan,
Aku akan selalu, berada di samping kalian.
Aku cinta kalian, ibu dan ayah,
Selama-lamanya, aku akan mencintai kalian.
Kalian adalah segalanya, bagiku,
Kalian adalah cinta, yang tak pernah berakhir.
Kalian adalah akar, yang kuat dan kokoh,
Aku adalah ranting, yang tumbuh dan berkembang.
Kita adalah keluarga, yang tak terpisahkan,
Bersama-sama, kita akan menghadapi hidup.
Kita akan berbagi, suka dan duka,
Kita akan menjadi, keluarga yang bahagia.
Palembang, 30 Maret 2026
LAYAR DAN KEHIDUPAN
Karya:Novalia Feloni
Kelas: X. 3
No. Absen: 23
Di layar yang berkedip, kita hidup,
Dunia digital, yang tak pernah tidur.
Kita berbagi, kita berinteraksi,
Tapi, apa yang kita dapat, di balik layar
Kita harus sadar, akan dampaknya,
Kita harus bijak, dalam menggunakan teknologi.
Kita dikejar, oleh notifikasi,
Sosial media, yang tak pernah berhenti.
Kita harus tampil, kita harus terlihat,
Tapi, apa yang kita rasakan, di dalam hati
Kita harus tenang, dan tidak terganggu,
Kita harus fokus, pada apa yang penting.
Kita harus berjuang, untuk tetap relevan,
Di era digital, yang terus berubah.
Kita harus beradaptasi, kita harus berubah,
Tapi, jangan lupa, siapa kita sebenarnya.
Kita harus kuat, dan tidak mudah menyerah,
Kita harus percaya, pada diri sendiri.
Di balik layar, ada kehidupan nyata,
Ada cinta, ada keluarga, ada persahabatan.
Jangan lupa, untuk melihat ke atas,
Dan ingat, bahwa kita lebih dari sekedar akun.
Kita harus menjaga, hubungan kita,
Kita harus memprioritaskan, apa yang penting.
Kita harus menemukan, keseimbangan hidup,
Antara dunia digital, dan kehidupan nyata.
Kita harus memilih, apa yang penting,
Dan jangan biarkan, teknologi mengontrol kita.
Kita harus bijak, dalam menggunakan teknologi,
Kita harus hidup, dengan lebih seimbang.
Palembang, 30 Maret 2026
DIAM-DIAM DI HATI
Karya:M.Rizky Rafael
Kau hadir tanpa suara
Seperti angin yang tak terlihat
Mengusap pelan rasa yang ada
Tanpa kata tanpa isyarat
Namun entah mengapa terasa
Namamu tinggal di dalam dada
Aku menyimpan dalam diam
Perasaan yang tumbuh perlahan
Tak berani kuucap terang
Hanya jadi rahasia harapan
Kau tak tahu, atau pura-pura?
Aku pun hanya bisa bertanya
Setiap temu jadi berarti
Meski sekadar sapa biasa
Hatiku diam-diam menari
Di balik wajah yang berpura
Seolah semua baik saja
Padahal rasa tak sederhana
Aku takut bila terungkap
Semua yang kusimpan rapi
Takut berubah jadi gelap
Yang dulu indah kini sepi
Maka kubiarkan saja begini
Cinta diam diam di hati
Jika suatu hari kau tahu
Tentang rasa yang kupendam
Semoga kau tak menjauh
Meski aku tak pernah terang
Karena dalam setiap diam
Ada cinta yang paling dalam
Palembang, 11 April 2026
HIJAU YANG TERLUKA
Karya:M.Rizky Rafael
Hijau pernah tumbuh di tanah harap
Daun-daun menari dalam cahaya
Akar menggenggam mimpi yang hangat
Langit pun tampak begitu setia
Namun waktu diam-diam merenggut
Dan hijau itu mulai layu
Langkah-langkah berat menginjaknya
Tanpa peduli rasa yang tersisa
Ranting patah tanpa suara
Seolah luka tak berarti apa-apa
Padahal di balik warna yang pudar
Ada tangis yang tak terdengar
Hujan datang membawa kenangan
Membasahi luka yang menganga
Bukan lagi menyembuhkan pelan
Justru mengingatkan rasa yang ada
Hijau itu ingin bertahan
Meski rapuh di dalam diam
Kini ia berdiri dalam sepi
Menatap dunia yang berubah
Masih menyimpan sedikit arti
Walau tak lagi seindah dulu kala
Hijau yang dulu penuh kehidupan
Kini hanya sisa perjuangan
Jika esok mentari kembali hangat
Mungkin harapan akan tumbuh lagi
Meski bekas luka tetap melekat
Hijau belajar bangkit perlahan pasti
Karena dalam tiap luka yang dalam
Tersimpan kekuatan untuk bertahan
Palembang, 11April 2026
JANJI UNTUK INDONESIA
Karya:M.Rizky Rafael
Di tanah ini aku berpijak,
di bawah langit merah putih,
kuhirup harapan yang tersisa,
dari doa para pejuang dulu,
yang gugur demi merdeka,
aku bersumpah menjaganya.
Indonesia, engkau rumahku,
tempat cinta tumbuh tanpa ragu,
meski badai datang menerpa,
aku tak akan pernah menyerah,
akan kujaga persatuan ini,
hingga akhir hayatku nanti.
Aku berjanji pada negeri,
tak akan mengkhianati ibu pertiwi,
dengan langkah kecilku ini,
akan kubangun masa depan,
yang adil dan penuh harapan,
untuk generasi yang datang.
Dalam perbedaan kita berdiri,
dalam keberagaman kita kuat,
takkan kubiarkan perpecahan,
merusak indahnya persatuan,
karena kita satu Indonesia,
tak terpisah oleh apa pun.
Ini janjiku, wahai negeriku,
akan kujaga namamu selalu,
dengan hati yang tulus dan teguh,
kuabdi tanpa pamrih,
hingga waktuku telah usai,
Indonesia tetap abadi.
Palembang, 11 April 2026
PERCAYALAH PADA MIMPIKU
Karya:M.Rizky Rafael
Di sunyi malam aku berlari
mengejar bayang harapan diri
meski langkah terasa lelah
aku tetap melangkah gagah
karena mimpi takkan mati
selama hati masih berani
Percayalah pada mimpiku
yang kupeluk dalam kalbu
meski dunia tak mengerti
aku tetap teguh berdiri
kan kubuktikan suatu hari
mimpi ini bukan ilusi
Angin ragu sering datang
menggoyahkan hati yang tenang
namun aku takkan goyah
meski jalan terasa payah
karena di ujung sana
cahaya harapan menanti nyata
Langkah kecil terus melaju
meski tertatih tak tentu
kuatkan hati dan keyakinan
hadapi segala tantangan
karena mimpi butuh usaha
bukan hanya kata semata
Percayalah pada mimpiku
akan kuraih tanpa ragu
hingga waktu menjadi saksi
perjuangan yang tak henti
dan saat mimpi jadi nyata
aku tersenyum penuh bahagia
Palembang, 11 April 2026
AYAH DAN BUNDA TERCINTA
Karya:M.Rizky Rafael
Di pelukan kasih kalian aku tumbuh
dengan cinta yang tak pernah runtuh
dari langkah kecil yang rapuh
kalian tuntun tanpa mengeluh
hingga aku mampu berdiri
menjalani hidup hari demi hari
Ayah dengan keringat dan doa
bunda dengan kasih yang nyata
kalian berjuang tanpa lelah
meski hati kadang gelisah
semua demi kebahagiaanku
yang tak pernah kalian minta balasannya
Di setiap doa yang terucap
terselip harapan yang tak pernah lenyap
kalian jaga aku sepenuh jiwa
dalam suka maupun duka
menjadi pelita dalam gelap
dan penenang saat aku terlelap
Maaf jika aku sering salah
membuat hati kalian gelisah
namun cinta kalian tetap ada
tak pernah berubah arah
menjadi kekuatan terbesar
dalam setiap langkah yang kujalani
Ayah dan bunda tercinta
izinkan aku berjanji setia
akan kubahagiakan kalian
dengan usaha dan pengorbanan
hingga kelak di masa depan
kalian bangga melihatku bertahan
Palembang, 11 April 2026
Tenangnya Bisikan Alam
Karya: Genio Vallentino
Kelas: X.3
Nomor Absen: 11
Pagi datang membawa cahaya
Menyinari bumi yang nyata
Angin berhembus dengan lembut
Menyapa hati yang kalut
Dan alam seakan berkata
Tentang hidup yang sederhana
Burung bernyanyi di pepohonan
Mengisi sunyi dengan keindahan
Langit biru tanpa batas
Menyimpan harapan yang luas
Dan aku belajar dari alam
Tentang tenang dalam diam
Air mengalir tanpa henti
Mengajarkan arti berbagi
Bahwa hidup harus terus berjalan
Meski banyak rintangan
Dan semua yang terjadi
Adalah bagian dari harmoni
Namun manusia sering lupa
Merusak tanpa rasa
Padahal alam memberi segalanya
Tanpa meminta balasannya
Dan kita hanya bisa memakai
Tanpa pernah menghargai
Kini saatnya kita sadar
Menjaga alam dengan sabar
Karena bumi adalah rumah
Yang harus kita jaga bersama
Agar generasi selanjutnya
Masih bisa merasakan indahnya
Palembang, 13 April 2026
Rindu Tak Pulang
Karya: Genio Vallentino
Kelas: X.3
Nomor Absen: 11
Malam datang tanpa suara
Membawa sunyi yang terasa
Namamu terukir dalam diam
Mengalun lirih di setiap malam
Langkahku kini terasa berat
Tanpamu hidup terasa penat
Angin berbisik pelan sekali
Menyebut kisah yang tlah pergi
Bayangmu hadir dalam sepi
Mengisi ruang di dalam hati
Namun semua tinggal cerita
Yang tak mungkin kembali nyata
Langit kelabu ikut menangis
Melihat hati yang terkikis
Kenangan datang silih berganti
Menghantui langkahku sendiri
Dan aku hanya bisa diam
Menahan rindu yang terpendam
Waktu berjalan tanpa peduli
Membawa jauh semua ini
Namun rasa tetap bertahan
Meski hati penuh tekanan
Dan aku masih di sini
Menanti yang tak kembali
Biarlah semua jadi kenangan
Meski pahit tetap ku kenang
Karena darimu aku belajar
Tentang luka dan juga sabar
Bahwa kehilangan mengajarkan
Untuk menjaga setiap perasaan
Palembang, 13 April 2026
Tentang Kita Pernah Bersama
Karya: Genio Vallentino
Kelas: X.3
Nomor Absen: 11
Tawa kita masih terdengar
Di antara waktu yang memudar
Langkah kita pernah sejalan
Dalam canda dan harapan
Hari-hari terasa ringan
Karena ada kalian di sampingku
Kita berbagi cerita sederhana
Tentang mimpi dan rasa yang sama
Tak ada jarak di antara kita
Semua terasa begitu nyata
Meski dunia kadang berbeda
Kita tetap saling menjaga
Namun waktu terus berjalan
Membawa kita pada tujuan
Perlahan jarak mulai terasa
Menghapus jejak tawa lama
Dan kini hanya tersisa
Kenangan yang tak terlupa
Jika suatu hari kita bertemu
Aku ingin kembali seperti dulu
Tanpa beban tanpa rasa ragu
Menjalani hari bersama kamu
Karena bagiku persahabatan
Adalah rumah penuh kehangatan
Walau kini kita terpisah
Aku tetap menyimpan kisah
Tentang kita yang pernah ada
Yang tak akan hilang selamanya
Karena sahabat sejati
Tak pernah benar-benar pergi
Palembang, 13 April 2026
Peluk Tak Tergantikan
Karya: Genio Vallentino
Kelas: X.3
Nomor Absen : 11
Di rumah sederhana ini
Aku menemukan arti diri
Ada cinta tanpa syarat
Yang selalu hadir dan kuat
Dalam lelah dan juga luka
Mereka tetap ada untukku
Suara lembut memanggil namaku
Menjadi penenang dalam hidupku
Tangan hangat yang menggenggam
Saat dunia terasa kelam
Dan pelukan yang sederhana
Mampu menghapus segala duka
Tak pernah mereka meminta
Balasan dari semua cinta
Hanya doa yang selalu ada
Mengiringi langkahku ke mana
Dan aku sering tak menyadari
Betapa besar arti mereka di hati
Kini aku mulai mengerti
Tentang arti memiliki
Bahwa keluarga adalah segalanya
Tempat pulang yang sebenarnya
Yang tak akan pernah terganti
Walau dunia silih berganti
Aku ingin menjadi alasan
Untuk mereka tersenyum bangga
Membalas semua pengorbanan
Dengan usaha dan harapan
Karena cinta keluarga
Adalah anugerah terindah
Palembang, 13 April 2026
Putih Abu
Karya: Genio Vallentino
Kelas: X.3
Nomor Absen: 11
Seragam putih abu menjadi saksi
Tentang hari-hari yang berarti
Di ruang kelas kita bertemu
Mengejar mimpi yang semu
Dengan tawa yang sederhana
Kita jalani hari bersama
Suara guru bergantian mengisi pagi
Menjadi ilmu yang berarti
Meski kadang terasa lelah
Namun semua tak sia-sia
Karena di balik semua itu
Ada cerita yang akan dirindu
Kita bercanda tanpa batas
Mengisi waktu yang terbatas
Tak peduli esok bagaimana
Yang penting hari ini bahagia
Dan semua terasa ringan
Saat dijalani bersama teman
Namun waktu tak pernah diam
Membawa kita perlahan tenggelam
Dalam perpisahan yang nyata
Yang tak bisa kita hindari akhirnya
Dan semua akan berubah
Menjadi kenangan yang indah
Kelak saat kita dewasa
Aku ingin kita mengingat semua
Tentang masa putih abu
Yang pernah kita lalui dulu
Karena di sanalah kita belajar
Tentang hidup dan juga sabar
Palembang, 13 April 2026
HARMONI ALAM YANG LESTARI
Karya : Maria Inditya Kirana
Bumi ini rumah kita semua,
tempat berpijak dan bernapas lega,
langit biru dan udara segar,
adalah anugerah yang tak ternilai harganya,
setiap sudutnya menyimpan keindahan,
yang harus kita jaga dengan kesadaran.
Pohon-pohon berdiri memberi kehidupan,
daunnya hijau meneduhkan harapan,
akar kuat menahan tanah dari kerusakan,
menjadi penjaga keseimbangan alam,
jangan biarkan hutan hilang begitu saja,
karena keserakahan manusia semata.
Sungai mengalir jernih dan tenang,
menjadi sumber kehidupan yang panjang,
airnya memberi harapan bagi banyak makhluk,
menghidupi ladang dan juga tubuh,
namun kini mulai tercemar perlahan,
oleh ulah manusia yang tak bertanggung jawab.
Mari kita mulai dari hal kecil,
membuang sampah pada tempat yang benar,
mengurangi plastik dalam kehidupan,
dan menjaga kebersihan lingkungan,
langkah sederhana penuh makna,
demi bumi yang tetap terjaga.
Jika kita menjaga bumi ini,
bumi pun akan menjaga kita kembali,
lingkungan lestari dan penuh cinta,
menjadi harapan di masa depan kita,
warisan indah untuk generasi nanti,
agar mereka tetap bisa menikmati.
Palembang, 10 April 2026
ULURAN TANGAN UNTUK SESAMA
Karya : Maria Inditya Kirana
Di sudut jalan kulihat pilu,
wajah lelah penuh sendu,
langkahnya lemah tanpa arah,
menahan hidup yang terasa berat,
mata mereka menyimpan cerita,
tentang luka yang tak terlihat nyata.
Mereka bukan tanpa harapan,
hanya terluka oleh keadaan,
hidup keras menguji jiwa,
namun hati mereka tetap berharga,
di balik diam tersimpan doa,
agar esok lebih baik dari sebelumnya.
Jangan berpaling saat melihat,
derita yang jelas di depan mata,
sedikit peduli, sedikit berbagi,
mampu menghangatkan hati yang sepi,
meski kecil arti bantuan kita,
namun besar bagi mereka yang menerimanya.
Ulurkan tangan tanpa ragu,
ringankan beban yang mereka pikul,
hadirkan senyum di wajah yang muram,
hapuskan luka walau perlahan,
karena kebaikan sekecil apa pun,
akan terasa sangat mendalam.
Mari hadirkan cinta di dunia,
untuk mereka yang sedang terluka,
agar senyum kembali merekah,
dan harapan tumbuh kembali indah,
bersama kita ciptakan kepedulian,
menjadi cahaya dalam kehidupan.
Palembang, 10 April 2026
UNTUK NUSA DAN BANGSA
Karya : Maria Inditya Kirana
Di tanah ini aku berpijak,
tempat harapan mulai merekah,
angin berbisik tentang sejarah,
perjuangan panjang penuh makna,
jejak para pahlawan terasa dekat,
menguatkan langkah untuk tetap semangat.
Bumi pertiwi begitu kaya,
alam indah anugerah nyata,
dari laut hingga pegunungan,
tersimpan cinta dalam kebanggaan,
hamparan hijau dan biru mempesona,
menjadi identitas bangsa kita.
Beragam suku dan budaya,
bersatu dalam satu jiwa,
perbedaan bukan pemisah,
melainkan kekuatan yang indah,
dalam keberagaman kita berdiri,
menjaga persatuan negeri ini.
Mari kita jaga bersama,
warisan bangsa yang berharga,
dengan semangat dan karya nyata,
mengharumkan nama Indonesia,
melalui usaha dan doa,
kita wujudkan masa depan yang cerah.
Untuk nusa dan bangsa tercinta,
kita berdiri penuh setia,
mengabdi dengan tulus hati,
demi masa depan yang abadi,
janji terpatri dalam jiwa,
untuk selalu mencintai Indonesia.
Palembang, 10 April 2026
KASIH SEPANJANG MASA
Karya : Maria Inditya Kirana
Di setiap langkah kecil yang kujalani,
ada doa yang tak pernah berhenti,
bahkan kau sembunyikan di balik senyuman,
demi aku yang terus kau perjuangkan,
kasihmu hadir tanpa kata,
menguatkanku dalam segala rasa.
Tanganmu yang dulu menggenggam erat,
mengajarkanku arti hidup dan harapan,
meski waktu perlahan melemahkan,
langkahmu tak pernah hilang arah,
pengorbananmu tak tergantikan,
menjadi alasan aku bertahan.
Pelukanmu adalah rumah ternyaman,
tempat semua sedihku perlahan reda,
air matamu jatuh tanpa aku tahu,
hanya demi melihatku bahagia,
kau simpan luka dalam diam,
demi senyumku yang kau jaga.
Aku bangga memanggilmu orang tuaku,
pahlawan tanpa tanda jasa di hidupku,
setiap nasihatmu jadi arah jalanku,
menuntunku menjadi pribadi yang lebih baik,
dalam setiap langkah dan pilihan,
kau selalu jadi alasan kebaikan.
Kini kuberjanji dalam diam,
akan kubalas semua cinta yang kau beri,
dengan usaha, doa, dan ketulusan hati,
agar kau bangga suatu hari nanti,
tak akan kusia-siakan harapanmu,
karena hidupku adalah bukti untukmu.
Kasihmu abadi sepanjang masa,
tak lekang oleh waktu yang berlalu,
menjadi cahaya dalam gelapku,
dan pelita dalam setiap langkahku,
terima kasih atas segalanya,
engkaulah cinta yang paling nyata.
Palembang, 10 April 2026
WARNA DI MATAMU
Karya : Maria Inditya Kirana
Hari itu langit tampak berbeda,
seolah warna datang tanpa diminta,
senyummu hadir seperti cahaya,
mengubah biasa jadi istimewa,
langkahku pun terasa ringan,
sejak kamu jadi tujuan.
Tatapanmu seperti pelangi,
muncul setelah hujan di hati,
pelan-pelan aku mulai mengerti,
ini rasa yang tak pernah kumiliki,
hangatnya diam-diam menyapa,
membuatku terus bertanya.
Kita tertawa tanpa alasan pasti,
hanya karena hal kecil yang berarti,
bersamamu waktu terasa berlari,
namun ingin kuulang setiap hari,
cerita sederhana jadi berkesan,
karena kamu ada di dalamnya, diam-diam.
Namamu kini sering kusebut diam-diam,
hadir di pikiranku setiap malam,
seperti warna yang tak ingin hilang,
menjadi cerita yang terus terulang,
dalam sunyi kamu tetap terasa,
meski hanya lewat angan semata.
Jika ini hanya cinta remaja,
biarkan saja tetap indah adanya,
seperti pelangi yang tak selamanya,
namun selalu dirindukan warnanya,
meski nanti akan berlalu,
kenangan ini tetap menyatu.
Palembang, 10 April 2026
JEJAK CINTA PERTAMA
karya : Tm Rendy Tamtama
Di lorong sekolah yang penuh cerita
kita saling sapa tanpa banyak kata
senyum kecil jadi awal segalanya
cinta tumbuh diam-diam di dada
hari-hari terasa lebih berwarna
hadirmu memberi makna sederhana.
Tatapan mata menyimpan rahasia
degup jantung tak bisa berdusta
setiap langkah terasa berbeda
seakan dunia hanya milik kita
waktu berjalan begitu cepatnya
namun rasa ini kian nyata.
Namun ragu sering ikut menyapa
antara takut dan harapan yang ada
cinta ini masih belajar dewasa
di antara tawa dan air mata
langkah kita kadang tak seirama
namun hati tetap ingin bersama.
Kita ukir janji meski sederhana
tentang setia yang belum tentu nyata
waktu berjalan menguji rasa
apakah bertahan atau sekadar cerita
hari berganti membawa tanya
akankah kisah ini tetap terjaga.
Jika nanti jalan kita berbeda
kenangan ini tetaplah berharga
semua tawa takkan terlupa
meski akhirnya harus berpisah arah
karena cinta di masa remaja
adalah pelajaran paling bermakna.
palembang, 11 April 2026
DI BALIK LAYAR DIGITAL
Karya : Tm Rendy Tamtama
Layar kecil membuka dunia
semua hadir dalam sekejap saja
informasi datang tanpa jeda
mengalir cepat tanpa arah jelas
namun di balik derasnya berita
tersimpan tanya dalam hati kita.
Teknologi hadir memudahkan
mendekatkan yang berjauhan
langkah terasa ringan dijalankan
segala urusan cepat diselesaikan
namun tanpa sadar perlahan
yang dekat justru terabaikan.
Kata-kata bebas bertebaran
di ruang maya tanpa batasan
semua ingin menyampaikan
tanpa pikir panjang akibatnya
sedikit salah bisa melukai
meski tak pernah saling menemui.
Anak muda larut di dalamnya
waktu hilang tanpa terasa
hari-hari habis di dunia maya
realita pun mulai terlupa
antara nyata dan semu
batasnya kini makin abu-abu.
Bijaklah melangkah ke depan
gunakan digital dengan kesadaran
pilah informasi dengan tepat
jangan mudah ikut tersesat
agar kemajuan yang kita genggam
tak membuat hati tenggelam.
palembang, 11 April 2026
LANGKAH DI UJUNG HARAPAN
Karya : Tm Rendy Tamtama
Di jalan sunyi penuh tanda tanya
langkahku tertatih menembus ragu
angin membawa kabar tak pasti
tentang esok yang belum tentu
bayang resah kerap menghampiri
namun hati enggan berhenti.
Norma berdiri sebagai penuntun arah
di tengah arus yang kadang menggoda
antara benar dan salah berkelindan
menuntut diri tetap waspada
agar langkah tak mudah goyah
dan tak hilang arah dalam dunia.
Tantangan datang silih berganti
mengikis kuat, menguji jiwa
kadang lelah ingin menyerah
seakan beban tak lagi ringan
namun harapan terus menyala
menjadi cahaya dalam gelapnya rasa.
Ke depan terbentang jalan panjang
penuh pilihan dan keputusan,
setiap langkah harus bermakna
dengan tekad yang terus dijaga
berpijak pada nilai kehidupan
agar tak tersesat oleh keinginan.
Maka kupegang teguh keyakinan
bahwa hidup adalah perjuangan
dengan norma sebagai pegangan
melangkah pasti menuju tujuan
meski badai datang menghadang
aku tetap teguh dan bertahan.
Palembang, 11 April 2026
KASIH TAK PERNAH USAI
Karya: Tm Rendy Tamtama
Di setiap langkah yang kujalani
ada doa yang kau selipkan
tanpa lelah kau menjaga
dengan cinta yang tak terucapkan
dalam diam kau berkorban
demi bahagiaku sepanjang jalan.
Waktu berlalu begitu cepat
ku tumbuh dalam hangat kasihmu
keringat dan air mata kau sembunyikan
demi bahagia hidupku
tanpa pernah mengeluh lelah
kau kuatkan aku setiap waktu.
Sering ku lupa membalas semua
pengorbanan yang tak terhitung
namun engkau tetap tersenyum
meski hati mungkin tersentuh
tak pernah kau menuntut balasan
hanya ingin melihatku tumbuh.
Kini ku sadar arti hadirmu
sebagai cahaya dalam hidupku
orang tua, engkaulah segalanya
yang tak terganti oleh waktu
dalam setiap doa yang kupanjatkan
namamu selalu menyatu.
Izinkan aku membalas cinta
meski takkan pernah sebanding
kan kujaga dan kuhormati
dengan tulus dan sepenuh hati
hingga akhir waktu mendampingi
dalam baktiku yang takkan henti.
Palembang, 11 April 2026
CINTA NUSA DAN BANGSA
Karya: Tm Rendy Tamtama
Di tanah yang kupijak penuh makna
terhampar indah nusa tercinta
dari Sabang sampai Merauke bersatu
dalam satu jiwa dan rasa
keindahan alam jadi saksi
cinta tumbuh dalam jiwa kita.
Angin membawa kisah perjuangan
tentang darah dan pengorbanan
para pahlawan menjaga negeri
dengan jiwa penuh pengorbanan
demi tegaknya kemerdekaan
yang kini kita rasakan.
Di tengah zaman yang terus berubah
cinta bangsa jangan memudar
meski godaan datang melanda
arus dunia kian menggoda
tetap setia dan terus sadar
bahwa negeri ini milik bersama.
Mari menjaga persatuan
dengan hati penuh kepedulian
menghargai setiap perbedaan
sebagai kekuatan bangsa
bergandeng tangan dalam kebersamaan
menuju masa depan sejahtera.
Kuucapkan janji dalam diri
untuk setia mengabdi negeri
dengan karya dan prestasi
demi harum nama bangsa
kan kujaga tanah air ini
hingga akhir hayat nanti.
TANAH LAMA
Karya: Valentina Gracia Kirana
Hamparan sajak berbaris ria
Mencipta sejarah di masa jaya
Bambu runcing tanda bahaya
Mendarat bebas bagai mulut buaya
Tak kenal lelah, tak kenal rupa
Terbelalak mata para penakluk
Kelam sudah sajak bercerita
Biar lelah negeri ini berakhir
Hidup kembali dalam pelita
Dipeluknya sang penyair
Hingga terucap getar Indonesia
Membasuh luka menuju akhir
Tumbuh sudah tunas bangsa ini
Dipangku hangat oleh Ibu Pertiwi
Berakar kuat ke penjuru bumi
Mengalir deras laksana air
Mengusik hati, menggugah nurani
Milik siapa negeri elok ini?
Disaut oleh sang merah
Dipapah oleh sang putih
Terjalin satu, dalam satu janji
Tegak sudah bangsa ini
Makin dicinta, makin berani
Tak ada yang bisa menghakimi
Termangu aku dibuatnya
Dalam detak nadi, aku berjanji
Meski diterpa desir bahaya
Tetap kusemai negeri ini
Di tengah riuh akan kujaga
Bagaimana akhirnya, biarlah nanti
Palembang, 30 Maret 2026
MATAHARI DARI SELATAN
Karya: Valentina Gracia Kirana
Tak kusangka aku beruntung
Merasa berutang pada sang pencipta
Telah kudapati diriku tenang
Saat kulihat dua pasang mata
Teduhnya jatuh di relung kalbu
Menghapus resah yang dulu memburu
Bergantian mereka membelaiku
Diasuh terus tiada henti
Bagai cahaya dalam gelap
Ditimang dan disayang setiap waktu
Hangatnya meresap tanpa jeda
Menjadi pelita dalam jiwa
Mengalahkan sinar matahari dari barat
Yang satu ini jauh lebih hangat
Disemaikan cinta dihidupku
Hingga aku merasa cukup
Tumbuh perlahan tanpa ragu
Menguatkan langkah yang semu
Jutaan tahun jauh lebih kuat
Meski terhalang oleh supernova
Memutarbalikkan jutaan fakta
Menyimpan lara di balik raga
Namun kasih tak pernah reda
Tetap utuh sepanjang masa
Badai sering menerpa
Membuat harapan pupus sirna
Namun kembalilah mereka
Melukis senja menahan luka
Menguatkan hati yang terluka
Menjaga asa tetap menyala
Beribu maaf tak kusampaikan
Perlahan terbuang oleh waktu
Melalui mentari kusampaikan pesan
Jika besok masih tak sempat
Izinkan kata ini tersimpan rapi
Menjadi doa yang tak terucapi
Palembang, 30 Maret 2026
SORAK
Karya: Valentina Gracia Kirana
Beribu hari telah kulalui
Beribu malam telah kuarungi
Larut tenggelam dalam sunyi
Terus menetap dalam kubah tak berdosa
Ombak menerkam membabi buta
Membasuh langit lantas reda
Terhempas waktu yang tak henti
Menyulam duka dalam sepi
Namun bara tak kunjung mati
Menyala lirih di dasar hati
Walau rapuh langkah ini
Aku bertahan sampai nanti
Menuntut bagai burung lapar
Siang malam berkicau tanpa henti
Liar terbawa angin
Menggulung suara tak berhenti
Menggema memenuhi bumi
Menyesak ruang, mengusir sunyi
Gores tinta mencipta makna
Menuntut hidup bak putri raja
Sihir merambat dalam kata
Berujung luka yang nyata
Buang angkuh yang membara
Kembali sederhana, merengkuh jiwa
Lirih hati kuratapi di ujung lelah
Beranjak tak peduli pada tuntutan
Kubiarkan suara sumbang menjauh sudah
Tak lagi goyah oleh penilaian
Kutempa diri dalam keyakinan
Aku berdiri tanpa butuh pengakuan
Palembang, 30 Maret 2026
ILMU MATI
Karya: Valentina Gracia Kirana
Kata orang ilmu pelita harapan
Lantas di mana itu sekarang?
Kata orang keadilan berada di garda terdepan
Lantas mengapa banyak pengangguran?
Janji berulang tanpa jawaban
Nyata hilang ditelan zaman
Ucap janji manis berkerubung semut
Hinggap di sarang tanpa sang induk
Berlapis kertas beribu tumpuk
Mengacau jalan berakhir lambat
Waktu tergerus tanpa rujuk
Harap memudar kian surut
Berbeda dongeng, berbeda mulut
Barang siapa menuntut akan ditutup
Satu berbicara tak luput,
Yang lain enggan mengatup
Kebenaran perlahan surut
Suara jujur kian terkutuk
Sajak irama berhamburan, tak beraturan
Lantas siapa yang harus diikuti?
Lantas siapa yang harus dipedomani?
Inikah tonggak keadilan?
Arah hilang tanpa tuntunan
Nurani redup dalam tekanan
Penuh menuntut namun tak menuntun
Air sudah menjadi lumpur panas
Lantas siapa yang pantas?
Selau memulai, tak pernah sejalan
Langkah goyah tanpa tujuan
Janji runtuh tanpa balasan
Berbui-bui kau ucap puisi
Beribu hati kau sakiti
Demi pendidikan yang tinggi
Mereka rela menanti hingga mati
Harap tersisa dalam sepi
Menggantung pilu di relung hati
Palembang, 30 Maret 2026
TUAN RUMAH
Karya: Valentina Gracia Kirana
Langit bergejolak riuh
Angin melambai kepada penakluk
Malam kala itu penuh sajak
Tuan rumah beranjak dari tempat
Menyisakan bumi dalam gelisah
Terhimpit luka yang kian parah
Hutan merintih tanpa suara
Daun gugur membawa duka
Sungai keruh kehilangan arah
Ikan-ikan bisu dalam resah
Tanah retak memanggil hujan
Namun langit enggan menurunkan
Siapa lagi penjaga semesta ini?
Jika manusia lupa diri
Menebang tanpa hati nurani
Membakar tanpa peduli
Padahal bumi rumah bersama
Tempat hidup sepanjang masa
Mari kita mulai dari diri
Menanam harap di tanah ini
Menjaga air, udara, dan api
Agar tetap lestari abadi
Langkah kecil berarti besar
Bila dijaga dengan sabar
Kelak bumi kembali bernyanyi
Hijau tumbuh menghiasi bumi
Langit cerah tanpa tangis lagi
Alam damai memeluk harmoni
Cinta tumbuh dari kepedulian
Menjadi warisan kehidupan
Palembang, 30 Maret 2026
DIBALIK SERAGAM
Karya Yordanus Yudananta Arkazeta
Dasi ini melilit leherku hingga rasa ingin mati
Tiap langkahmu membuat jantungku berdetak tak henti
Baju disetrika rapi agar dipandang paling keren
Namun bila di depanmu, mentalku langsung absen
Seragam ini sebagai saksi bisu dimana diriku hanya memandang
Cintaku kepadamuamat luas, seluas samudra membentang.
Topi sekolah kugunakan untuk menutupi muka yang merona
Gaya seakan cuek padahal hatiku sudah kena guna-guna
Sepatu hitam ini lelah mondar-mandir depan kelasmu
Berharap ada keajaiban supaya kita bisa cepat bertemu
Meskipun guru berkata bahwa belajar itu nomor satu di dunia
Tapi bagiku, senyummu itu kurikulum paling bahagia.
Saku bajuku penuh coretan pulpen yang tak karuan
Isinya hanya namamu yang kutulis penuh perjuangan
Buku catatan isinya rumus fisika yang bikin pusing
Tapi kalau soal kamu, logikaku otomatis merasa asing
Rinduku ini lebih berat dari tas punggung yang kubawa
Membuat diriku gila hingga rasa ingin meledak seluruh jiwa.
Bel pulang sekolah berbunyi seperti musik yang paling indah
Namun melihatmu pulang lebih awal membuat hatiku menjadi rendah
Seragam ini esok akan kotor oleh noda keringat dan debu
Sama seperti perasaanku setiap waktu hanya menumpuk padamu
Aku rela dihukum lari keliling lapangan seribu kali
Asal di garis finish, ada dirimu yang menungguku kembali.
Esok hari aku tetap memakai seragam yang sama lagi
Berharap keberuntungan cinta tak akan terganti
Walau seragam kita kembar tapi status tetap beda
Aku bakal berjuang hingga rasa sakit ini menjadi reda
Di balik kain ini ada cinta tersembunyi yang tak terungkap
Hanya untukmu, satu-satunya bidadari bersayap.
Palembang, 13 April 2026
TUBUHKU MULAI MERAPUH
Karya Yordanus Yudananta Arkazeta
Di balik rusuk yang mulai menderu lebam
Hutan-hutan paru pun kian meranggas diam
Oksigen menipis dalam helaan yang kian kelam
Seperti gambut yang membara di perut malam.
Aku adalah tanah yang retak menunggu padam
Menyimpan sisa hijau yang perlahan tenggelam.
Sendi-sendi ini kaku bagai karang yang mati
Memutih pucat tersapu asam di dasar hati
Arus darah mendingin, kehilangan arah bakti
Seperti samudera yang kini sunyi tanpa peri.
Keajaiban biologis luruh dalam sepi yang pasti
Meninggalkan jejak rapuh yang tak lagi berarti.
Sarafku bergetar layaknya lempeng bumi yang tua
Menunggu saat runtuh dalam denting doa yang jua
Setiap saraf adalah sungai yang tercemar duka
Mengalirkan racun ke seluruh rongga dan muka.
Ekosistem diri kini sedang menanggung luka
Menanti kepunahan yang datang membuka cakrawala.
Rambutku gugur bak daun-daun kering di musim lara
Tanah tubuh tak lagi subur dipanggang bara udara
Kalsium di tulang mengeropos, hilang rasa dan karsa
Seperti gunung es yang mencair ditelan masa.
Tak ada lagi rumah bagi flora dan fauna jiwa
Hanya tersisa rongsokan daging yang kian kecewa.
Langkahku melambat seiring punahnya keanekaragaman
Di dalam diri, simfoni alam perlahan kehilangan zaman
Kehancuran ini bukan lagi sekadar kiasan atau ramalan
Namun ekologi raga yang lelah menempuh perjalanan.
Aku dan bumi, dua raga dalam satu pemakaman
Bersatu dalam kerapuhan yang enggan mencari ketenangan.
Palembang, 13 April 2026
PELITA IBU PERTIWI
Karya Yordanus Yudananta Arkazeta
Di dahi pertiwi, cahaya pelita mulai meredup
Menyaksikan rimba yang dulu rimbun kini menutup
Asap mengepul, menyesakkan dada yang kian gugup
Bak lumbung nyawa yang terengah untuk tetap hidup.
Kilau emas khatulistiwa kini seolah tertutup
Oleh kerak keserakahan yang tak pernah cukup.
Sumbu pelita itu adalah sungai yang kian menghitam
Membawa limbah ke muara yang penuh dendam diam
Ikan-ikan kecil mengambang dalam duka yang tajam
Seperti mutiara yang pudar di dasar laut yang kelam.
Ibu Pertiwi merintih dalam sujud yang paling dalam
Saat air matanya berubah menjadi racun yang lebam.
Cahaya remang itu menyinari tanah yang mulai gersang
Tempat akar beringin tak lagi mampu berdiri tegang
Keanekaragaman hayati sirna, tercerai dan hilang
Bagaikan sayap-sayap burung yang patah saat terbang.
Pelita ini bergetar ditiup angin badai yang garang
Menandakan keseimbangan alam yang kian timpang.
Minyak pelita adalah keringat petani yang kini mengering
Di atas sawah retak, tempat belalang enggan berdering
Ekosistem yang asri kini tinggal cerita yang miring
Tersingkir oleh beton-beton angkuh yang berderet iring.
Kita adalah penjaga lampu yang tertidur miring
Membiarkan rumah sendiri hancur berkeping-keping.
Namun pelita ini belum sepenuhnya padam tertiup masa
Masih ada nyala kecil di balik dada yang penuh karsa
Memulihkan hijau hutan agar bumi kembali terasa
Menjaga napas nusantara dari kehancuran yang nista.
Mari jadikan raga ini benteng bagi alam yang binasa
Agar cahaya Ibu Pertiwi abadi sepanjang segala masa.
Palembang, 13 April 2026
PELANGI DI TANAH NUSANTARA
Karya Yordanus Yudananta Arkazeta
Bentang pulau merajut satu ikatan kasih nan murni
Menyemai harmoni di antara belantara budaya yang asri
Ibarat ekosistem purba yang menjaga keseimbangan lini
Keberagaman adalah nafas yang menghidupi relung nurani.
Kita berdiri di atas tanah pusaka dengan tekad berani
Memastikan persatuan tetap tegak melintasi zaman fana ini.
Warna kulit dan dialek menjadi simfoni yang selaras
Melukis keindahan tanpa harus ada ego yang merasa keras
Bagaikan keanekaragaman hayati yang tumbuh subur dan ceras
Rantai persaudaraan ini takkan putus oleh badai yang tuntas.
Setiap rupa adalah permata yang membuat peradaban berhias
Menghalau gersangnya kebencian agar kasih kembali meluas.
Keyakinan berbeda mengalir bak sungai menuju samudra
Menyuburkan gersang hati dengan sejuknya air pancatantra
Simbiosis jiwa ini membentuk benteng bagi nusantara
Melindungi habitat sosial dari kepunahan rasa dan citra.
Cinta adalah hara yang meresap ke dalam sumsum sukma
Menumbuhkan karsa mulia di bawah langit yang sarat makna.
Adat istiadat meliuk anggun dalam gerak yang puitis
Menjadi paru-paru sejarah yang menjaga nafas tetap kritis
Layaknya interaksi biotik yang menjauhkan langkah statis
Kita berkolaborasi menciptakan masa depan yang sangat optimis.
Tak ada sekat yang mampu membelah jalinan paling genetis
Sebab toleransi adalah bahasa pemersatu yang paling praktis.
Kini saatnya merawat ekologi bangsa dengan tangan tulus
Agar kelestarian damai tak tergerus oleh ego yang haus
Nusantara adalah taman surga tempat kasih mengalir mulus
Menghubungkan setiap perbedaan dalam pelukan yang lurus.
Mari bertumbuh menjadi pelindung yang takkan pernah pupus
Menjaga kejayaan pertiwi hingga seluruh raga menjadi kudus.
Palembang, 13 April 2026
PANGGUNG SANDIWARA KUASA
Karya Yordanus Yudananta Arkazeta
Di atas singgasana yang kian meninggi tegak
Kebijakan lahir dalam naskah yang tampak retak
Fungsi pengawasan membisu bak ekosistem yang sesak
Saat suara parlemen kehilangan taji untuk berteriak.
Demokrasi kini terengah di antara ambisi yang tamak
Menyisakan celah lebar bagi otoritarianisme yang merebak.
Aturan dirajut di balik tirai yang kedap udara
Tanpa melibatkan rakyat yang menanggung duka lara
Bagaikan eksploitasi hutan yang mengabaikan flora
Politik hukum bergeser demi investasi yang sarat karsa.
Mandat kedaulatan seolah terjebak dalam pusara
Oleh wacana elit yang ingin meredam bisingnya suara.
Simbiosis penguasa kini melampaui batas kewajaran
Mengabaikan riset ilmiah demi mengejar sebuah capaian
Bencana ekologis pun hadir sebagai bentuk teguran
Atas kebijakan publik yang kehilangan arah dan tujuan.
Konstitusi ditekuk dalam dinginnya ruang-ruang negosiasi
Menciptakan polusi etika di tengah krisis yang beresonansi.
Cek dan ricek kini menjadi barang mewah nan langka
Saat kritisnya kampus dibungkam dengan wajah-wajah duka
Ibarat rantai makanan yang terputus di ambang celaka
Keseimbangan bangsa sedang menanggung beban yang luka.
Transparansi pudar tertutup kabut kepentingan yang murka
Menghapus jejak keadilan yang seharusnya tetap terbuka.
Namun nurani pertiwi tak boleh sepenuhnya menjadi debu
Di tengah penyimpangan yang kian membuat langkah jadi kaku
Pemulihan ekologi politik adalah tugas yang harus menyatu
Menata kembali akar hukum agar tak lagi menjadi semu.
Mari reboisasi demokrasi dengan kejujuran yang bermutu
Agar cahaya kebenaran kembali bertahta di langit yang biru.
Palembang, 13 April 2026
MERAWAT NAPAS BUMI
Karya: Citra Kirana
Sungai jernih dahulu membawa tenang,
Mengalir sejuk menyentuh seluruh raga,
Ikan-ikan menari di sela batu yang terang,
Namun kini sampah plastik mulai mengambang,
Membuat ekosistem tak lagi bisa terjaga,
Alam asri kini perlahan hanya tinggal kenang.
Udara segar kini menjadi barang mahal,
Tertutup kabut asap hitam hingga jelaga,
Keserakahan manusia memang kian nakal,
Merusak ozon hingga ke akar yang pangkalan,
Hingga alam tak lagi dianggap berharga,
Tinggalkan jejak luka pedih yang kekal.
Dahulu permadani hijau nampak membentang,
Tempat burung-burung kecil bernyanyi ria,
Kini ribuan pohon perkasa banyak yang tumbang,
Suara gergaji mesin terdengar begitu lantang,
Terganti hutan beton dingin di mana-mana,
Hutan rimba yang asri kini telah menghilang.
Mari kita bersama menanam kembali benih,
Di atas tanah gersang yang lama merindu,
Hapuskan lara juga segala rasa sedih,
Agar alam kembali menjadi bersih dan jernih,
Supaya langit kembali menjadi biru,
Agar bumi pertiwi tak lagi terus merintih.
Air bening mengalir tenang di dalam kali,
Memberi napas hidup bagi semua yang ada,
Kini limbah industri datang silih berganti,
Membawa duka dan derita bagi dunia ini,
Bencana alam datang tanpa bersuara,
Alam harus dijaga dengan setulus hati.
Tanah yang kering meminta tetesan hujan,
Sebab rimba gundul habis terus dibabat,
Hilang sudah rimbun keteduhan pepohonan,
Hingga oksigen terasa berat menjadi beban,
Membuat napas dunia tak lagi terasa sehat,
Kini sesak di dada jadi beban pikiran.
Palembang, 30 Maret 2026
CAHAYA SANG JUARA
Karya: Citra Kirana
Berdiri tegak menatap dunia yang luas,
Di bawah langit biru yang sangat membentang,
Jiwa muda bergejolak penuh dengan ikhlas,
Tak perlu takut akan cela dunia yang buas,
Biarkan bakatmu tumbuh merdeka dan menang,
Agar sinarmu kian bercahaya dengan tegas.
Jangan pernah dengarkan suara-suara sumbang,
Yang mencoba menjatuhkan nyali di dalam dada,
Buanglah jauh segala ragu yang mengambang,
Hapuskan rasa bimbang yang membuatmu bimbang,
Sebab kau sangat berharga di antara mereka semua,
Hadapi tantangan dengan tenang dan pantang pulang.
Langkah kakimu haruslah sekuat baja,
Meneliti jalan panjang yang penuh dengan duri,
Siapkan diri menjadi sosok yang bersahaja,
Hadapi semua rintangan yang ada dengan manja,
Dengan senyuman indah di wajah yang berseri,
Jadilah pemenang sejati yang penuh dengan karsa.
Kau adalah bintang terang yang terus bersinar,
Punya warna unik yang takkan pernah pudar,
Tetaplah berjalan di atas garis yang benar,
Meski dunia terkadang membuatmu merasa nanar,
Jadikan mimpimu kian membaik dan memancar,
Meski dunia terasa sukar dan penuh dengan onar.
Bagai elang perkasa yang terbang sangat tinggi,
Membelah awan putih menuju puncak dunia,
Jangan biarkan semangatmu surut dan pergi,
Teruslah berjuang dengan niat yang murni,
Sebelum namamu tertulis tegak dengan mulia,
Menjemput mimpi-mimpi yang kau cari selama ini.
Mungkin badai besar akan datang menyapa,
Mencoba goyahkan pundakmu yang kian teguh,
Namun kau takkan pernah sedikitpun lupa,
Bahwa semangatmu adalah api yang membara,
Bahwa tekadmu takkan pernah menjadi luluh,
Sebab karsa di dalam jiwamu adalah segalanya.
Palembang, 30 Maret 2026
DI BAWAH LANGIT YANG SATU
Karya: Citra Kirana
Suara adzan dan lonceng syahdu bergema,
Dalam satu langit biru yang sangat teduh,
Kita hidup rukun beriringan bersama-sama,
Tanpa ada rasa benci yang tumbuh menjelma,
Tanpa ada dendam yang membuat hati keruh,
Saling menjaga dalam krama yang utama.
Di pelataran gedung tua yang menjadi saksi,
Kubah dan salib berdiri kokoh berdampingan,
Tak ada benci yang tumbuh di dalam jiwa suci,
Hati yang damai takkan roboh oleh ambisi,
Karena kita adalah saudara dalam perjuangan,
Menenun kasih dalam setiap langkah dan janji.
Di bawah satu langit luas yang membentang,
Terdengar doa dalam berbagai nada yang indah,
Tak ada benih benci yang tumbuh dengan gersang,
Sebab kasih adalah milik kita yang paling terang,
Memupuk damai dengan ikhlas tanpa rasa lelah,
Agar kerukunan abadi dan takkan pernah hilang.
Di sela riuh rendah dunia yang fana ini,
Ada pendar cahaya suci yang terus menyinari,
Tak perlu benci karena perbedaan yang hakiki,
Sebab damai adalah inti dari kejernihan hati,
Indahnya hidup dalam warna-warni yang asri,
Menjadi sebuah harmoni yang sangat berarti.
Corak kainmu memiliki ribuan motif yang indah,
Rajutan tangan leluhur kita yang sangat mulia,
Jadilah pribadi positif yang tak mudah menyerah,
Dalam merajut ribuan cita yang takkan punah,
Akan hidup kian kreatif di bawah cakrawala,
Membangun bangsa dengan semangat yang megah.
Warna kulitmu mungkin saja terlihat berbeda,
Rambutmu ikal, keriting, ataupun lurus sekali,
Namun kita tetap satu di dalam detak dada,
Menjaga kasih tulus yang takkan pernah reda,
Satu irama dalam raga yang saling mengabdi,
Bersatu padu demi Indonesia yang jaya senada.
Palembang, 30 Maret 2026
DI BALIK MEJA PERJAMUAN
Karya: Citra Kirana
Dasi rapi melingkar menutupi suara nurani,
Janji-janji manis menebar pesona yang palsu,
Kini rakyat jelata menanti bukti yang murni,
Di tengah hidup yang kian fana dan berani,
Menunggu keadilan yang tak pasti dan kaku,
Mencari kejujuran di balik topeng yang melayani.
Kursi empuk menjadi rebutan bagi mereka,
Saling sikut demi sebuah tahta dan kuasa,
Lupa akan amanah dan panutan yang ada,
Hingga rakyat kecil merasa tersiksa dan lara,
Tenggelam dalam ketidakpastian yang kian terasa,
Hanya menjadi penonton di tengah drama belaka.
Anggaran besar ludes tertelan tanpa sisa,
Oleh tangan-tangan dingin yang penuh noda,
Keadilan seolah kehilangan jalan dan karsa,
Tergilas ambisi tanpa jeda dan tanpa rasa,
Meninggalkan duka mendalam bagi setiap jiwa,
Menyisakan luka yang kian perih di dalam dada.
Kapan kebijakan akan memihak pada jelata,
Tanpa ada intrik semu yang penuh dengan sandiwara,
Kembalikan kejujuran dalam setiap tutur kata,
Agar martabat tak lagi menjamu harta semata,
Sampaikan kebenaran yang nyata di depan mata,
Bukan sekadar janji yang manis namun menderita.
Topeng mengkilap di depan kamera yang menyala,
Kata-kata disusun rapi bak lirik lagu yang merdu,
Namun di balik layar penuh duka dan cela,
Rakyat dibiarkan dalam ragu yang kian gila
Tersesat di antara sandiwara yang terasa kaku,
Mencari keadilan yang hilang ditelan rasa bangga.
Naskah dibaca dengan wibawa yang sangat tinggi,
Janji melangit setinggi awan yang kian putih,
Hanya mencari untung dan laba untuk diri sendiri,
Lupa kewajiban sebagai kawan yang paling mengabdi,
Hati nurani kini telah tiada dan menjauh pergi,
Meninggalkan amanah yang harusnya dijunjung tinggi.
Palembang, 30 Maret 2026
DETAK JANTUNG MERAH PUTIH
Karya: Citra Kirana
Di setiap hela napas menderu yang sangat dalam,
Mengalir darah para pahlawan jaya yang perkasa,
Cintaku padamu takkan pernah keliru dan kelam,
Wahai tanah tumpah darah mulia yang terpendam,
Kau adalah tempatku bernaung sepanjang masa,
Menjaga kehormatan dari pagi hingga ke malam.
Detak jantungku senada dengan irama persatuan,
Mendengungkan lagu persaudaraan yang kian abadi,
Takkan biarkan perselisihan menggoda kekuatan,
Menjaga negeri tercinta ini dari segala kehancuran,
Berdiri tegak dengan keberanian di dalam hati,
Mewujudkan mimpi dalam setiap derap langkah perjuangan.
Di dalam rongga dada yang sangat luas dan dalam,
Berdenyut kencang sebuah nama yang kian agung,
Membelah sunyi di tengah malam yang paling kelam,
Cinta pada nusa adalah utama dan takkan tenggelam,
Menjaga setiap jengkal tanah yang kita sanjung,
Agar damai menyatu dalam pelukan yang tenteram.
Dua warna dalam satu ikatan yang sangat suci,
Menenun mimpi-mimpi besar di atas cakrawala,
Menghadang badai dan tantangan yang silih berganti,
Agar persatuan kian menyala di dalam sanubari,
Menjadi obor bagi jiwa-jiwa yang kian membara,
Demi kemerdekaan yang akan selalu kita cintai.
Berkibar tinggi di langit biru yang sangat cerah,
Dua warna suci lambang negara yang kian agung,
Merah membakar semangat baru yang takkan menyerah,
Putih tulus suci tiada tara yang takkan pernah punah,
Kepadamu jiwa dan raga ini akan selalu bernaung,
Menjaga kedaulatan di atas tanah yang sangat bertuah.
Putih nan suci itu selembut awan di angkasa,
Menjaga jiwa dari angkara murka yang menggoda,
Warisan luhur para pahlawan bangsa yang berjasa,
Kan kujaga sepanjang muara dengan penuh rasa,
Menjadi benteng bagi Indonesia yang kian mulia,
Agar Merah Putih tetap jaya sepanjang masa.
Palembang, 30 Maret 2026
PIJAR KECIL DI TENGAH KELABU
Karya: Katarina Adelia Karmia Oeswadi
Di balik sunyi kulihat luka
Wajah lelah penuh cerita
Air mata jatuh tanpa suara
Hati kecil memanggil sesama
Aku datang membawa cahaya
Menembus gelap yang lama terasa
Langkahku pelan menghampiri
Menyapa jiwa sendiri
Kuberikan rasa hangat di hati
Walau sederhana, tulus ini
Agar beban lenyap bak kabut ditelan pagi
Dan harap kembali bersemi lagi
Dalam dingin kuulurkan bahu
Menahan tangis yang membeku
Mengapa langit membisu untukmu?
Haruskah pilu bersarang di kalbu?
Tak perlu kata yang terlalu
Cukup hadir tanpa ragu
Derita bukan untuk ditinggalkan
Melainkan untuk dipeluk perlahan
Kasih tumbuh dari kepedulian
Menyatukan luka dalam pelukan
Menguatkan hati tertekan
Menjadi kuat dalam kebersamaan
Jika dunia terasa sunyi dan luka
Aku datang membawa hangat senja
Menghapus pilu yang perlahan reda
Cinta hadir tanpa banyak kata
Cukup peduli, itu sudah nyata
Menjadi pelipur di setiap duka
Mari berjalan tanpa gentar
Menjadi terang yang menyebar
Bagi mereka yang hampir pudar
Cinta sesama takkan memudar
Selama hati tetap sadar
Dan kebaikan terus berpendar
Palembang, 30 Maret 2026
SUMPAH YANG MEMBARA
Karya: Katarina Adelia
Kami lahir dari luka dan darah
Dan jerit perang mengguncang jiwa
Cinta kami bukan sekadar kata
Ia api membakar dada
Menyala dalam setiap asa
Takkan padam oleh waktu dan masa
Pahlawan gugur tanpa banyak bicara
Meninggalkan negeri penuh harap dan cita
Namun kini kulihat wajah berbeda
Bangsa ini retak oleh ulah kita
Janji tinggal bayang semata
Hilang arah tanpa makna
Kami bertanya dari sunyi jiwa
Apakah mereka hanya sebatas kata?
Mengapa keadilan terasa hampa?
Untuk apa darah itu tumpah sia-sia?
Di mana nurani seharusnya ada?
Mengapa diam menjadi jawaban kita?
Amarah ini tumbuh, membakar rasa
Melihat janji tinggal sisa
Kami tak rela negeri tercinta
Hancur perlahan oleh tangan kita
Suara hati kian menggema
Menuntut arah lebih nyata
Bangkitlah, wahai jiwa-jiwa muda
Jangan biarkan sejarah berdebu saja
Apakah kita hanya diam melihat semua?
Atau berdiri melawan luka bangsa?
Satukan langkah, kuatkan rasa
Untuk Indonesia lebih berjaya
Cinta ini pahit, namun tetap setia
Dalam marah, dalam luka, dalam doa
Kami bersumpah menjaga Indonesia
Hidup atau gugur, tetap membela
Dengan tekad takkan sirna
Menjadi nyala sepanjang masa
Jika kami jatuh, siapa menjaga?
Jika kami diam, siapa bersuara?
Apakah kau rela negeri ini binasa?
Kami bangkit membawa nyala tak padam selamanya
Menjadi harapan bagi sesama
Agar Indonesia tetap berjaya
Palembang, 30 Maret 2026
SEBELUM WAKTU TERLAMBAT
Karya: Katarina Adelia Karmia Oeswadi
Di rumah ini masih ada tawa sama
Namun hatiku terasa kosong entah mengapa
Kalian ada, setia menjaga
Lalu mengapa aku menjauh tanpa suara?
Langkahku sering pergi tanpa makna
Meninggalkan hangat meredup di dada
Ibu, Ayah, kalian menua perlahan di sana
Waktu berjalan tanpa bersuara
Mengapa aku sibuk dalam duniaku saja?
Seolah kalian abadi selamanya?
Hari-hari berlalu tanpa jeda
Dan aku lalai merangkul anugerah terasa
Kalian memanggil, apakah aku benar mendengar?
Atau hanya menjawab tanpa merasa?
Mengapa aku tak berhenti sejenak?
Untuk memeluk kalian lebih lama?
Menghapus lelah di bahu penuh cerita
Dengan kasih kerap terlupa
Kini kusadari dengan dada penuh luka
Betapa banyak waktu luruh sia-sia
Mengapa aku baru merasa cinta ini ada
Saat jarak membentang di antara kita?
Sesal hadir tanpa aba-aba
Menusuk sunyi di relung jiwa
Jika nanti kalian tak lagi ada di dunia
Siapa menyebut namaku penuh cinta?
Siapa diam-diam berdoa untukku di sana?
Mengapa aku baru takut kehilangan kini?
Bayang rindu mulai menyala
Meski waktu belum memisahkan kita
Ibu, Ayah, maafkan aku terlambat merasa
Mengapa aku tak lebih dulu menjaga?
Jika waktu tak mau kembali seperti semula
Biar cintaku abadi untuk kalian selamanya
Kan kujaga sisa waktu tersisa
Dengan cinta kian nyata
Palembang, 30 Maret 2026
DUNIA DALAM GENGGAMAN
Karya: Katarina Adelia Karmia Oeswadi
Dunia kini cepat, tak kenal jeda
Semua hadir lewat dingin layar kaca
Informasi datang tanpa diminta
Namun kita tenggelam tanpa terasa
Di arus deras tak henti menyapa
Tanpa sadar arah perlahan sirna
Jari menari tanpa henti di sini
Mencari arti di ruang tanpa tepi
Namun hati kerap terasa sepi
Di tengah riuh hampa tak berisi
Semua tampak hidup berseri
Namun sunyi datang mencengkeram diri
Benar dan salah bercampur di sana
Semua tampak seolah sama saja
Bagaimana percaya pada data?
Saat dusta terbalut begitu sempurna?
Realita kabur, wajahnya luka
Akal goyah kehilangan daya
Waktu habis menatap layar biru
Dunia nyata perlahan jadi semu
Apakah kita masih mengenal waktu?
Atau larut dalam bayang semu?
Hari berjalan tanpa kita tahu
Hidup terkurung ilusi semu
Teknologi tumbuh membawa cahaya
Namun juga menyisakan luka
Kita dekat tanpa benar bersama
Terhubung, namun kehilangan makna
Semua terasa seolah nyata
Namun hati perlahan kosong tak bernyawa
Wahai manusia di zaman kini
Jangan biarkan diri hilang jati diri
Gunakan dunia digital sepenuh hati
Agar hidup tetap berarti
Jangan larut dalam arus ini
Atau diri hilang tanpa disadari
Palembang, 30 Maret 2026
NEGERI DALAM GENGGAMAN KUASA
Karya: Katarina Adelia Karmia Oeswadi
Mereka bersumpah atas nama negara
Mengatasnamakan rakyat dan suara
Namun di balik kata tampak mulia
Terselip nafsu rakus membakar kuasa
Janji bagai cahaya fana
Padam saat kuasa menggoda
Kebijakan lahir tanpa nurani
Rakyat kecil sekadar angka mati
Suara dibungkam, kritik dibantai
Keadilan digantung tanpa nisan sunyi
Harapan dicekik dalam sepi
Negeri lumpuh kehilangan empati
Hukum diputar sesuka mereka
Tajam ke lemah, tumpul ke penguasa
Apakah ini wajah negeri kita?
Atau panggung busuk bernama negara?
Kebenaran ditikam tanpa suara
Terkubur hidup dalam dusta
Janji tinggal abu membisu
Kebenaran dikunci di liang waktu
Apakah nurani telah beku?
Atau dijual demi kursi itu?
Suara jujur diburu waktu
Dihabisi ambisi membatu
Kami muak dengan dusta sama
Wajah berganti, racun tetap lama
Berapa kali rakyat terluka?
Sampai sadar diri sekadar alat semata?
Air mata jatuh tanpa suara
Menjadi saksi luka tak terbaca
Ingat, kuasa takkan abadi
Sejarah mencatat tanpa kompromi
Saat rakyat bangkit menagih janji
Takhta runtuh tak tersisa lagi
Waktu merobek tirai misteri
Kebenaran bangkit berdiri
Jika nurani terus dipenjara
Jika suara rakyat dibungkam kuasa
Apakah negeri ini milik kita?
Atau milik mereka di singgasana?
Ataukah kita bayangan semata?
Kini saatnya kita bangkit merebut makna
Palembang, 30 Maret 2026
LORONG SUNYI PENUH RINDU
Karya: Delila Citra Kinasih
Bel pulang lirih di ujung kelas,
Bangku diam menyimpan bekas,
Kapur gugur di meja tipis,
Namamu kecil di sudut kertas,
Langkah pergi terasa lepas,
Rindu tumbuh tanpa batas.
Langit merah di kaca jendela,
Bayangmu singgah tanpa suara,
Angin tipis menyentuh tirai saja,
Seragam kusut, sepatu berdebu kita,
Tatap diam penuh makna,
Rindu bergetar di dada.
Hujan rintik di atap seng,
Dentingnya pelan berulang dengung,
Kita duduk tanpa hitung,
Teh hangat mengepul canggung,
Mata bertemu, waktu pun lunglai,
Rindu melebar, diam terurai.
Pohon jambu menaungi tawa,
Daun jatuh di pangkuan jiwa,
Cerita kecil mengalir apa adanya,
Namamu kusebut dalam doa,
Waktu enggan beranjak jauh,
Rindu tinggal, tak pernah rapuh.
Kini bangku itu sunyi sendiri,
Lorong panjang hanya langkahku kini,
Kenangan tinggal di sudut hati,
Seperti senja setia menanti,
Cinta remaja sederhana sekali,
Rindu abadi di relung diri.
Palembang, 13 April 2026
LANGKAH YANG MENYALA
Karya: Delila Citra Kinasih
Di cermin pagi kulihat ragu,
mata redup tertutup bayang kelabu,
bahu menunduk memeluk pilu,
napas pendek diburu waktu,
suara hati berbisik sendu,
“mampukah aku melangkah maju?”
Langit jendela meneteskan cahaya,
hangatnya menyentuh sudut percaya,
pelan kuraba luka yang ada,
kubalut tekad dengan doa,
kutegakkan punggung yang lama tertunduk,
kubiarkan harap tumbuh perlahan hidup.
Langkah kecil mulai berani,
menyibak takut yang mengunci diri,
setiap jejak di lantai sunyi,
menjadi saksi bangkitnya hati,
tak lagi kugenggam kata “nanti”,
hari ini kupilih berdiri.
Kata orang aku biasa saja,
tak istimewa di antara mereka,
namun aku tahu isi jiwa,
ada bara yang terus menyala,
keyakinan tumbuh tanpa suara,
menguatkan diri dari dalam dada.
Bila gagal datang menyapa,
tak lagi kusapa dengan air mata,
kuanggap ia guru setia,
mengajariku arti mencoba,
sebab jatuh bukan akhir cerita,
melainkan awal bangkit yang nyata.
Kini kutatap dunia terbuka,
dengan dada lapang penuh percaya,
aku melangkah tanpa ragu lagi,
membawa mimpi yang kupeluk tinggi,
sebab percaya diri di hati,
adalah cahaya yang tak pernah mati.
Palembang, 13 April 2026
DI TELAPAK DOA IBU BAPAK
Karya: Delila Citra Kinasih
Di dapur pagi, uap nasi naik perlahan,
Ibu menakar sabar di panci harapan,
Bapak mengikat lelah pada tali sepatu,
Langkahnya berangkat sebelum matahari tahu,
Aku belajar arti hangat dari tangan mereka,
Yang tak pernah meminta dunia membalasnya.
Meja kayu menyimpan cerita yang diam,
Piring retak menjadi saksi malam-malam,
Ibu tersenyum meski kantuk belum selesai,
Bapak menghitung receh dengan dahi berkerut damai,
Di rumah kecil ini, cinta tak pernah kecil,
Ia tumbuh dari peluh yang jujur dan gigil.
Seragamku rapi oleh setrika kesabaran,
Bekalku penuh oleh doa yang tak terdengaran,
Bapak berpesan lewat tatap yang teduh,
Ibu menguatkan lewat peluk yang utuh,
Aku berjalan ke sekolah membawa nama mereka,
Seperti bendera yang harus kujaga maknanya.
Bila senja turun membawa lelah di bahu,
Mereka tetap menanyakan hariku satu per satu,
Tak ada keluh yang jatuh di ruang makan,
Hanya tawa tipis mengusir kekurangan,
Dari mata mereka, aku melihat cahaya,
Yang mengajarkanku kuat tanpa banyak suara.
Kini aku paham arti bangga yang sederhana,
Bukan pada harta, melainkan cara mereka menjaga,
Ibu dengan doa yang tak pernah usai,
Bapak dengan kerja yang tak memilih hari,
Di telapak tangan merekalah aku bertumbuh,
Menjadi anak yang tahu arah dan teguh.
Jika kelak langkahku lebih jauh dari rumah,
Namamu, Ibu Bapak, tetap kupanggul ramah,
Akan kubalas peluh dengan prestasi nyata,
Akan kujaga nama baik di setiap cerita,
Sebab cintaku bukan hanya rasa yang terucap,
Melainkan janji hidup yang terus menetap.
Palembang, 13 April 2026
PELANGI DI SATU LANGIT
Karya: Delila Citra Kinasih
Langit pagi membuka tirainya perlahan,
warna-warna tumbuh di ufuk timur,
merah, jingga, dan biru bersalaman,
seperti tangan-tangan yang tak saling menolak,
angin membawa kabar tentang damai,
bahwa beda bukan jarak untuk menjauh.
Di jalan kecil terdengar langkah beragam,
ada tawa dengan logat yang berlainan,
ada sapa dengan bahasa yang berbeda,
namun mata mereka memantulkan tujuan yang sama,
hidup berdampingan tanpa curiga,
seperti nada-nada dalam satu lagu.
Rumah-rumah berdiri dengan bentuk tak serupa,
cat dindingnya menyimpan cerita masing-masing,
aroma masakan menguar dari dapur yang berbeda,
menjadi wangi yang menyatu di udara sore,
perbedaan menjelma kehangatan,
bukan alasan untuk saling menjauh.
Di taman kota anak-anak bermain bersama,
kulit sawo matang dan kuning langsat berlarian,
mereka tertawa tanpa bertanya asal-usul,
berbagi bola dan mimpi yang sederhana,
membuktikan hati tak mengenal sekat,
hanya orang dewasa yang sering lupa caranya.
Saat senja turun memeluk bumi,
langit kembali merangkai pelangi,
warna-warni menyatu tanpa kehilangan jati diri,
indah justru karena tak seragam,
seperti kita yang berbeda-beda,
namun dipayungi cinta di satu langit.
Palembang, 13 April 2026
DI BALIK PAPAN KEBIJAKAN
Karya: Delila Citra Kinasih
Ruang rapat beraroma tinta keputusan,
kursi-kursi berderet seperti saksi bisu,
peta negeri terbentang di meja kayu,
garis-garisnya lurus, nasibnya berliku,
ketukan palu terdengar seperti hujan kering,
jatuh tanpa benar menyentuh bumi.
Di luar gedung, angin membawa suara rakyat,
tertahan di kaca jendela yang tebal,
spanduk lusuh berkibar di pagar besi,
mata-mata menunggu makna dari janji,
kata “demi rakyat” terukir di baliho besar,
namun langkah kaki mereka tetap berputar di tempat.
Pasal-pasal disusun rapi seperti batu bata,
namun celahnya menjadi jalan tikus,
huruf-huruf hitam tampak tegas di kertas putih,
tetapi maknanya mengabur di lorong praktik,
keadilan tertulis indah dalam lembaran,
tertinggal ketika keputusan mulai berjalan.
Suara hati kadang kalah oleh suara jabatan,
nurani terbungkus map berlogo instansi,
rapi, resmi, dan tampak terhormat,
padahal isinya menyimpan simpang arah,
kebijakan yang lahir dari meja kehendak,
bukan dari denyut kebutuhan rakyat.
Namun harapan belum benar-benar padam,
ia tumbuh di sela retak trotoar kota,
dari langkah kecil yang berani bertanya,
dari mulut-mulut muda yang tak lagi diam,
bahwa kebijakan sejati lahir dari kejujuran,
dan politik kembali menjadi jalan pengabdian.
Palembang, 13 April 2026
UNTUK TANAH AIR
Karya: Maria Marsha Rosita
Di tanah ini aku berdiri
Menghirup udara negeri sendiri
Langit biru menyapa hari
Indonesia tetap di hati
Gunung dan laut menjadi saksi
Cintaku tak akan terganti
Sawah hijau terbentang luas
Petani bekerja tanpa lelah
Negeri ini penuh harap jelas
Untuk masa depan yang cerah
Angin berhembus membawa nafas
Harapan hidup yang megah
Bendera merah putih berkibar
Di langit tinggi dengan sabar
Kami berdiri penuh bangga
Menjaga bangsa sepanjang masa
Suara rakyat terus mengalir
Menguatkan jiwa yang besar
Suara lagu kebangsaan terdengar
Menggetarkan jiwa yang sadar
Bahwa kita satu saudara
Dalam perbedaan yang nyata
Bersatu dalam satu negara
Dengan cinta yang membara
Negara ini penuh cerita
Dari perjuangan hingga cita-cita
Kami lanjutkan dengan nyata
Dengan semangat membara
Takkan goyah oleh dunia
Indonesia tetap jaya
Cinta ini bukan sekedar kata
Namun tindakan yang nyata
Menjaga bangsa dan negara
Dengan jiwa yang setia
Hingga akhir usai tiba
Cinta ini tetap menyala
Palembang, 13 April 2026
PELUK TAK TERLIHAT
Karya: Maria Marsha Rosita
Di rumah sederhana ini
Ada cinta tanpa henti
Ayah ibu menemani
Dengan kasih yang suci
Walau lelah setiap hari
Mereka tetap peduli
Ibu memasak di dapur kecil
Ayah bekerja tanpa lelah
Semua dilakukan dengan tulus
Demi anak yang mereka cintai
Tak pernah mengeluh
Dengan hidup penuh cerita
Tangan kasar penuh luka
Namun hangat saat menyapa
Peluh jatuh tanpa suara
Demi masa depan kita
Kasih itu selalu ada
Walau tanpa kata-kata
Nasihat lembut selalu ada
Walau kadang terasa berbeda
Namun semua penuh makna
Untuk hidup bahagia
Menuntun langkah kita
Agar tak salah arah
Aku tumbuh dalam cinta
Yang tak pernah meminta balasnya
Hanya doa yang mereka jaga
Untuk masa depan anaknya
Kasih itu takkan sirna
Sepanjang masa
Kini aku mulai mengerti
Semua pengorbanan ini
Akan ku balas suatu hari
Dengan penuh bakti
Doa mereka menemani
Hingga aku berhasil nanti
Palembang, 13 April 2026
ANTARA SENYUM DAN DIAM
Karya: Maria Marsha Rosita
Di sudut sekolah kita bertemu
Tatapanmu jatuh tanpa ragu
Senyumanmu hangat menyentuh kalbu
Hatiku bergetar tak menentu
Namamu terukir di ruang waktu
Diam-diam aku menunggu
Langkahmu ringan di pagi hari
Seragam putih biru berderai
Aku memandang penuh arti
Namun kata tak kunjung sampai
Degup jantung terasa sendiri
Saat kau berlalu santai
Kita duduk di bangku lama
Berbagi cerita sederhana
Namun jantungku berdebar cepat
Saat matamu terasa dekat
Waktu seakan berhenti lama
Dalam rasa yang sama
Hujan turun di luar jendela
Kita terdiam tanpa suara
Perasaan tumbuh begitu nyata
Namun hati tetap terjaga
Aku menatapmu penuh makna
Meski tak berani berkata
Waktu berjalan tanpa henti
Rasa ini kian mengerti
Cinta datang tanpa janji
Namun hadir dengan pasti
Meski sederhana dan sunyi
Ia tumbuh dalam hati
Mungkin ini hanya cerita
Tentang rasa di masa muda
Namun akan selalu ada
Kenangan dahulu
Meski waktu terus berlalu
Rasa ini tetap satu
Palembang, 13 April 2026
BERANI MELANGKAH
Karya: Maria Marsha Rosita
Aku berdiri tanpa ragu
Melangkah pasti menuju maju
Meski dunia kadang membisu
Aku tetap yakin
Selalu suara hati jadi penentu
Bahwa aku mampu
Cermin pagi memantulkan diri
Wajah penuh harap baru
Aku berkata dalam hati
Aku kuat dan mampu
Langkah terasa berarti
Menuju masa depan maju
Langkah kecil terus berjalan
Menuju mimpi masa depan
Walau rintangan menghadang
Aku tetap berjuang
Semangatku takkan padam
Meski jalan terasa kelam
Jatuh bangun hal biasa
Bukan alasan untuk menyerah
Aku bangkit dengan arah
Menuju cita-cita yang nyata
Kuatkan hati dan rasa
Untuk terus melangkah
Tak perlu jadi sempurna
Cukup jadi diri sendiri saja
Karena setiap manusia
Punya kelebihan nyata
Aku percaya pada diri
Untuk terus berdiri
Hari esok menanti aku
Dengan peluang yang baru
Aku melangkah tanpa ragu
Karena aku mampu
Keyakinan jadi penentu
Untuk terus maju
Palembang, 13 April 2026
BERBEDA NAMUN SATU
Karya: Maria Marsha Rosita
Berbeda warna kulit kita
Berbeda bahasa yang ada
Namun satu tujuan bersama
Hidup damai selamanya
Perbedaan bukan penghalang
Untuk saling memandang
Ada yang berbeda agama
Ada pula budaya lain
Namun kita tetap bersama
Dalam satu tujuan damai
Walau berbeda cara
Kita tetap satu tujuan
Tangan saling bergandengan
Tanpa melihat perbedaan
Kita hidup berdampingan
Dengan penuh kedamaian
Hati saling memahami
Tanpa rasa curiga lagi
Suara berbeda jadi indah
Jika kita saling mengalah
Harmoni terasa megah
Dalam hidup yang ramah
Perbedaan jadi berkah
Bukan sumber masalah
Keberagaman adalah anugerah
Yang membuat hidup lebih indah
Bukan untuk saling marah
Namun untuk saling arah
Menuju hidup yang cerah
Tanpa rasa resah
Mari kita saling menjaga
Dalam perbedaan yang ada
Karena kita tetap sama
Sebagai manusia
Bersatu dalam rasa
Untuk hidup bersama
Palembang, 13 April 2026
NAFAS HIJAU BUMI
Karya : Margaret Naomi Stevani Hutabarat
Lihatlah bumi yang sedang merintih sedih,
Wajahnya kusam tertutup sampah yang pedih,
Hutan menjerit karena pohonnya tlah beralih,
Mari bertindak agar duka ini segera pulih,
Jangan biarkan alam kita menjadi tersisih,
Ayo bergerak dengan hati yang sangat bersih.
Tengoklah sungai yang kini sedang menangis,
Airnya hitam bagai tinta yang kian mengiris,
Ikan berbisik meminta tolong dengan puitis,
Buanglah sampah jangan lagi bersikap egois,
Jaga aliran tetap bening dan sangat manis,
Agar bencana banjir bisa segera kita kikis.
Bangunlah kawan lihat surya yang mulai garang,
Tanah yang haus berteriak meminta kasih sayang,
Tanamlah bibit agar hijau kembali terbentang,
Singkirkan plastik yang membuat mata terhalang,
Janganlah tunda mumpung hari masihlah terang,
Pastikan alam tetap indah dipandang orang.
Dengarlah angin yang membisikkan pesan suci,
Membawa kabar tentang alam yang harus dicuci,
Rawatlah bunga jangan biarkan ia membenci,
Sapu halaman singkirkan semua kotoran benci,
Tunjukkan bakti pada bumi yang kita cintai,
Agar hidupmu jauh dari segala rasa benci.
Mari melangkah dengan semangat yang membara,
Jaga lingkungan demi hari esok yang sejahtera,
Peluklah alam agar ia tak lagi merasa sengsara,
Pastikan udara bersih segar menyentuh raga,
Jagalah lingkungan agar hidupmu nyaman segera,
Agar anak cucu kelak tersenyum dengan gembira.
Palembang, 13 April 2026
TANGAN PENYANGGA JIWA
Karya : Margaret Naomi Stevani Hutabarat
Lihatlah duka yang sedang menari di pelupuk mata,
Isak tangisnya memeluk malam tanpa ada pelita,
Dunia terasa sempit bagi mereka yang menderita,
Menanggung beban berat yang tak sanggup dieja kata,
Mari bergerak hapus semua duka yang tlah bertahta,
Berikan kasih agar mereka kembali punya cita-cita.
Tengoklah perut yang sedang berteriak kelaparan,
Di balik gubuk tua yang rapuh tanpa sandaran,
Luka merayap pelan mencari sebuah pembenaran,
Jangan biarkan mereka larut dalam kepasrahan,
Ayo berbagi meski hanya sekadar sesuap sarapan,
Agar hangatnya cinta mampu menepis kedinginan.
Dengarlah kesedihan yang membisik di telinga,
Mengetuk pintu hati yang mungkin sedang terjaga,
Jangan biarkan ego membuat nurani menjadi buta,
Ulurkan harta tulusmu meski tak seberapa berharga,
Biarkan senyum mereka mekar kembali dengan bangga,
Sebab membantu sesama adalah jalan menuju surga.
Lihatlah raga yang sedang dipeluk rasa nestapa,
Berjalan gontai di trotoar tanpa ada yang menyapa,
Debu jalanan mencium keningnya yang penuh hampa,
Bantulah ia sebelum nyawanya menjadi ampa,
Hadirkan terang di tengah badai yang menerpa,
Tunjukkan bahwa kasih sayang belum sepenuhnya lupa.
Mari melangkah dengan semangat jiwa yang membara,
Hancurkan dinding pemisah antara lara dan gembira,
**Ulurkan tanganmu, ringankan beban saudaramu** segera,
Agar tak ada lagi hati yang merasa sangat sengsara,
Jadilah penyejuk di tengah gurun yang penuh membara,
Membasuh luka dunia dengan cinta yang tiada tara.
Palembang, 13 April 2026
MAHKOTA DI BALIK CERMIN
Karya : Margaret Naomi Stevani Hutabarat
Berdirilah tegak di depan cermin yang bicara,
Menatap tajam bayangan yang menyimpan tenaga.
Jangan biarkan ragu menyulut api asmara,
Sebab dalam dadamu tersimpan permata berharga.
Dunia mungkin luas penuh dengan sandiwara,
Namun langkahmu adalah penentu kasta tertinggi raga.
Dengarlah bisikan angin yang menantang nyali,
Ia bercerita tentang puncak yang belum terjamah.
Jangan biarkan ketakutan mengikat erat kaki,
Hingga membuat jiwamu terlihat kian lemah.
Kau adalah nakhoda di tengah laut yang benci,
Takkan karam meski badai datang menghantam rumah.
Lihatlah jalanan panjang yang memanggil nama,
Tanahnya rindu akan jejak sepatu yang pasti.
Meski luka lama masih terasa begitu lama,
Jangan biarkan ia membunuh nyala di dalam hati.
Tegakkan kepala saat duka datang berkerama,
Sebab kau diciptakan untuk menang dan berbakti.
Mimpi-mimpimu kini mulai terbangun dari tidur,
Mengetuk jendela jiwa yang sempat tertutup rapat.
Jangan biarkan semangatmu perlahan jadi luntur,
Hanya karena omongan orang yang terasa kelat.
Garis nasibmu takkan pernah bisa diukur,
Oleh mereka yang memandangmu dengan telat.
Mari melangkah menembus batas cakrawala dunia,
Buang jauh segala cemas yang menghambat laju.
**Genggam duniamu, kaulah sang juara yang kau tunggu** setia,
Kenakan jubah keberanian yang berwarna biru.
Biarkan cahaya jiwamu memancar dengan mulia,
Menjadi saksi bahwa kau adalah pemenang yang baru.
Palembang, 13 April 2026
TENUNAN WARNA NUSANTARA
Karya : Margaret Naomi Stevani Hutabarat
Lihatlah warna kulit yang berbeda di bawah surya,
Menghiasi bumi dengan pesona yang amat kaya.
Ada yang sawo matang hingga putih serupa jaya,
Semua bersinar indah dalam balutan budaya.
Tak perlu ada benci yang membuat hati terperdaya,
Sebab perbedaan adalah anugerah yang mahadaya.
Dengarlah suara lonceng dan azan yang bersahutan,
Mengalun merdu di sela angin dan juga lautan.
Rumah ibadah tegak berdiri tanpa ada tuntutan,
Menjadi saksi tentang doa yang penuh kelembutan.
Mari kita ikat erat tali persaudaraan yang bertautan,
Agar kedamaian abadi menjadi sebuah kenyataan.
Tarian jemari penenun merajut benang sutra,
Membentuk pola indah dari Sabang hingga Sumatra.
Bahasa kita beragam namun satu dalam citra,
Membangun bangsa besar yang jauh dari marabahaya.
Jangan biarkan ego merusak indahnya nirmala putra,
Jaga persatuan demi masa depan yang sangat mesra.
Taman yang cantik bukan karena satu jenis bunga,
Namun karena aneka kelopak yang mekar berangga.
Begitu pun kita yang hidup di bawah atap tangga,
Saling menopang beban agar hati merasa bangga.
Hargailah setiap tradisi yang turun-temurun dijaga,
Agar jati diri bangsa tetap utuh dan juga berharga.
Mari melangkah bersama dalam derap yang serasi,
Hapus prasangka buruk yang hanya memicu korosi.
**Berbeda itu indah, satukan hati dalam harmoni** narasi,
Jadikan keberagaman sebagai kekuatan dan amunisi.
Esok akan cerah jika kita mampu saling berinteraksi,
Menciptakan sejarah dalam balutan cinta dan dedikasi.
Palembang, 13 April 2026
MENJINAKKAN ARUS WAKTU
Karya : Margaret Naomi Stevani Hutabarat
Langkah kaki mengejar detak jam yang berlari,
Dunia berputar secepat kilat yang menyambar.
Menuntut raga untuk terus tegak berdiri sendiri,
Di tengah perubahan yang datang kian melebar.
Kita dipaksa berdansa di atas tajamnya duri,
Agar semangat di dalam dada takkan pudar.
Mesin-mesin bicara menggantikan suara manusia,
Algoritma merajut takdir di antara jemari.
Membuat jiwa sering merasa letih dan sia-sia,
Mencari arti di balik layar yang sunyi setiap hari.
Namun menyerah bukanlah pilihan bagi yang dewasa,
Sebab hidup adalah medan tempur yang harus dicari.
Esok hari bukan lagi tentang mimpi yang sederhana,
Ada gunung tantangan yang puncaknya menembus awan.
Jangan biarkan dirimu tenggelam dalam rencana,
Keringat akan jatuh menjadi saksi yang tertawan.
Ayo bergerak sebelum dunia menjadi fana,
Jadilah petarung yang gagah dan penuh kawan.
Siapkan perisai sabar untuk menahan hantaman zaman,
Hati harus sekeras baja namun tetap memiliki rasa.
Kecepatan ini mungkin membuat kita kehilangan taman,
Jangan sampai teknologi merenggut cinta yang kuasa.
Hingga kita lupa caranya berjabat tangan dengan aman,
Di tengah riuhnya arus yang kian terasa memaksa.
Mari tatap cakrawala dengan mata yang penuh nyali,
Singkirkan keraguan yang kerap datang menghasut kalbu.
**Asah jiwamu, jinakkan hari esok yang menderu** kembali,
Jadilah pemenang di tengah badai yang menderu debu.
Normal yang baru adalah tentang bangkit berkali-kali,
Hingga namamu abadi dalam catatan yang menggebu.
Palembang, 13 April 2026
TEMBOK DI ANTARA KITA
karya: Nyoman Nadya Larasati
Menatapmu taklah sulit
Bersamamu membuat hidup berliku
Cinta kita bukan kisah biasa
Cinta yang luar biasa
Terukir indah di sela waktu yang fana
Dunia menjadi saksi bisu perjumpaan ini
Perbedaan di antara kita pembatas nyata
Langkah kaki sulit bersatu padu
Takkan kuambil engkau dari Tuhanmu
Sebab Dia lebih mencintaimu
Biarlah takdir menjaga rahasia kita
Lautan iman memisahkan dua dermaga rindu
Rasa ini tak pernah berubah
Tumbuh tulus di lubuk hati
Meski jalan kita tak mudah
Cinta tetap hidup dalam doa
Menjadi lentera di kegelapan malam
Harapan melambung tinggi menembus cakrawala biru
Jika takdir tak mengizinkan bersama
Kenangan menjadi cahaya abadi
Mencintaimu dengan ikhlas
Kebahagiaan sederhana yang kumiliki
Tersimpan rapi dalam kotak memori
Waktu berhenti pada detik paling sunyi
Tak perlu ada kata terucap
Biarkan sunyi membasuhi raga
Kasihku bukan tentang memiliki
Melihatmu tersenyum kembali, cukup bagiku
Meski kita hanya sepasang asing yang saling mendoakan
Perpisahan ini hanyalah awal pengabdian
Palembang, 14 April 2026
DI PELUKAN ALAM NAN INDAH
karya: Nyoman Nadya Larasati
Alam tempat indah menenangkan
Kicauan burung menciptakan kenyamanan
Angin membuat pohon, rumput menari
Penuh bahagia menyambut hari
Semesta membisikkan melodi kedamaian
Ruh rimbun menyatu dalam pelukan pagi
Cahaya matahari menyinari bumi
Bunga bermekaran, lebah berdatangan
Hujan turun rintik tenang
Membasahi seluruh tanaman hijau
Tanah kering meneguk setiap tetesan kehidupan
Keajaiban kecil tumbuh di setiap dahan
Aliran sungai mengalir jernih
Membasuh hati yang sedang sedih
Ikan-ikan menari balik batu
Menyambut pagi penuh restu
Segala gundah larut terbawa arus
Suara gemericik menenangkan sukma yang lelah
Gunung menjulang tinggi ke angkasa
Menjaga alam gagah perkasa
Warna hijau membentang sejauh pandangan
Menghapus penat, rasa bimbang
Puncak kokoh saksi bisu kebesaran Ilahi
Awan putih menyelimuti tebing penuh misteri
Oh, indahnya alam ciptaan Tuhan
Takkan kubiarkan hancur perlahan
Kujaga alam titipan-Mu
Terima kasih alam, pelindung hidupku
Janji setia terpatri untuk lestarikan bumi
Napas kehidupan mengalir lewat nadi pertiwi
Palembang, 14 April 2026
RINDUKU MENGGEMA UNTUK NEGRIKU
karya: Nyoman Nadya Larasati
Senja sunyi, rinduku pulang bersamamu
Namamu hidup dalam napas, doaku
Langkah kecil menyimpan mimpi sederhana
Gunung, lembah menggema harapan
Tanah air memanggil jiwa yang merantau
Gema rindu memantul di dinding kalbu
Peluh menjadi tanda perjuangan
Langit memeluk cinta yang setia
Meski jauh, rinduku tetap kembali
Negeriku, engkaulah rumah abadi
Tempat pertama napas ini bermula
Darah pejuang mengalir deras dalam raga
Sawah menghijau saksi bisu
Kubangun negeri sepenuh hati
Meski badai terus berganti
Cintaku pada tanah ini abadi
Akar keyakinan menembus jantung pertiwi
Bulir padi merunduk tanda syukur mendalam
Suara merdeka mulai terdengar
Membakar api semangat tak padam
Tangan merajut mengukir persatuan
Demi masa depan terpancar
Garuda terbang tinggi menembus awan
Kepak sayapnya membawa kabar kemenangan gemilang
Butir debu, tanah yang kupijak
Jejak kaki tak pernah retak
Negeriku indah, negeriku jaya
Dalam pelukanmu, aku tak berdaya
Hanyut dalam cinta yang tak berujung
Kesetiaan ini harga mati bagi jiwa
Palembang, 14 April 2026
CAHAYA KECIL TUMBUH DALAM DIRIKU
karya: Nyoman Nadya Larasati
Dalam sunyi, cahaya kecil terpencar
Hadir perlahan, mengusir ragu
Langkahku belajar berdiri lebih kuat
Mimpiku yang redup kembali membara
Keyakinan baru mulai menyentuh jiwa
Api semangat menghangatkan seluruh aliran darah
Setiap jatuh menjadi pembelajaran
Suara hati menguatkan, meyakinkan
Cahaya itu tumbuh tanpa henti
Akupun percaya pada diri sendiri
Tak ada lagi ruang untuk kegagalan
Luka masa lalu menjelma menjadi kekuatan
Tak perlu silau lentera orang lain
Raga ini menyimpan api semangat
Aku pelukis di atas kanvas itu
Mengukir warna indah, menghalau ragu
Goresan kuas menentukan arah takdir
Setiap garis menceritakan kemenangan yang tulus
Cahaya merambat, menyentuh sudut sepi
Menghangatkan jiwa kaku membeku
Bukan sekadar cahaya lewat sebentar
Harapan mulai terpancar nyata
Kegelapan mundur teratur meninggalkan diri
Cakrawala baru terbuka lebar bagi raga
Berdiri tegap di bawah langit biru
Menyambut esok semangat baru
Cahaya kecil menjadi matahari
Menerangi jalan perjuangan yang kupilih
Melangkah pasti menuju puncak impian
Bintang kejora menuntun langkah penuh percaya
Palembang, 14 April 2026
TAHTA LUPA ARAH PULANG
karya: Nyoman Nadya Larasati
Takhta tinggi berdiri atas janji rapuh
Suara rakyat perlahan hilang ditelan kuasa
Langkah pemimpin menjauh dari jalan benar
Keadilan redup balik meja keputusan
Nurani terbungkam oleh tumpukan emas
Debu keserakahan menutupi mata hati mereka
Harapan rakyat retak oleh dusta
Nurani seakan tertutup gemerlap jembatan
Namun gemerlap tetap memanggil pulang
Agar takhta kembali pada tujuan semula
Mengingat sumpah yang dulu pernah diucap
Langit kelam meratapi nasib kaum jelata
Rintihan terdengar di gang sempit
Bukan angka dalam laporan pelit
Memeluk amanah dengan baik
Tanpa ada rasa sakit dibenak
Sebab beban rakyat sungguhlah nyata
Keringat mereka modal utama roda kekuasaan
Takhta sejati ada di hati yang mengabdi
Bukan takhta emas tak dibawa mati
Jadilah pelampung bagi mereka yang tenggelam
Membawa kapal keluar dari malam kelam
Menjadi nakhoda di tengah badai kehidupan
Kebijaksanaan lebih berharga daripada mahkota berlian
Ingatlah pada tanah yang kau pijak dahulu
Keringat rakyat menjadi saksi bisu
Jabatan akan retak dimakan waktu
Jangan biarkan kesombongan mengunci pintu hatimu
Sebab kuasa hanyalah titipan yang fana
Pertanggungjawaban berat menanti di pintu akhirat
Palembang, 14 April 2026
ESOK DI JALAN MENYIMPANG
karya: Nyoman Nadya Larasati
Esok datang di jalan yang mulai berkelok
Langkah kaki menjauh dari arah semula
Harapan lurus perlahan berubah kabur
Pilihlah salah membawa hidup tersesat
Kebimbangan menyelimuti setiap pijakan
Bayang-bayang keraguan menghalangi pandangan mata tajam
Cahaya tujuan tampak semakin redup
Hati masih mencari jalan benar
Setiap salah dapat menjadi pembelajaran
Agar esok kembali pada arah harapan
Menemukan kompas dalam palung jiwa
Suara kecil membisikkan petunjuk arah pulang
Meski kabut menutup pandangan hidup
Keberanian menepis segala kasta
Jangan takut tersesat di tengah rimba
Asal niat tetap tulus penuh makna
Kekuatan hati penuntun paling setia
Tekad baja melumat habis segala rintangan
Jalan menyimpang memberi arti
Hidup bukan sekadar berlari tanpa henti
Ada saat berhenti, merenung diri
Mimpi yang dulu sempat terhenti
Menemukan kembali jati diri yang hilang
Kedewasaan lahir dari pahitnya pengembaraan batin
Terang fajar mulai menyapa raga
Luka lama menjadi peta berharga
Takdir menanti di ujung usaha
Langkah tegap membawa makna baru
Esok cerah terpancar nyata dalam genggaman
Senyum kemenangan merekah indah menyambut mentari
Palembang, 14 April 2026
CINTA DI BAWAH HUJAN
Karya:Arafah Rauf
Di koridor sekolah yang basah oleh guyur,
Kau tatap aku dengan mata penuh rahasia,
Tanganmu menyentuh jemariku pelan,
Seperti angin pagi menyapa daun muda.
Hujan reda, tapi hati tetap berirama,
Kita lari ke taman belakang gedung,
Senyum pertama lahir di sana.
Hati ini berdegup seperti lonceng istirahat,
Senyummu cerah, menerangi kelas kelabu,
Kita janji di balik payung sekolah usang,
Bahwa besok, cinta ini takkan pudar.
Catatan kecil di bangku kayu tua,
Nama kita terukir abadi selamanya,
Malam tiba dengan mimpi indah.
Tapi angin malam berbisik ragu pilu,
Apakah mimpi kita cukup kuat menahan badai?
Meski demikian, aku pegang erat tanganmu,
Cinta remaja ini, abadi di relung jiwa.
Ujian datang seperti awan mendung,
Tapi pelukanmu jadi payung penyelamat,
Kita lewati bersama tanpa kata.
Waktu berlalu, tawa kita bergema,
Belajar dari air mata dan senyum bersama,
Membangun istana dari pasir pantai hati.
Remaja penuh warna harapan cerah,
Tak ada yang bisa pisahkan kita,
Cinta ini akar tak tergoyahkan.
Akhirnya di bawah langit senja merona,
Kita tahu cinta remaja tak lekang waktu,
Harapan mekar seperti bunga musim semi,
Kenangan terukir di buku catatan lama.
Tangan bergandengan menapaki jalan,
Mimpi kita terbang ke langit biru,
Selamanya terjalin dalam ikatan,
Abadi di dada yang penuh rasa.
Palembang, 30 Maret 2026
PELUKAN UNTUK DIA TERLUKA
Karya:Arafah Rauf
Di pinggir jalan berdebu kau meringkuk sendirian,
Tubuhmu gemetar diterpa angin malam dingin,
Aku dekati dengan roti sisa di tangan,
Pelukmu erat meski luka berdarah di kakimu.
Malam gelap tapi hati mulai hangat,
Kau angkat wajah penuh kelelahan,
Cinta dimulai dari langkah kecil ini.
Air mata kita bercampur di selimut tua,
Kau bisik cerita pilu tentang hari kelam,
Cinta ini bukan kata manis di bibir,
Tapi tangan yang membersihkan luka pilumu.
Pagi datang pelan menyapa kami,
Kita bagi secangkir teh panas,
Harapan mulai menyelinap masuk.
Bersama kita bangun mimpi baru esok,
Dari puing penderitaan tunas harapan mekar,
Kasih pada sesama yang sakit hati,
Adalah obat abadi bagi jiwa yang haus.
Langkahmu kini lebih mantap tegar,
Senyum tipis lahir di bibir kering,
Kebersamaan jadi kekuatan baru.
Setiap pelukan menyembuhkan luka dalam,
Membangun jembatan dari hati ke hati.
Kini kau berdiri dengan bahu tegak,
Penderitaan sirna diganti cahaya,
Cinta sesama tak pernah usai,
Abadi selamanya.
Dunia lebih indah saat kita saling topang,
Tanganmu genggam milikku erat kuat,
Api kasih tak pernah padam redup,
Dari desa kecil ke kota besar,
Kita sebarkan pelukan hangat ini,
Bagi yang lapar, dingin, atau pilu,
Sesama adalah keluarga sejati,
Cinta ini warisan abadi kita.
Palembang, 30 Maret 2026
JERAT LAYAR TAK BERUJUNG
Karya:Arafah Rauf
Cahaya layar menyilaukan mata lelahku,
Jari pegal menari di keyboard sempit,
Notifikasi berdering seperti hujan deras,
Mencuri waktu dari pelukan keluarga hangat.
Malam larut tapi mata tak mau tutup,
Dunia maya tarik aku semakin dalam,
Hidup nyata mulai pudar perlahan.
Kabel kusut menjerat kaki di kamar sempit,
Smartphone panas membakar telapak tangan,
Dunia maya janjikan teman ribuan jiwa,
Tapi hati sunyi kehilangan suara asli.
Chat dingin ganti obrolan malam,
Like palsu isi lubang kesepian,
Jerat ini semakin erat mengikat.
Bangunlah dari mimpi pixel yang palsu,
Matikan tombol rasakan angin pagi segar,
Tantangan digital ujian jiwa kuat,
Kembalikan nyata pada hidup hakiki.
Buku tua di rak panggil namaku,
Tawa nyata lebih manis dari emoji,
Bebaslah dari layar yang menipu.
Malam tiba layar masih memanggil kuat,
Tapi kini aku pilih jalan setapak hijau.
Teknologi sahabat bukan tuan zalim,
Hidup kembali bernyawa penuh,
Sentuhan hangat tak tergantikan,
Nyata adalah kemenangan.
Esok hari cerah tanpa jerat virtual,
Kita hubungkan dunia ikatan sungguh,
Kemajuan digital jadi alat berguna,
Bukan belenggu yang merampas jiwa.
Main bola di lapangan lebih riang,
Cerita langsung isi hati tulus,
Manusia tetap pusat segalanya,
Digital maju tapi kemanusiaan utama.
Palembang,30 Maret 2026
JANJI MENGHIANATI
Karya:Arafah Rauf
Di meja rapat mewah janji palsu beterbangan,
Pemimpin tersenyum kantong gemuk tebal,
Amplop cokelat menyogok hati haus kuasa,
Sementara jembatan roboh desa terpencil.
Rakyat lapar di pinggir jalan panas,
Kebijakan penyimpang racun lambat,
Bangsa merana dalam diam.
Rakyat menangis beban pajak gila,
Suara dicekik spanduk kampanye bohong,
Kebijakan seperti ular berbisa licin,
Menggerogoti daging bangsa rapuh.
Sekolah reyot anak tak belajar,
Rumah sakit kosong obat langka,
Penyimpangan ini dosa besar.
Bangkitlah saudara tuntut cahaya kebenaran,
Robek tabir gelap penyimpangan malam,
Dari tangan kita lahir politik bersih jujur,
Bangsa bangkit tak lagi belenggu palsu.
Demo damai isi jalan raya,
Fakta terungkap media bebas,
Perubahan dimulai sekarang.
Laporkan fakta nyalakan obor pengawasan,
Suara rakyat gemuruh badai deras.
Pemimpin sejati dari pilihan cerdas,
Kebijakan benar pondasi kuat,
Korupsi sirna di penjara gelap,
Keadilan kembali.
Kini langit cerah keadilan bersinar terang,
Penyimpangan sirna tangan generasi muda,
Politik jadi pelayan rakyat setia,
Bukan tuan zalim haus harta.
Sekolah bagus anak pintar belajar,
Jalan mulus rakyat bebas bergerak,
Bangsa kuat bersatu padu,
Warisan jujur untuk anak cucu.
Palembang, 30 Maret 2026
SAYAP TERBANGUN
Karya:Arafah Rauf
Di depan cermin retak bayangku ragu menatap,
Tangan gemetar pegang mimpi terlalu tinggi,
Suara dalam berbisik kau tak cukup kuat,
Tapi hati bangkit tolak bayang gelap.
Napas dalam siapkan langkah pertama,
Dunia tunggu keberanianmu,
Percaya diri lahir hari ini.
Langkah pertama panggung terang benderang,
Mata lurus garis akhir penuh tantang,
Percaya diri api menyala terang,
Hancurkan dinding keraguan rapuh.
Tepuk tangan pelan mulai bergema,
Keyakinan tumbuh seperti pohon,
Kau mampu lebih dari mimpi.
Sekarang sayap terbentang lebar bebas,
Terbang awan capai bintang impian,
Bangun kekuatan dalam dada hangat,
Percaya diri abadi tak kalah waktu.
Teman tepuk bahu bensin semangat,
Rintangan lompat lebih tinggi lagi,
Diri ini berlian tersembunyi.
Setiap jatuh ajar berdiri tegar kuat,
Panggung besar tunggu langkahmu yakin.
Tak ada batas untuk jiwa percaya,
Mimpi jadi nyata di tanganmu,
Keyakinan tak tergoyahkan,
Terbanglah tinggi.
Akhirnya puncak angin bisik kemenangan,
Percaya diri buka pintu terkunci rapat,
Hidup petualangan warna cerah riang,
Kau pencipta nasib dengan hati teguh.
Dari kecil jadi pahlawan diri sendiri,
Orang lain kagum lihat cahayamu,
Tak ada lagi ragu di dada,
Abadi percaya diri selamanya.
Palembang, 30 Maret 2026
LANGKAH KECIL MENJAGA BUMI
Karya: Deo Albero Manurung
Bumi adalah rumah yang kita huni
Tempat segala makhluk hidup bersatu
Gunung, laut, dan hutan yang hijau
Menyimpan keindahan yang tak terganti
Namun kini mulai terasa rapuh
Akibat ulah tangan yang tak peduli
Pepohonan ditebang tanpa batas
Sungai tercemar oleh limbah
Udara tak lagi sejuk terasa
Langit biru mulai memudar
Semua menjadi tanda peringatan
Bahwa bumi butuh perhatian
Langkah kecil dapat kita mulai
Membuang sampah pada tempatnya
Menanam pohon di sekitar kita
Menghemat air dan energi
Hal sederhana yang kita lakukan
Memberi dampak besar bagi bumi
Jangan tunggu hingga semuanya rusak
Baru kita sadar dan menyesal
Karena waktu tak dapat kembali
Dan alam tak bisa bicara
Namun ia memberi tanda jelas
Melalui perubahan yang terasa
Mari bersama menjaga bumi
Dengan penuh cinta dan tanggung jawab
Agar generasi yang akan datang
Masih dapat menikmati indahnya
Karena bumi adalah titipan
Yang harus kita jaga selamanya
Palembang, 14 April 2026
PELUKAN UNTUK MEREKA YANG TERLUKA
Karya: Deo Albero Manurung
Di sudut sunyi kehidupan
Ada hati yang sedang terluka
Menangis tanpa suara
Memendam rasa yang mendalam
Tak semua orang mengerti
Apa yang sedang mereka rasakan
Senyum terkadang hanya topeng
Menutupi kesedihan yang nyata
Langkah terasa berat dijalani
Hari-hari penuh dengan beban
Namun mereka tetap bertahan
Dalam diam yang menyakitkan
Kita mungkin tak bisa menghapus
Segala luka yang mereka alami
Namun kita bisa hadir
Dengan perhatian dan kepedulian
Memberi waktu untuk mendengar
Tanpa menghakimi perasaan mereka
Satu pelukan penuh makna
Mampu menguatkan hati yang rapuh
Kata sederhana penuh kasih
Dapat menenangkan jiwa yang gelisah
Karena cinta sesama manusia
Adalah obat paling berharga
Mari belajar untuk peduli
Melihat dengan hati yang tulus
Karena dunia akan lebih indah
Jika kita saling menguatkan
Dan tak ada lagi yang merasa sendiri
Dalam menghadapi luka kehidupan
Palembang, 14 April 2026
INDAHNYA PERBEDAAN KITA
Karya: Deo Albero Manurung
Kita lahir dari latar berbeda
Dengan budaya dan bahasa beragam
Warna kulit dan cara berpikir
Membentuk keunikan masing-masing
Namun di balik semua itu
Ada kesamaan sebagai manusia
Perbedaan bukanlah alasan
Untuk saling menjauh dan membenci
Justru menjadi kekuatan
Yang memperkaya kehidupan
Seperti warna-warni pelangi
Yang menghiasi langit setelah hujan
Dalam perbedaan kita belajar
Untuk saling memahami arti hidup
Menghargai setiap pendapat
Dan menerima kekurangan orang lain
Karena tak ada yang sempurna
Di dunia yang luas ini
Jika kita hidup dalam harmoni
Tanpa memandang perbedaan
Maka damai akan tercipta
Di setiap langkah kehidupan
Dan rasa persaudaraan tumbuh
Mengalahkan segala perpecahan
Mari kita jaga kebersamaan
Dengan hati yang penuh kasih
Karena dalam perbedaan
Tersimpan keindahan sejati
Yang membuat hidup lebih berarti
Dan dunia terasa lebih damai
Palembang, 14 April 2026
DI TENGAH DUNIA DIGITAL
Karya: Deo Albero Manurung
Dunia kini dalam genggaman
Melalui layar yang bercahaya
Informasi datang tanpa batas
Menghubungkan jarak yang jauh
Segala hal terasa cepat
Dalam dunia digital yang luas
Namun kemudahan ini membawa
Tantangan yang tak terlihat
Waktu terbuang tanpa terasa
Saat kita larut dalam layar
Interaksi nyata mulai berkurang
Dan kehangatan perlahan hilang
Kata-kata mudah terlontar
Tanpa memikirkan dampaknya
Luka bisa tercipta seketika
Melalui pesan dan komentar
Padahal di balik layar itu
Ada hati yang bisa terluka
Bijaklah dalam menggunakan
Teknologi yang kita miliki
Gunakan untuk hal yang baik
Mencari ilmu dan berbagi
Bukan untuk menyakiti sesama
Atau menebar hal negatif
Mari seimbangkan kehidupan
Antara dunia nyata dan maya
Agar kita tetap menjadi manusia
Yang peduli dan berempati
Karena teknologi hanyalah alat
Dan kita yang menentukan arah
Palembang, 14 April 2026
HARAPAN DI HARI ESOK
Karya: Deo Albero Manurung
Mentari pagi kembali bersinar
Membawa harapan yang baru
Menghapus gelapnya malam
Yang sempat menyelimuti hati
Memberi semangat untuk melangkah
Menjalani hari yang menanti
Tak semua perjalanan mudah
Kadang kita jatuh dan terluka
Harapan terasa menjauh
Saat masalah datang bertubi
Namun di balik semua itu
Ada kekuatan yang tersembunyi
Setiap langkah yang kita ambil
Adalah bagian dari proses
Menuju masa depan yang lebih baik
Walau penuh rintangan dan ujian
Karena hidup bukan tentang mudah
Tetapi tentang bertahan dan bangkit
Jangan biarkan rasa putus asa
Menghentikan langkah kita
Karena harapan selalu ada
Bagi mereka yang percaya
Bahwa esok akan lebih cerah
Dari hari yang telah berlalu
Teruslah berjalan dengan yakin
Walau jalan terasa berat
Karena di ujung perjalanan
Ada kebahagiaan menanti
Dan harapan yang kita jaga
Akan menjadi kenyataan
Palembang, 14 April 2026
TENTANG KITA
Karya : Yohanesa Cypilia Septiani
Absen :31
Lalu lalang merajut benang
Di sudut waktu, kita terdiam, terpasung
Jantung berdetak, irama gamang
Aroma rindu di tiap embun tergantung
Semesta membisu, hanya kita yang berdendang
Kisah sederhana mulai terkenang
Pena ragu menari di lembar putih
Merangkai aksara dari dalam hati
Binar mata menyimpan janji suci
Menyentuh jiwa tanpa terucap pasti
Dunia seolah berhenti, penuh misteri
Di antara kita, asa tumbuh tak henti
Senyum tipis sejuta makna terkandung
Hangatnya meresap, menghapus gundah
Setiap tawa, bagai melodi yang merangkung
Mengalirkan damai, menepis resah
Waktu beringsut tak ingin kita terkurung
Dalam benak ukiran cinta kian megah
Jemari canggung bergeser pelan
Mencari dekap meski tak terucap
Kata-kata bisu lebih deri sekian
Mengukir rasa, takkan terhapus sirap
Di bawah bulan kita tatapan
Menjelajah asa di kalbu yang lelap
Angin berdesir mebawa pesan
Tentang dua hati yang mulai menyatu
Langkah kaki seiring tanpa beban
Merajut masa depan tanpa ragu
Setiap detik, anugerah Tuhan tercurahkan
Menyentuh kalbu, menyatu di nadimu
Malam berlalu, bintang tetap berseri
Seperti kita, abadi dalam ingatan
Walau badai datang, takkan gentar berdiri
Menjaga janji dalam setiap hentakan
Ini tentang kita, kisah takkan mati
Melukiskan cinta di kanvas kenyataan
Palembang, 30 Maret 2026
DERITA TAK TERUCAP
Karya : Yohanesa Cypilia Septiani
Absen : 31
Di sudut jalan berdebu kulihat engkau
Tangan kecil yang memegang karung lusuh
Ada mendung di matamu
Tapi kau diam tak mengeluh
Seolah dunia berjalan tanpa restu
Menyimpan pilu, tak pernah luruh
Kau duduk memeluk lutut gemetar
Menyimpan badai yang enggan berpijar
Menatap dunia yang luas terhampar
Di tengah bising yang kian nanar
Tanganmu mengadah, kecil dan kaku
Mencari seulas kasih di balik saku
Tak ada tanya tentang mengapa dan siapa
Sebab luka seringkali benci pada kata
Hanya jemariku menyentuh bahu hampa
Menyalurkan hangat di tengah dingin semesta
Kita berbagi beban dalam hening yang menyapa
Tanpa perlu aksara untuk mengeja air mata
Dari dalam tas, ku berikan sebungkus roti
Engkau menerimanya tanpa banyak suara
Hanya anggukan kecil penuh arti
Lebih jujur dari banyak kata
Terpancar syukur, suci bersemi
Mengukir senyum, menghapus duka
Lampu jalan berkedip kehabisan napas
Menyinari peluh, jatuh di aspal kasar
Kau memikul beban tak kunjung lepas
Di pundak kecil, dipaksa menjadi besar
Aku pinjamkan punggungku agar kau bebas
Sejenak bersandar dari hidup nan hingar
Bukan emas sanggup kuberikan, Kawan
Hanya telinga, wadah penampung sesak
Sebab derita memang butuh kawan
Bukan penghakiman bikin hari retak
Di bawah langit mulai berawan
Kita jalan pelan, meski langkah agak pincang
Tawa hambar kau poles di bibir pecah
Menutup perih menganga dalam dada
Aku tahu lelahmu bukan sekadar lelah
Tapi perjuangan tanpa jeda
Sandarkan kepalamu, tumpahkan keluh kesah
Sampai badai di kepalamu reda
Palembang, 30 Maret 2026
NAPAS TANAH
Karya : Yohanesa Cypilia Septiani
Absen : 31
Di telapak kaki, tanah merah berdenyut
Menelan keringat kaum kuli dan petani
Hutan hijau tegak, duka lara menyusut
Menjaga nafas di paru-paru negeri
Karang tajam berdiri, ombak tak surut
Mengunci janji di garis batas abadi
Cangkul beradu batu, sawah pun bicara
Tentang emas padi dan punggung terbakar
Angin pesisir membawa kabar lara
Tentang layar robek dan kemudi tegar
Di sini cinta bukan sekadar aksara
Tapi akar kuat, tempat jiwa berjangkar
Langit khatulistiwa, tungku api biru
Membakar semangat di dada pemuda
Tak ada lagi tunduk, tak ada lagi ragu
Meski peluru tajam mengincar di dada
Kita kumpulkan serpihan tulang dan debu
Membangun rumah di atas luka lama
Gemuruh pasar, riuh lidah beradu
Bhinneka warna di satu piring tembaga
Ada aroma kopi dan asap tungku
Menyatu harum di ruang-ruang keluarga
Kita menenun hari dengan benang rindu
Menjaga warisan, merawat sisa surga
Sungai mengalirkan darah para moyang
Membasuh wajah kota yang kian bising
Jangan biarkan jati diri terbang melayang
Terseret arus zaman, luruh dan asing
Di bawah bendera, kita tegak menantang
Meski badai datang, nyali takkan miring
Lihatlah tangan-tangan kasar itu
Memahat gunung, membendung air mata
Mereka tak butuh janji palsu dan kaku
Hanya ingin hidup tanpa rasa nista
Cinta pada bangsa, bulat dalam batu
Bukan sekadar hiasan di balik kata
Esok hari matahari akan kembali bangkit
Menjemput mimpi di pucuk menara
Meski jalan mendaki, terasa sedikit sakit
Kita tetap satu, penjaga nusantara
Jangan biarkan satu jengkal pun terhimpit
Sebab di sini, kita pemilik tahta
Palembang, 30 Maret 2026
GEMILANG di DADA
Karya : Yohanesa Cypilia Septiani
Absen : 31
Aku tak perlu jadi paling cepat
Atau berdiri paling depan demi terlihat hebat
Cukup melangkah tenang dan tepat
Di jalan pilihan berbekal tekad bulat
Meski pelan, asalkan langkah tetap kuat
Menuju mimpi, dalam doa tulus kusemat
Kini aku melangkah, hati lebih tenang
Tanpa sibuk mengukur diri dengan sang pemenang
Tak perlu lagi merasa cemas atau bimbang
Sebab setiap jiwa punya waktu untuk gemilang
Aku percaya cahaya abadi takkan lekang
Membawa diriku pulang ke rumah terang
Dunia sesekali riuh dengan suara mencela
Menabur ragu di sela jejak kutanam di bumi
Namun, aku memilih tetap mencintai diri
Menjaga api harapan tetap abadi di sini
Bukan tentang siapa paling tinggi mendaki
Tapi tentang siapa paling jujur pada nurani
Lihatlah telapak tanganku mulai terbiasa
Menggenggam harapan di tengah badai menyiksa
Aku kemudikan hidup penuh rasa
Takkan kubiarkan kemudi ini patah dan binasa
Sebab percaya diri, jembatan nan perkasa
Menyatukan mimpi dengan nyata kuasa
Jangan paksa mekarku sama dengan bunga lain
Sebab setiap kelopak punya rahasia dijalin
Aku tak butuh pujian serapuh kain
Mudah robek saat angin bermain
Cukup bagiku menjadi diri tulus dan yakin
Di atas panggung hidup yang tak pernah bercanda
Esok saat fajar menyapa dengan senyum hangat
Aku akan berdiri tegak penuh semangat
Bukan untuk pamer atau merasa paling hebat
Tapi membuktikan bahwa aku telah selamat
Ini tentang aku, jiwa takkan pernah tamat
Melukis asa di dada dengan cinta hangat
Palembang, 30 Maret 2026
DUA JANGKAR di SATU DADA
Karya : Yohanesa Cypilia Septiani
Absen: 31
Di sudut ruangan itu kini membisu
Meninggalkan tawa yang lamat
Allah telah panggil Ayah ke keabadian biru
Meninggalkan jejak iman di dalam dada kusemat
Meski raganya tak lagi bisa memeluk pundakku
Jiwa dan doanya tetap menjadi pelita di malam pekat
Kini Ibu berdiri tegak di ambang pintu fajar
memakai sepatu Ayah yang terasa terlalu besar
Kau lipat kesedihanmu di balik senyum tegar
Menjadi kemudi di tengah ombak kasar
Meski lelahmu seringkali membuat napasmu bergetar
Kau tak biarkan mimpi kami layu dan memudar
Tanganmu yang halus, kini mengeras dan legam
Beradu dengan peluh demi sesuap nasi di meja
Kaulah tiang kokoh pelawan kelam
Menjaga atap kami agar tak runtuh dimakan usia
Di matamu, kulihat cinta tak pernah padam
Meski kau memikul beban Ayah dengan sisa tenaga
Asap dapur tua mencatat baktimu yang jernih
Mengolah sisa harapan dalam kuali yang menghitam
Ibu tak pernah mengeluh meski hidup terasa payah
Menyembunyikan tangis saat malam mulai tenggelam
Kau lah tempat pulang saat duniaku mulai pecah
Membasuh luka hatiku dengan kasih mendalam
Maafkan aku kadang tak melihat letihmu
Saat kau pulang dengan bahu terasa kaku
Aku tahu kau merindukan sandaran di sampingmu
Namun, kau memilih jadi dinding paling tangguh
Ibu, pahlawan nyata dalam setiap langkahku
Menjaga nyala api agar kami tetap utuh
Waktu beringsut, mencuri warna di rambut hitammu,
Kerut lelah mulai terukir di kening suci
Di mataku, kau tetaplah bidadari tanpa sayapmu
Berjuang sendirian tanpa merasa benci
Aku ingin menjadi tongkat di masa senja nanti untukmu
Membayar setiap tetes keringat dengan bakti di hati
Di hadapan Altar, dua nama kusebut dalam doa
Satu untuk Ayah disurga, satu untukmu yang di dunia
Semoga Tuhan menjagamu dari segala lara dan duka
Sebab Ibu mukjizat nyata bagi kami semua
Terima kasih telah menjadi akar paling setia
Menopang hidup kami hingga kami mampu menyentuh cakrawala
Palembang, 30 Maret 2026
Dekat Tanpa Banyak Kata
Karya: M. Wildan Asraf
Kelas: X.3
Nomor Absen: 22
Aku duduk di bangku belakang
Kamu membuka buku tulis
Pulpen biru bergerak cepat
Kipas kelas berputar pelan
Aku menoleh sebentar
Lalu kembali menunduk
Kita berdiri di depan kantin
Kamu memegang uang kertas
Es teh dingin di tanganmu
Kursi plastik kita tarik
Kamu bercerita singkat
Aku hanya mendengarkan
Hujan turun saat pulang
Kita berteduh di teras
Air menetes dari rambutmu
Aku memberi jaket tipis
Kita berjalan pelan
Sepatu terasa basah
Malam di kamar sepi
Ponsel menyala terang
Aku mengetik pesan
Lalu menghapus lagi
Akhirnya kukirim juga
Satu kalimat sederhana
Kita duduk di bawah pohon
Buku terbuka di pangkuan
Angin sore lewat pelan
Tangan kita berdekatan
Tak banyak yang dibicarakan
Tapi terasa berbeda
Palembang, 14 April 2026
Langkah Kecil untuk Alam
Karya: M. Wildan Asraf
Kelas: X.3
Nomor Absen: 22
Pagi di halaman rumah
Keran air kubuka pelan
Ember terisi setengah
Aku menutupnya kembali
Sisa air kupakai menyiram
Tanaman di pot depan
Di jalan menuju sekolah
Aku membawa botol minum
Tidak membeli air kemasan
Kertas bekas kusimpan
Di tas bagian belakang
Untuk dipakai lagi
Saat istirahat siang
Bungkus makanan kupisah
Sampah plastik di kantong kecil
Daun sisa di tempat berbeda
Teman melihat lalu ikut
Kita melakukannya bersama
Sepulang sekolah sore
Aku mematikan lampu kamar
Membuka jendela lebar
Angin masuk perlahan
Tidak perlu kipas menyala
Udara terasa cukup
Malam sebelum tidur
Aku melihat halaman gelap
Tanaman berdiri diam
Tanah masih terasa lembap
Aku sadar dari hal kecil
Bumi bisa tetap terjaga
Palembang, 14 April 2026
Dari Rumah Aku Belajar
Karya: M. Wildan Asraf
Kelas: X.3
Nomor Absen: 22
Pagi di ruang depan
Ibu merapikan tas sekolahku
Ayah mengikat tali sepatu kerja
Jam dinding berdetak pelan
Aku berdiri sambil memakai seragam
Melihat mereka tanpa banyak bicara
Di dalam rumah
Meja makan sudah terisi
Nasi dan lauk sederhana
Ibu menyuruhku makan dulu
Ayah mengecek tas kerjanya
Semua berjalan seperti biasa
Siang di kelas
Aku membuka buku tulis
Menyalin tulisan di papan
Sesekali teringat rumah
Tentang usaha yang kulihat
Sejak pagi tadi
Sore saat pulang
Pintu rumah terbuka sedikit
Ibu menyambut dari dalam
Ayah duduk di kursi depan
Aku masuk tanpa banyak kata
Tapi merasa tenang
Malam sebelum tidur
Aku merapikan meja belajar
Lampu menyala di sudut kamar
Suara mereka terdengar pelan
Aku mengingat semua yang kulihat
Dan merasa bangga pada mereka
Palembang, 14 April 2026
Bersama dalam Perbedaan
Karya: M. Wildan Asraf
Kelas: X.3
Nomor Absen: 22
Pagi di halaman sekolah
Teman-teman datang dari arah berbeda
Ada yang memakai peci hitam
Ada yang membawa kalung salib kecil
Seragam kita tetap sama
Kita saling menyapa biasa
Di dalam kelas
Nama-nama dipanggil satu per satu
Logat bicara tidak sama
Ada yang cepat, ada yang pelan
Kita duduk di bangku yang sama
Belajar tanpa membedakan
Saat istirahat
Bekal dibuka di meja panjang
Ada nasi, roti, dan mie
Kita saling mencicipi sedikit
Tertawa tanpa rasa canggung
Semua terasa dekat
Sore di lapangan
Kita bermain dalam satu tim
Tidak melihat asal atau bahasa
Hanya mengejar bola yang sama
Teriakan terdengar bersamaan
Kita menang bersama
Pulang menjelang senja
Langkah kaki mulai berpisah
Jalan yang ditempuh berbeda
Tapi kenangan tetap sama
Tentang hari yang kita jalani
Dalam perbedaan yang menyatukan
Palembang, 14 April 2026
Tempat Aku Tumbuh
Karya: M. Wildan Asraf
Kelas: X.3
Nomor Absen: 22
Pagi di halaman sekolah
Bendera merah putih naik perlahan
Tali ditarik dengan tangan tegap
Angin membuat kain bergerak
Aku berdiri dalam barisan
Melihat tanpa berpaling
Di dalam kelas
Peta besar tergantung di dinding
Garis pulau terlihat jelas
Dari barat sampai timur
Aku menelusuri dengan jari
Mengingat satu per satu
Saat istirahat
Teman duduk di meja panjang
Ada cerita dari daerah berbeda
Logat terdengar tidak sama
Kami saling mendengarkan
Tanpa merasa jauh
Sore di lapangan
Kami berlari dalam satu tim
Suara panggilan bercampur
Langkah kaki tidak seragam
Tapi tujuan tetap sama
Menyelesaikan permainan bersama
Pulang menjelang senja
Aku berjalan di jalan kecil
Melihat bendera di depan rumah
Terpasang di pagar sederhana
Aku merasa bagian dari tempat ini
Yang ingin selalu aku jaga
Palembang, 14 April 2026
dari: pelukan untuk sesama
karya: cliff ivander orville
kelas:X.3
Nomor absen: 6
Pagi datang membawa luka
Di sudut jalan kulihat duka
Wajah lelah penuh cerita
Tentang hidup yang tak mudah
Namun hati tergerak juga
Untuk berbagi rasa yang ada
Langkah kecil mendekat pelan
Menyapa tanpa perbedaan
Tangan dingin kugenggam hangat
Memberi harap yang sempat hilang
Dalam sunyi yang menyayat
Cinta hadir tanpa syarat
Air mata jatuh perlahan
Bukan karena kelemahan
Namun tanda peduli nyata
Pada mereka yang terluka
Bahwa kita tak sendiri berjalan
Ada kasih dalam kebersamaan
Senja datang penuh makna
Mengajarkan arti sesama
Berbagi bukan sekadar kata
Namun tindakan penuh rasa
Walau kecil yang kita beri
Mampu berarti bagi yang sepi
Malam sunyi jadi saksi
Bahwa cinta tak pernah mati
Saat kita saling menjaga
Dalam suka maupun duka
Cinta tumbuh di hati ini
Untuk mereka yang menderita lagi
Judul: Cinta Nusa Bangsa
karya: cliff ivander orville
kelas:X.3
Nomor absen: 6
Pagi menyapa bumi pertiwi
Mentari hangat menyinari negeri
Angin berhembus membawa damai
Di tanah air yang kucintai
Terpatri bangga dalam hati
Untuk nusa dan bangsa ini
Langkah tegap generasi muda
Menjaga negeri penuh cinta
Walau berbeda suku dan bahasa
Tetap satu dalam rasa
Bersatu dalam semangat jiwa
Demi Indonesia tercinta
Gunung, laut, dan hamparan hijau
Menjadi saksi indah negeriku
Kekayaan alam tak ternilai
Anugerah Tuhan yang tak terurai
Harus dijaga sepanjang waktu
Agar lestari selalu
Waktu berjalan terus maju
Tantangan datang silih berlalu
Namun cinta takkan pudar
Pada tanah air yang besar
Kami berdiri tetap teguh
Menjaga bangsa sepenuh hati utuh
Malam hadir penuh harapan
Doa terucap untuk negeri tercinta
Agar damai selalu terasa
Rakyat hidup penuh sejahtera
Cinta nusa tetap menyala
Selamanya dalam jiwa kita
Judul: Cinta untuk Orang Tua
karya: cliff ivander orville
kelas:X.3
Nomor absen: 6
Pagi hadir dengan cahaya
Mengingatkanku pada mereka
Yang selalu ada tanpa lelah
Memberi kasih tanpa arah
Cinta tulus sepanjang masa
Dari orang tua tercinta
Langkah kecilku mereka tuntun
Dengan sabar penuh santun
Walau lelah tak pernah mengeluh
Demi aku mereka tempuh
Segala jalan penuh peluh
Agar hidupku tak jatuh
Waktu berjalan aku tumbuh
Dari lemah menjadi teguh
Namun kasih mereka tetap sama
Tak pernah hilang tak pernah sirna
Menjadi kekuatan jiwa
Dalam setiap langkahku yang nyata
Senja datang aku mengerti
Betapa besar cinta ini
Pengorbanan tak terhitung
Doa-doa yang selalu teruntun
Menjaga aku setiap hari
Dengan hati yang suci
Malam sunyi kupanjatkan doa
Untuk ayah dan juga bunda
Semoga bahagia selalu
Dalam hidup yang mereka tuju
Aku bangga menjadi anakmu
Cinta ini kan abadi selalu
Judul: Dunia Digital yang Maju
karya: cliff ivander orville
kelas:X.3
Nomor absen: 6
Pagi kini terasa berbeda
Dunia terhubung dalam sekejap mata
Layar kecil jadi jendela
Membuka luas ilmu dan karya
Teknologi hadir membawa cahaya
Mengubah hidup manusia
Langkah zaman terus melaju
Digital hadir tanpa ragu
Informasi mudah didapat
Dalam waktu yang sangat singkat
Membantu manusia semakin hebat
Menggapai mimpi dengan cepat
Belajar kini tak terbatas
Dari mana saja terasa bebas
Ilmu tersebar tanpa batas
Menyentuh semua lapisan luas
Membuka peluang yang jelas
Untuk masa depan yang cerdas
Namun kita harus bijak
Gunakan teknologi dengan bijak
Jangan sampai terlena arus
Yang bisa membuat hati terus
Lupa diri dan jadi lepas
Dari nilai yang harus dijaga
Malam ini dunia bersinar
Oleh cahaya digital yang besar
Semoga kemajuan terus berarti
Membawa kebaikan sejati
Agar manusia tetap mengerti
Teknologi untuk masa depan nanti
Judul: Harapan Hidup ke Depan
karya: cliff ivander orville
kelas:X.3
Nomor absen: 6
Pagi datang penuh harapan
Menyapa hidup yang perlahan
Kembali pada jalan tenang
Tanpa rasa cemas berlebihan
Menjalani hari dengan ringan
Seperti mimpi yang diinginkan
Langkah kecil mulai tertata
Menjalani hidup sederhana
Tak perlu mewah berlebihan
Cukup damai dalam keseharian
Tertawa bersama orang tercinta
Menjadi bahagia yang nyata
Waktu berjalan membawa arti
Tentang hidup yang lebih pasti
Menjaga hati tetap tenang
Walau masalah kadang datang
Namun yakin semua kan usai
Dan hidup kembali damai
Senja hadir memberi makna
Bahwa sabar tak pernah sia-sia
Setiap luka akan reda
Bila hati tetap percaya
Hidup normal akan terasa
Jika kita mampu menjaga
Malam tiba penuh harapan
Doa terucap dalam keheningan
Untuk esok yang lebih baik
Hidup damai tanpa terusik
Menjalani hari tanpa beban
Menuju masa depan yang aman
ANGIN YANG MEMBAWA SUARA
Karya : Benita Lisbeth Marpaung
Berbicara seakan itu sia-sia,
Entah seperti apa aslinya,
Apa aku saja yang merasa atau orang lain juga?
Terkadang lebih baik ataupun tidak,
Hati ini mulai bertanya tanya,
Di tengah berisiknya suara.
Banyak rakyat yang berbicara,
Tetapi hanya lewat seperti angin,
Jumlah angin itu tidak terbatas,
Dan entah di mana tujuan angin itu,
Suara dari angin itu begitu keras,
Yang membuat telinga terasa terganggu.
Rakyat itu banyak,
Tapi di mana ya suaranya?
Seolah olah itu tidak ada,
Dan jarang didengar,
Seperti membingungkan,
Seperti mencari sesuatu di tengahnya gelap.
Terkadang ada yang didengar,
Tapi sering kali tidak ada jawaban,
Suara itu hanya terlintas,
Yang berjalan seperti layaknya angin,
Yang tidak tau mau ke mana,
Hanya mengikuti alur.
Emosi itu terpendam,
Sampai banyak warga yang berkumpul,
Yang membuat keadaan semakin kacau,
Tapi ada saja yang tidak sadar,
Bahwa suara itu harus diperjuangkan,
Suara sekecil apa pun.
Palembang,14 April 2026
BALASAN TANPA KATA
Karya : Benita Lisbeth Marpaung
Apa itu perasaan ?
Saat merasa sedih,
Bukan sekarang sekadar diam dan luput,
Tetapi ketika hati mulai sadar,
Ketika sedih tak butuh banyak bicara,
Hanya butuh dekap yang menenangkan jiwa.
Saat dunia ini mulai berjalan,
Sangat banyak beban dipikul,
Dengan senyuman yang tipis,
Menyimpan makna yang begitu dalam makna,
Dan tidak ada artinya lagi,
Ketika senyum itu hilang.
Disitulah hati kecil ini berkata,
Apa perasaan yang ku rasakan?
Apakah ini benar-benar ada?
Tetapi ini bukan tentang perasaan,
Tetapi juga dengan keadaan,
Yang membawa harapan.
Perasaan itu bukanlah ucapan,
Dan bukan juga kata-kata,
Melainkan tindakan,
Dan isi dari hati kita,
Apakah kita bisa menerima?
Entah seperti apa jadinya.
Meski tidak sesuai harapan,
Dan tidak tau apa yang terjadi,
Cinta itu memang ada,
Tetapi kita tidak bisa memaksakan,
Perasaan itu nyata,
Dan akan memiliki makna.
Maka aku belajar,
Lelah itu wajar,
Karena dunia ini bukan hanya milik kita,
Tetapi juga orang lain,
Cinta sejati itu tidak akan menuntut,
Dan akan kembali pada saatnya.
Palembang, 14 April 2026
JEJAK BERHARGA
Karya : Benita Lisbeth Marpaung
Hidup penuh tantangan,
Dan kita akan tetap melangkah,
Itu adalah proses kehidupan,
Yang akan selalu berjalan,
Melewati rintangan yang menghadang,
Menguatkan hati dalam setiap rintangan.
Terkadang aku bingung,
Tetapi aku mencoba tidak menyerah,
Walau yang kita inginkan belum tentu tercapai,
Tetapi itu lah perjalanan hidup,
Mencari arah di tengah kegelapan,
Menata harapan di setiap persimpangan,
Tapi rasa takut itu tetap ada,
Aku ragu untuk maju,
Proses itu membuat aku lelah,
Tetapi aku tidak mau putus asa,
Biarkan waktu yang memberi jawaban,
Sambil terus memandang kehidupan,
Terkadang kita tau pentingnya proses,
Langkah dalam mengambil keputusan,
Dan kita sadar,
Akan keputusan yang diambil,
Setiap pilihan ada konsekuensi,
Menjadi pelajaran yang harus di tekuni,
Sedih itu hal yang wajar,
Lelah itu juga hal yang wajar,
Tetapi janganlah itu berlarut,
Kita harus membawa suka cita,
Bangkit kembali dengan senyuman,
Dan menjalani hari dengan senyuman.
Palembang, 14 April 2026
ANTARA BANGKU SEKOLAH
Karya : Benita Lisbeth Marpaung
Diantara bangku sekolah,
Terkadang kita tidak menyadari,
Bahwa di sekolah itu,
Adalah tempat ramai orang mengenal cinta,
Di tengah - tengah suasana kelas,
Ada perasaan yang datang.
Aku pun tidak tau dari mana itu berasal,
Yang mengisi hari - hari lebih berwarna,
Terkadang pikiran itu tidak fokus,
Disaat mulai memandangnya,
Pikiran teralih sebentar,
Dan tersenyum sendiri.
Namun aku tetap diam,
Menyimpan rasa itu sendiri,
Semua itu tak harus terungkap,
Walau harapan itu ada,
Dan berharap dia menyadari hal itu,
Walaupun dia juga diam.
Dan aku mulai belajar mengerti,
Tentang perasaan itu,
Bahwa perasaan itu,
Tidak harus terbalas,
Ada yang singgah,
Ada yang bertemu cinta sejatinya.
Diantara itu semua,
Aku belajar suatu hal,
Bahwa memang cik itu sederhana,
Dan tidak harus dimiliki,
Dan perasaan itu tidaklah salah,
Itu adalah hal yang wajar.
Palembang, 14 April 2026
AKU PASTI BISA
Karya : Benita Lisbeth Marpaung
Aku masih sering ragu,
Untuk melangkah maju,
Hati selalu berbisik,
Seakan - akan aku tidak bisa,
Padahal belum di coba,
Rasa ragu itu ada terus.
Melihat orang lain,
Aku merasa tak berarti,
Selalu melihat orang lain,
Dan tidak memikirkan perasaan sendiri,
Dan aku tak sadar,
Bahwa aku melangkah sejauh ini.
Waktu itu terus berjalan,
Dan aku pun mulai sadar,
Langkah kecilku itu berarti,
Bagian dari proses ku,
Yang sangat berharga,
Karena itu perjalanan ku. -1
Aku belajar untuk mulai bangkit,
Mungkin prosesnya tidak cepat,
Walau sering gagal,
Aku tetap menguatkan diri,
Lelah itu wajar,
Tetapi janganlah berhenti.
Dan aku percaya,
Apa yang aku miliki itu,
Tidak sama dengan orang lain,
Hanya perlu menjadi diri sendiri,
Kita butuh inspirasi,
Bukanlah menyerah.
Hasil dari perjalanan itu memang ada,
Meski tidak sempurna,
Aku berani mencoba,
Tanpa takut salah,
Kesalahan itu pelajaran,
Tergantung mau berubah atau tidak.
Kita harus tau bahwa,
Menghargai diri itu penting,
Karena itulah ragamu,
Yang menuntun engkau,
Pada apa yang engkau inginkan,
Dan ketempat yang di tujuh.
Palembang, 14 April 2026
ANTARA BANGKU SEKOLAH
Karya : Benita Lisbeth Marpaung
Diantara bangku sekolah,
Terkadang kita tidak menyadari,
Bahwa di sekolah itu,
Adalah tempat ramai orang mengenal cinta,
Di tengah - tengah suasana kelas,
Ada perasaan yang datang.
Aku pun tidak tau dari mana itu berasal,
Yang mengisi hari - hari lebih berwarna,
Terkadang pikiran itu tidak fokus,
Disaat mulai memandangnya,
Pikiran teralih sebentar,
Dan tersenyum sendiri.
Namun aku tetap diam,
Menyimpan rasa itu sendiri,
Semua itu tak harus terungkap,
Walau harapan itu ada,
Dan berharap dia menyadari hal itu,
Walaupun dia juga diam.
Dan aku mulai belajar mengerti,
Tentang perasaan itu,
Bahwa perasaan itu,
Tidak harus terbalas,
Ada yang singgah,
Ada yang bertemu cinta sejatinya.
Diantara itu semua,
Aku belajar suatu hal,
Bahwa memang cik itu sederhana,
Dan tidak harus dimiliki,
Dan perasaan itu tidaklah salah,
Itu adalah hal yang wajar.
Palembang, 14 April 2026
AKU PASTI BISA
Karya : Benita Lisbeth Marpaung
Aku masih sering ragu,
Untuk melangkah maju,
Hati selalu berbisik,
Seakan - akan aku tidak bisa,
Padahal belum di coba,
Rasa ragu itu ada terus.
Melihat orang lain,
Aku merasa tak berarti,
Selalu melihat orang lain,
Dan tidak memikirkan perasaan sendiri,
Dan aku tak sadar,
Bahwa aku melangkah sejauh ini.
Waktu itu terus berjalan,
Dan aku pun mulai sadar,
Langkah kecilku itu berarti,
Bagian dari proses ku,
Yang sangat berharga,
Karena itu perjalanan ku.
Aku belajar untuk mulai bangkit,
Mungkin prosesnya tidak cepat,
Walau sering gagal,
Aku tetap menguatkan diri,
Lelah itu wajar,
Tetapi janganlah berhenti.
Dan aku percaya,
Apa yang aku miliki itu,
Tidak sama dengan orang lain,
Hanya perlu menjadi diri sendiri,
Kita butuh inspirasi,
Bukanlah menyerah.
Hasil dari perjalanan itu memang ada,
Meski tidak sempurna,
Aku berani mencoba,
Tanpa takut salah,
Kesalahan itu pelajaran,
Tergantung mau berubah atau tidak.
Kita harus tau bahwa,
Menghargai diri itu penting,
Karena itulah ragamu,
Yang menuntun engkau,
Pada apa yang engkau inginkan,
Dan ketempat yang di tujuh.
Palembang, 14 April 2026
INDONESIA DI HATIKU
Karya: Athanasius Davian Anggara
Di tanah air aku dilahirkan,
Negeri indah penuh harapan,
Dari sabang sampai merauke terbentang,
Keindahan alam yang tak terbilang,
Bumi pertiwi tempatku berpulang,
Indonesia selalu di dalam hati yang dalam.
Gunung menjulang menyentuh awan,
Laut biru luas menenangkan,
Hutan hijau penuh kehidupan,
Sawah subur jadi kebanggaan,
Alam kaya anugerah Tuhan,
Wajib kita jaga sepanjang zaman.
Beragam suku dan bahasa,
Berbeda budaya namun satu rasa,
Perbedaan bukan penghalang kita,
Melainkan kekuatan bangsa,
Bersatu dalam semangat yang sama,
Indonesia kokoh karena persaudaraan kita.
Aku bangga menjadi anak bangsa,
Menjunjung tinggi nilai dan budaya,
Dengan semangat juang yang membara,
Mengisi hari dengan karya nyata,
Berusaha demi masa depan negara,
Agar Indonesia semakin jaya.
Cinta nusa takkan pernah pudar,
Walau waktu terus berputar,
Aku akan selalu setia dan sadar,
Menjaga negeri dengan penuh sabar,
Berbakti tulus tanpa gentar,
Indonesia abadi untuk selamanya benar.
Palembang, 14 April 2026
PELUKAN BUMI
Karya: Athanasius Davian Anggara
Di bawah langit biru yang tenang,
Daun-daun hijau menari riang,
Angin berbisik lembut di telinga,
Menyapa hari penuh cinta,
Bumi ini rumah kita bersama,
Tempat hidup penuh makna.
Air sungai mengalir jernih,
Memantulkan cahaya yang bersih,
Ikan kecil berenang bebas,
Tanpa limbah, tanpa cemas,
Menjadi tanda alam yang sehat,
Indah, damai, dan kuat.
Hutan rindang penuh kehidupan,
Burung berkicau di dahan pepohonan,
Akar kuat mencengkam tanah,
Menjaga bumi dari bencana,
Semua bekerja tanpa lelah,
Demi alam yang tetap indah.
Namun kini banyak terluka,
Sampah berserakan di mana-mana,
Udara kotor penuh asap hitam,
Sungai keruh kehilangan harapan,
Bumi menangis dalam diam,
Menahan sakit yang terpendam.
Mari kita jaga dan rawat bersama,
Menanam pohon menjaga udara,
Buang sampah pada tempatnya,
Rawat alam dengan cinta,
Agar bumi tetap sejahtera,
Untuk masa depan kita semua.
Palembang, 14 April 2026
HARMONI DALAM PERBEDAAN
Karya: Athanasius Davian Anggara
Di bawah langit nusantara yang luas,
Kita berdiri dengan warna berbeda,
Bahasa, suku, dan budaya beragam,
Namun hati tetap satu dalam rasa,
Bersatu dalam damai dan harapan,
Menjadi bangsa yang penuh makna.
Terdengar alunan gamelan dan angklung,
Tarian indah dari berbagai daerah,
Baju adat menghiasi langkah kita,
Seperti pelangi yang mempesona,
Keindahan hadir dalam perbedaan,
Menyatu dalam harmoni bangsa.
Tangan-tangan saling menggenggam erat,
Tanpa memandang asal dan perbedaan,
Senyum hangat menjadi bahasa kita,
Dalam cinta yang tumbuh tanpa batas,
Persaudaraan terjalin begitu kuat,
Mengikat hati dalam kebersamaan.
Perbedaan bukanlah jurang pemisah,
Melainkan jembatan menuju persatuan,
Kita kuat karena keberagaman,
Kita indah karena kebersamaan,
Saling menghargai dan menghormati,
Menjadi dasar hidup bernegara.
Mari jaga negeri penuh warna ini,
Dengan rasa hormat dan peduli,
Karena dalam keberagaman kita belajar,
Arti cinta yang sejati dan abadi,
Menjaga persatuan sepanjang masa,
Untuk Indonesia yang damai dan lestari.
Palembang, 14 April 2026
LANGKAH ANAK MUDA
Karya: Athanasius Davian Anggara
Di pagi yang masih bersih,
Langkah kami mulai terarah,
Menyusun mimpi di langit timur,
Dengan harap yang tak pernah luntur,
Kami adalah generasi penuh rasa,
Siap melangkah menuju masa depan.
Tangan kecil menggenggam cita,
Mata tajam menatap masa depan,
Meski jalan kadang terang dan gelap,
Kami tetap berdiri tanpa lelah,
Melawan ragu dengan keyakinan,
Melangkah pasti demi harapan.
Kami bukan hanya penonton zaman,
Melainkan pelaku perubahan,
Suara kami adalah harapan,
Gerak kami adalah jawaban,
Untuk negeri yang kami dambakan,
Menuju masa depan gemilang.
Dengan semangat yang terus menyala,
Kami jaga persatuan bangsa,
Tanpa melihat perbedaan,
Kami rajut kebersamaan,
Dalam satu tujuan mulia,
Untuk Indonesia yang lebih baik.
Wahai kawan, jangan menyerah,
Meski dunia terasa lelah,
Langkahkan kaki dengan berani,
Ukur waktu hari demi hari,
Karena masa depan ada di tangan kita,
Mari berjuang bersama selamanya.
Palembang, 14 April 2026
LANGKAH MENUJU IMPIAN
Karya: Athanasius Davian Anggara
Di sudut senyap aku bermimpi,
Menyelami harapan dalam sunyi,
Seperti bintang di langit tinggi,
Cita-cita terus memanggil diri,
Menuntunku melangkah setiap hari,
Menuju masa depan yang berarti.
Jalan panjang terbentang di depan,
Tak selalu terang, kadang gelap menekan,
Namun tekad tak pernah padam,
Meski badai datang menghadang,
Aku tetap berdiri dan bertahan,
Mengejar mimpi penuh harapan.
Langkah kecil ku tapaki pasti,
Walau jatuh bangkit kembali,
Keringat menjadi saksi,
Bahwa mimpi tak sekadar ilusi,
Melainkan tujuan yang ingin kugapai,
Dengan usaha yang tak berhenti.
Aku ingin mengukir masa depan,
Dengan usaha dan pengorbanan,
Menjadi pribadi penuh harapan,
Yang berguna bagi kehidupan,
Dan membawa bangga bagi keluarga,
Serta bangsa yang kucinta.
Suatu hari nanti kan tiba,
Saat mimpi menjadi nyata,
Semua lelah terbayar sudah,
Karena kesabaran tak pernah sia-sia,
Cita-cita akan kuraih sepenuh jiwa,
Satu langkah menuju cita-cita mulia.
Palembang, 14 April 2026
CAHAYA CINTA SESAMA
Karya: Dimas Aditya
Di langkah pagi yang penuh cahaya,
Aku melihat senyum sederhana,
Tangan kecil saling menyapa,
Hati terasa hangat menyapa,
Cinta tumbuh tanpa suara.
Saat duka datang menyapa jiwa,
Ada bahu tempat bersandar,
Air mata jatuh tak terasa sia sia,
Karena hadir kasih yang nyata,
Menguatkan hati yang terluka.
Berbagi bukan soal harta,
Namun tentang rasa yang ada,
Satu kebaikan jadi cahaya,
Menerangi dunia yang fana,
Menyatukan kita semua.
Tak peduli warna atau rupa,
Kita sama dalam rasa,
Saling menjaga penuh cinta,
Menebar damai di mana saja,
Hidup pun terasa bermakna.
Mari rawat kasih selamanya,
Jangan biarkan ia sirna,
Dalam setiap langkah dan doa,
Cinta sesama jadi pedoman kita,
Menuju dunia penuh bahagia.
CINTA UNTUK NUSA BANGSA
Karya: Dimas Aditya
Di bawah langit merah putih yang membara,
Kita berdiri dengan jiwa yang sama,
Tanah ini saksi sejarah bangsa,
Mengalir darah penuh makna,
Cinta tumbuh untuk Indonesia.
Pahlawan gugur demi kemerdekaan,
Mengorbankan jiwa tanpa keraguan,
Kini kita lanjutkan perjuangan,
Dengan semangat persatuan,
Menjaga negeri sepanjang zaman.
Bendera berkibar di angkasa tinggi,
Menyapa hati setiap insan negeri,
Mengajak kita untuk berbakti,
Dengan karya dan prestasi,
Demi masa depan yang pasti.
Tak peduli suku, agama, dan bahasa,
Kita tetap satu dalam rasa,
Bersatu menjaga Indonesia,
Dari ancaman yang datang melanda,
Dengan cinta yang selalu ada.
Mari kita jaga negeri tercinta,
Dengan doa dan usaha nyata,
Agar bangsa tetap berjaya,
Hingga akhir masa,
Indonesia tetap di dada.
LANGKAH PENUH KEYAKINAN
Karya: Dimas Aditya
Aku berdiri di antara keraguan,
Namun hati penuh keyakinan,
Langkah kecil mulai berjalan,
Menembus batas ketakutan,
Menuju mimpi yang kuharapkan.
Tak semua jalan terasa mudah,
Kadang lelah datang menyapa,
Namun aku tak akan menyerah,
Karena yakin pada arah,
Membawa diri menuju cerah.
Suara hati terus berbicara,
Menyuruhku tetap percaya,
Bahwa aku mampu berkarya,
Menggapai semua cita-cita,
Tanpa takut pada dunia.
Kegagalan bukan akhir cerita,
Melainkan awal yang bermakna,
Aku bangkit dengan percaya,
Menjadikan luka sebagai tenaga,
Untuk terus melangkah ke depan sana.
Kini aku yakin pada diri,
Melangkah pasti tanpa henti,
Mimpi besar menanti di sini,
Dengan usaha dan hati berani,
Aku akan raih semua pasti.
UNTUK IBU dan AYAH TERCINTA
Karya: Dimas Aditya
Di setiap langkah yang kutempuh,
Ada doa yang selalu menyertai,
Kasih kalian tak pernah rapuh,
Menguatkanku setiap hari,
Menjadi cahaya dalam diri.
Ibu dengan cinta yang lembut,
Ayah dengan kerja yang kuat,
Kalian berjuang tanpa takut,
Demi masa depan yang hebat,
Meski lelah tak pernah terlihat.
Air mata kalian jadi saksi,
Betapa besar pengorbanan ini,
Takkan mampu ku balas pasti,
Semua cinta yang kalian beri,
Sepanjang hidup ini nanti.
Aku bangga memiliki kalian,
Yang selalu ada dalam kesulitan,
Memberi harapan dan kekuatan,
Menuntunku ke jalan kebaikan,
Dengan penuh ketulusan.
Kini ku berjanji dalam hati,
Akan berbakti sepenuh jiwa,
Membahagiakan kalian nanti,
Sebagai tanda cinta yang nyata,
Untuk ibu dan ayah tercinta.
DI BALIK LAYAR DIGITAL
Karya: Dimas Aditya
Di balik layar yang bercahaya,
Dunia luas terbuka nyata,
Informasi datang tanpa jeda,
Membanjiri pikiran manusia,
Dalam waktu yang begitu singkatnya.
Jari menari di atas layar,
Mencari makna di dunia maya,
Namun tak semua yang tersebar,
Adalah kebenaran yang nyata,
Perlu bijak untuk memilihnya.
Teknologi membawa kemudahan,
Namun juga hadirkan godaan,
Waktu terbuang tanpa tujuan,
Jika tak mampu mengendalikan,
Diri dalam arus kemajuan.
Mari gunakan dengan bijaksana,
Agar tak terjerumus bahaya,
Jadikan ilmu sebagai cahaya,
Bukan sekadar hiburan semata,
Yang melalaikan kita semua.
Di era digital yang melaju,
Kita harus tetap berpadu,
Dengan akal dan hati yang satu,
Menghadapi tantangan yang baru,
Menuju masa depan yang maju.
DI PERSIMPANGAN JALAN
Karya: Dimas Aditya
Di sebuah jalan yang bercabang dua,
Aku berdiri penuh tanya,
Antara benar dan godaan dunia,
Langkahku ragu menentukan arah,
Namun hati mulai bicara.
Godaan datang begitu dekat,
Menawarkan jalan yang sesat,
Terlihat mudah dan terasa cepat,
Namun ujungnya penuh penyesat,
Membawa luka yang sangat berat.
Cahaya kecil mulai menyala,
Menuntunku pada arah yang nyata,
Walau jalannya tak mudah dijalani,
Namun penuh makna sejati,
Yang membawa hidup lebih berarti.
Aku memilih jalan kebaikan,
Meski harus penuh perjuangan,
Menolak segala penyimpangan,
Demi masa depan yang gemilang,
Dan hidup yang penuh ketenangan.
Kini langkahku semakin pasti,
Tak goyah oleh godaan lagi,
Karena hati telah mengerti,
Bahwa jalan benar sejati,
Adalah kunci hidup abadi.
MENJAGA NORMA MASA DEPAN
Karya: Dimas Aditya
Waktu terus berjalan membawa perubahan,
Dunia bergerak cepat tanpa hentian
Norma diuji oleh arus zaman yang tak terelakkan,
Manusia dihadapkan pilihan antara benar dan godaan,
Langkah pun harus ditentukan dengan penuh keyakinan.
Kemajuan datang membawa warna dalam kehidupan,
Namun tak semua sejalan dengan nilai kebaikan,
Banyak yang mulai melupakan aturan dan batasan,
Terbawa arus yang menyesatkan tanpa kesadaran,
Hingga lupa arah tujuan, dalam perjalanan.
Di tengah zaman yang berubah kita harus bertahan,
Menjaga nilai yang ada sebagai pedoman,
Norma bukan sekadar aturan tetapi penuntun kehidupan,
Yang menjaga kita dari kesalahan dan penyimpangan,
Agar hidup tetap dalam kebaikan dan kedamaian.
Langkah harus tetap teguh meski banyak tantangan,
Tak mudah tergoyah oleh pengaruh lingkungan,
Menjadi pribadi yang kuat dalam pendirian,
Menjunjung tinggi nilai dalam setiap tindakan,
Demi masa depan yang penuh harapan.
Mari kita jaga bersama norma kehidupan,
Sebagai bekal menuju masa depan gemilang,
Agar generasi selanjutnya tetap dalam kebaikan,
Tidak kehilangan arah dalam perubahan zaman,
Dan hidup tetap terjaga dalam nilai kebenaran.
PELUK UNTUK LUKA
Karya:Ketut Leni
Di sudut jalan kulihat wajah pilu,
Mata redup menahan sendu,
Langkah lemah tanpa arah tujuan,
Dunia terasa begitu kejam,
Namun hatiku tak ingin diam,
Ada cinta yang ingin kuberikan.
Kuhampiri dengan senyum sederhana,
Meski tak mampu menghapus derita,
Kugenggam tangan yang hampir beku,
Kubisikkan harap yang tersisa,
Bahwa ia tak sendiri di dunia,
Masih ada hati yang peduli.
Langit kelabu perlahan terbuka,
Saat kasih mulai terasa,
Air mata jatuh bukan lagi luka,
Melainkan hangatnya rasa,
Cinta kecil yang kita bagi,
Menjadi cahaya dalam sepi.
Tak perlu harta atau kata indah,
Cukup hadir tanpa menyerah,
Menjadi bahu saat lelah,
Menjadi pelita dalam gelap,
Karena cinta sesama manusia,
Adalah anugerah paling nyata.
Jika dunia terasa dingin,
Jadilah hangat bagi yang lain,
Jika luka terus menghampiri,
Jadilah obat bagi sesama,
Sebab cinta yang tulus diberi,
Akan kembali tanpa diminta.
Palembang, 15 April 2026
BAYANGAN DI BALIK KEBIJAKAN
Karya: Ketut leni
Di meja rapat kata dirangkai,
Janji tumbuh bagai bunga pagi,
Suara lantang penuh keyakinan,
Tentang masa depan yang cerah,
Namun di sudut ruang sunyi,
Ada bayang yang tak tersentuh.
Kertas putih penuh tanda tangan,
Menjadi hukum bagi banyak hidup,
Angka-angka disusun rapi,
Seolah semua telah adil,
Namun di balik baris kalimat,
Tersimpan luka yang tak terbaca.
Rakyat kecil berjalan pelan,
Memikul beban tanpa suara,
Kebijakan turun bagai hujan,
Tak semua jiwa siap menerima,
Ada tangis yang tertahan diam,
Di antara pasal dan aturan.
Gedung tinggi berdiri megah,
Menjadi saksi keputusan besar,
Namun nurani kadang terdiam,
Tertutup ambisi dan kuasa,
Bayangan pun makin pekat,
Saat keadilan mulai pudar.
Wahai mereka yang berkuasa,
Dengarlah suara yang tersembunyi,
Lihatlah sisi yang tak tampak,
Di balik keputusan yang dibuat,
Sebab kebijakan sejati,
Adalah adil bagi semua.
Palembang, 15 April 2026
MELANGKAH KE DEPAN
Karya: Ketut leni
Pagi membuka tirai harapan,
Langkahku ragu di persimpangan,
Bayang masa lalu memanggil pelan,
Namun hati mulai bertahan,
Aku menatap jalan terbentang,
Meski kabut belum menghilang.
Jejak lama tertinggal diam,
Mengikat kaki dalam keraguan,
Namun tekad mulai menyala,
Seperti api kecil di dada,
Aku memilih terus berjalan,
Walau takut masih berbisik.
Angin datang membawa ujian,
Menguji kuatnya langkah ini,
Kadang jatuh, kadang terluka,
Namun bangkit jadi pilihan,
Karena hidup tak menunggu,
Bagi mereka yang terdiam.
Kulihat cahaya di ujung jalan,
Menghapus gelap yang menghadang,
Harapan tumbuh tanpa henti,
Menjadi teman di perjalanan,
Aku percaya pada diri,
Untuk terus melangkah maju.
Kini langkahku tak terhenti,
Meski badai menghadang kuat,
Aku melangkah dengan berani,
Menembus batas dalam diri,
Sebab masa depan menanti,
Bagi jiwa yang tak menyerah.
Palembang, 15 April 2026
SENYUM DI UJUNG PAGI
Karya: Ketut Leni
Fajar menyibak tirai malam,
Embun jatuh di daun diam,
Langit lembut berwarna jingga,
Menyapa hari dengan cahaya,
Di ujung pagi yang sunyi,
Tersimpan senyum yang berarti.
Angin berbisik pelan sekali,
Membawa damai ke dalam hati,
Burung kecil bernyanyi ringan,
Mengiring langkah penuh harapan,
Senyum itu kian merekah,
Menghapus sisa resah gelisah.
Mentari bangkit perlahan,
Menghangatkan bumi yang dingin,
Sinar jatuh di wajah lelah,
Menjadi semangat yang indah,
Aku berdiri dengan pasti,
Menjemput hari tanpa ragu lagi.
Setiap detik terasa hidup,
Dalam cahaya yang menyentuh,
Tak ada lagi bayang kelam,
Semua hilang bersama malam,
Senyum pagi jadi kekuatan,
Untuk melangkah ke depan.
Di ujung pagi kutemukan,
Harapan yang tak terucapkan,
Senyum kecil penuh makna,
Menjadi awal cerita baru,
Hari ini kujalani berani,
Dengan hati yang berseri.
Palembang, 15 April 2026
CINTA DI BANGKU SEKOLAH
Karya:Ketut Leni
Di bangku sekolah kita bertemu,
Tatap mata tanpa ragu,
Senyum kecil mulai tumbuh,
Di antara waktu yang berlari,
Cinta hadir diam-diam,
Menyelinap di hati yang muda.
Pesan singkat jadi cerita,
Tawa ringan penuh makna,
Hari terasa lebih berwarna,
Saat namamu terlintas saja,
Rasa ini kian bertanya,
Apakah ini yang disebut cinta.
Langkah kita kadang seirama,
Meski sering juga berbeda,
Ada cemburu yang sederhana,
Ada rindu yang tak terucap,
Namun hati tetap bertahan,
Dalam rasa yang masih polos.
Mimpi-mimpi kita melangit,
Tentang masa depan yang indah,
Meski belum pasti arahnya,
Kita tetap saling percaya,
Bahwa waktu akan menjawab,
Semua rasa yang tersimpan.
Cinta remaja adalah cerita,
Tentang belajar memahami,
Tentang jatuh dan bangkit lagi,
Tentang hati yang mulai dewasa,
Meski sederhana adanya,
Namun abadi dalam kenangan.
Palembang, 15 April 2026
PERASAAN TERSIMPAN
Karya: Chintya Andrea Rianty Maretha
Di antara langkah pulang sekolah,
ada namamu yang diam-diam ikut berjalan bersamaku,
seperti angin sore yang tak terlihat searah,
tetapi terasa hangat di dalam hatiku,
aku menyimpan rasa ini tanpa banyak mengeluh,
dan membiarkannya tumbuh diam dalam rasaku.
Kita mungkin hanya saling menyapa biasa,
tertawa kecil tanpa alasan yang jelas,
tapi di balik semua itu ada sebuah cerita,
hanya diriku tahu dengan jelas,
diam-diam kusimpan setiap kenangan sederhana,
tersimpan dalam hati yang tulus.
Tatapanmu singkat namun dalam artinya,
membuat hari biasa terasa berbeda,
seolah waktu berhenti sejenak saja,
agar aku bisa mengingatmu lebih lama,
meski hanya sesaat yang sempat kurasa,
namun cukup untuk menetap dalam jiwa.
Aku tak butuh kata darimu,
cukup kamu hadir di dalam jiwaku,
ingin sekali aku menulis namamu di karyaku,
tapi aku tak sanggup menahan rasa rindu,
biarlah rasa ini tetap menjadi rahasiaku,
yang tersimpan rapi tanpa suara jiwaku.
Dan jika suatu hari kita berpisah begitu saja,
biarlah kenangan ini tetap utuh dalam jiwa,
sebagai kenangan indah di masa muda,
yang pernah membuat hati belajar mencinta,
meski tak pernah terucap nyata,
namun akan selalu hidup dalam rasa.
Palembang, 15 April 2026
DI TANAH AKU BERDIRI
Karya: Chintya Andrea Rianty Maretha
Di tanah ini aku belajar berdiri lebih dulu,
di bawah langit yang sama sejak dulu,
angin membawa cerita para pejuang dahulu,
tak pernah lelah mengabdi kepada ibu pertiwiku,
jejak Langkah mereka menjadi penuntunku,
agar aku tak lupa arah hidupku.
Bukan hanya bendera yang berkibar selalu,
atau lagu yang dinyanyikan bersama,
tapi tentang rasa tumbuh dalam diam di jiwaku,
menjadi bangga saat menyebut nama bangsa,
rasa itu harus tumbuh tanpa menjadi ragu,
hidup dalam hati setiap manusia.
Laut, gunung, dan hamparan hijau,
menjadi saksi betapa kayanya negeri ini,
setiap langkah di tanahnya mengingatkanku,
bahwa aku bagian dari cerita ini,
indahnya alam menjadi kebanggaan diriku,
yang tak akan terganti sampai nanti.
Meski dunia terus berubah,
dan langkahku kadang menjauh,
ada sesuatu yang terus memanggil dari arah,
suara bangsa yang tak pernah menjauh,
ia tetap utuh hidup di dalam jiwa yang utuh,
menuntunku kembali saat aku jatuh.
Cinta ini mungkin tak selalu terlihat semua,
namun hidup dalam setiap doa dan usaha,
untuk menjaga, merawat, dan membela,
tanah air yang kupanggil rumah selamanya,
akan ku jaga hingga akhir usia,
sebagai bentuk cinta yang nyata.
Palembang, 15 April 2026
PENGORBANANMU UNTUKKU
Karya: Chintya Andrea Rianty Maretha
Di pelukanmu aku belajar arti hidupku,
hangat yang selalu menyatu dalam diriku,
langkah kecil hingga mimpi besar kutuju,
kau mengajariku dengan sabar selalu,
setiap nasihatmu terpati di kalbuku,
menjadi arah dalam setiap langkahku.
Peluhmu jatuh tanpa banyak bicaramu,
demi hari-hariku yang lebih terang untukku,
kau sembunyikan lelah di balik senyumanmu,
agar aku tumbuh tanpa kurang darimu,
pengorbananmu tak pernah kau hitung untukku,
semua kau lakukan demi masa depanku.
Aku mungkin belum menjadi yang terbaik bagimu,
sering salah dan tak selalu patuh denganmu,
namun cintamu tak pernah berkurang untukku,
tetap utuh dalam setiap waktuku,
kau selalu ada di setiap jatuh bangunku,
menjadi alasan aku terus maju.
Di setiap doa yang kau panjatkan untukku,
tersimpan harapan yang begitu besar untukku,
kau ingin aku berdiri lebih tinggi darimu,
tanpa melupakan asal dan akar hidupku,
setiap harapan itu kujaga dalam hatiku,
agar kelak bisa membanggakan dirimu.
Aku bangga memiliki orang tua sepertimu,
namamu akan kujaga dalam hatiku,
takkan kulupa segala pengorbananmu,
hingga nanti mampu kubalas dengan baktiku,
meski takkan pernah cukup balas jasaku,
namun akan kuusahakan seumur hidupku.
Palembang, 15 April 2026
ARUS DIGITAL
Karya: Chintya Andrea Rianty Maretha
Di layar kecil dunia terbuka lebar,
informasi datang tanpa batas dan jeda,
namun di balik cepatnya arus yang mengalir,
kita sering lupa melihat mana yang nyata,
semua terasa dekat namun samar,
membuat batas kebenaran menjadi jauh berbeda.
Jari-jari menari di atas layar,
menghubungkan yang jauh terasa dekat,
tapi tanpa sadar yang dekat bisa memudar,
karena sibuk dengan dunia yang tak terlihat,
hubungan nyata perlahan bisa pudar,
tergantikan oleh dunia jarang terlihat.
Berita datang selalu berganti,
benar dan salah bercampur tanpa arah,
jika tak bijak menyaring informasi,
kita mudah tersesat dalam kabar yang salah,
perlunya akal untuk memahami,
agar tidak terjebak dalam arah yang salah.
Kemajuan ini adalah peluang besar,
membuka jalan menuju masa depan,
tapi juga menjadi tantangan nyata dan tersebar,
bagi siapa yang tak siap mengendalikan zaman,
harus kuat menghadapi perubahan besar,
agar tak hilang arah di masa depan.
Bijak menggunakan adalah kunci utama,
bukan sekadar ikut arus yang ada,
gunakan teknologi untuk hal bermakna,
agar hidup tak sia-sia dibuatnya,
jadikan ia sarana untuk berkarya,
bukan sekedar tempat membuang waktu saja.
Di tengah dunia yang terus berubah cepat,
kita harus tetap teguh dan sadar,
memegang nilai dan jati diri yang kuat,
agar tak hilang dalam arus digital yang besar,
jadilah pribadi yang tetap kuat,
meski dunia terus bergerak cepat dan besar.
Palembang, 15 April 2026
LANGKAH BARU
Karya: Chintya Andrea Rianty Maretha
Langkah kecil mulai berarti untukku,
tak lagi takut pada diri sendiri,
aku bangkit dari jatuh yang dulu,
menata ulang harapan yang mati,
kini kutatap masa depanku,
dengan yakin akan tumbuh dalam hati.
Di cermin kulihat semangat baru,
meski hari kadang terasa pilu,
aku percaya pada diriku,
walau jalanku belum tentu,
setiap luka mengajarkanku,
menjadi kuat dalam hidupku.
Aku mampu walau sederhana,
aku kuat walau penuh luka di ragaku,
aku berdiri tanpa rasa,
menepis semua bayangan pilu,
aku melangkah penuh percaya,
menuju mimpi yang ku mau.
Bisikan takut kini ku akhiri,
tak lagi hati terbelenggu diam,
ku ukir mimpi dengan berani,
meski jalan terasa dalam,
karena yakin tumbuh di hati,
menjadi cahaya di setiap malam.
Hari esok semakin dekat,
takkan lagi aku ragu-ragu,
ku bawa mimpi setinggi langit,
meski badai datang padaku,
percaya diri membuatku kuat,
mengantar aku pada tujuanku.
Palembang, 15 April 2026
SENJA TANPA JANJI
Karya : Monicha Gultom
Di antara tawa yang masih canggung,
dan langkah yang belum pasti,
aku menemukanmu—
seperti senja yang tiba tanpa janji.
Matamu sederhana,
namun mampu membuat dunia terasa berbeda,
seolah waktu berhenti sejenak
hanya untuk kita berdua.
Tak ada kata yang terlalu indah,
untuk menjelaskan rasa ini,
hanya degup jantung yang berisik,
saat namamu singgah di hati.
Kita masih belajar,
tentang arti memiliki dan melepaskan,
tentang harapan yang kadang rapuh,
dan perasaan yang diam-diam tumbuh.
Cinta ini mungkin belum sempurna,
masih penuh ragu dan tanya,
namun di usia yang muda ini,
rasanya begitu nyata.
Dan jika suatu hari kita berpisah arah,
biarlah kenangan tetap hangat di dada,
karena pernah ada kita
dalam cerita cinta remaja.
Palembang, 15 April 2026
BUMI YANG BERNAPAS
Karya : Monicha Gultom
Di pagi yang masih jernih,
aku mendengar bumi bernapas,
melalui desir angin dan nyanyian daun,
yang setia menjaga kehidupan.
Tanah ini bukan sekadar pijakan,
ia adalah rumah yang memeluk tanpa syarat,
memberi tanpa meminta kembali,
meski sering kita lupa menghargai.
Sungai mengalir membawa cerita,
tentang harapan yang ingin tetap hidup,
namun keruh oleh tangan-tangan lalai,
yang tak lagi peduli pada esok.
Langit pun kadang menangis,
menurunkan hujan penuh pesan,
agar kita ingat—
bahwa alam juga ingin didengarkan.
Mari belajar mencintai dengan sederhana,
menjaga, merawat, dan menghormati,
karena di setiap hembusan kehidupan,
alam adalah bagian dari diri kita sendiri.
Jika kita merawatnya dengan cinta,
ia akan membalas dengan keindahan,
dan bumi akan tetap tersenyum,
untuk hari ini, esok, dan selamanya.
Palembang, 15 April 2026
BERANI TETAP BERJALAN
Karya : Monicha Gultom
Langkah-langkah kecil mulai terasa berat,
di jalan yang katanya biasa—namun tak lagi sama.
Hari-hari berjalan seperti biasa,
tapi dunia diam-diam berubah arah.
Dulu mimpi terasa dekat di genggaman,
kini ia berlari, menguji kesabaran.
Bukan lagi tentang cepat atau lambat,
melainkan tentang bertahan di tengah keraguan yang pekat.
Langit kadang cerah, kadang mendung tak terduga,
seperti rencana yang runtuh tanpa aba-aba.
Namun hidup tak berhenti menunggu siap,
ia terus berjalan, meski hati belum genap.
Tantangan bukan untuk ditakuti,
melainkan untuk dikenali dan dipahami.
Karena dari jatuh yang berulang,
kita belajar arti kuat yang sebenarnya.
Mungkin hidup tak akan selalu normal,
seperti cerita yang kita bayangkan awal.
Namun di balik semua yang berubah,
ada diri yang tumbuh—lebih tegar, lebih utuh.
Dan saat esok datang tanpa kepastian,
kita tetap melangkah, walau perlahan.
Sebab hidup bukan tentang sempurna di depan,
melainkan berani tetap berjalan.
Palembang, 15 April 2026
BANGGA DALAM PERLUKAN MEREKA
Karya : Monicha Gultom
Di tangan yang mulai berkerut itu,
aku melihat sejarah perjuangan,
keringat yang jatuh tanpa suara,
demi masa depan yang mereka titipkan.
Mereka tak selalu pandai berkata,
namun cinta mereka tak pernah kurang,
hadir dalam doa yang diam-diam,
dan langkah yang tak pernah lelah berjuang.
Ayah dengan bahunya yang kokoh,
menahan beban tanpa banyak keluh,
Ibu dengan hatinya yang luas,
menyimpan sabar tanpa pernah jenuh.
Aku tumbuh dari kasih yang sederhana,
dari pengorbanan yang sering tak terlihat,
dan kini aku mengerti perlahan,
betapa besar cinta yang mereka semat.
Bangga ini bukan sekadar kata,
ia tumbuh dalam setiap langkahku,
karena di balik siapa diriku hari ini,
ada mereka yang tak pernah berhenti percaya padaku.
Jika dunia bertanya siapa pahlawanku,
aku tak perlu mencari jauh,
cukup melihat ke arah rumah,
di sanalah cinta paling utuh.
Dan selama napas masih beriring waktu,
akan kujaga nama mereka dalam doa,
sebab mencintai dan membanggakan mereka,
adalah cara terbaik membalas segalanya.
Palembang, 15 April 2026
LANGKAH YANG TAK RAGU
Karya : Monicha Gultom
Di tengah suara yang meragukan,
aku berdiri dengan langkah pelan,
meski dunia tak selalu mendukung,
aku belajar percaya pada diriku sendiri.
Tak semua jalan terasa mudah,
kadang penuh ragu dan takut,
namun di balik setiap keraguan,
ada kekuatan yang ingin bangkit.
Aku bukan bayangan orang lain,
aku adalah aku dengan segala kurang,
dan dari situlah aku tumbuh,
menjadi lebih kuat dari hari kemarin.
Bukan tentang menjadi sempurna,
tapi berani mencoba dan melangkah,
meski jatuh berkali-kali,
aku tak lagi takut untuk bangkit.
Percaya diri bukan suara keras,
ia hadir dalam keyakinan yang tenang,
yang berkata pelan di dalam hati—
“aku mampu, dan aku berharga.”
Dan saat aku memilih untuk percaya,
dunia pun terasa lebih terbuka,
karena kekuatan terbesar itu,
ternyata ada dalam diriku sendiri.
Palembang, 15 Apr 2026
NAPAS DIBUMI PERTIWI
Karya: Jumari Putra
Absen:14
Di bawah langit biru yang luas,
Tanah tumpah darah terpahat dalam doa
Cinta padamu tak kan kandas,
Mengalir di nadi sepanjang usia,
Menjaga kedaulatan yang mulia.
Merah putih berkibar dipuncak gunung,
Saksi bisu yang tak kan mati,
Ditengah badai kita saling berlindung,
Menanam damai didalam hati,
Demi martabat yang tetap sejati.
Wahai nusantara yang kaya warna,
Beragam suku dalam satu suara,
Padamu jiwa ini menyerahkan makna,
Demi jaya-Nya negeri nan sejahtera,
Mengukir sejarah dikancah dunia.
Lautan luas memeluk ribuan pulau,
Kekayaan alam anugerah dari tuhan,
Jangan biarkan rukun jadi lampau,
Mari rekatkan tali pertahanan,
Menolak perpecahan dan kejatuhan.
Garuda terbang melintasi cakrawala,
Membawa mimpi di atas sayapnya,
Cinta ini abadi, tak kan pernah cela,
Untuk Indonesia, tumpah darah selamanya,
Hingga akhir napas menutup mata.
Palembang,15 Apr 2026
PIJAR DIBALIK BAYANGAN
Karya:Jumari putra
Langkah kaki menapak dengan tegas,
Menembus kabut keraguan yang pekat,
Suara hati bicara begitu bebas,
Melepas belenggu yang mengikat,
Membangun mimpi yang kian mendekat.
Aku adalah api yang tak kan padam,
Meski badai mencemooh di depan mata,
Biarlah sunyi menelan sisa dendam,
Aku menulis baris demi baris kata,
Tentang jiwa yang tak lagi menderita.
Jangan biarkan jemari menjadi getar,
Saat dunia menuntut sebuah bukti,
Di dalam dada ada semangat berpijar,
Menolak kalah sebelum sempat berhenti,
Sebab harga diri tak kan pernah mati.
Dunia mungkin luas dan penuh liku,
Saat dunia menuntut sebuah bukti,
Tak perlu lagi aku merasa kaku,
Menghapus cemas yang dulu sering datang,
Kini cahayaku membiaskan terang.
Esok adalah panggu yang menunggu hadirku,
Dengan senyum yang tak lagi terpaksa,
keyakinanku adalah senjataku,
Menjadi saksi kuatnya tekad dan rasa,
Bahwa aku bisa melampaui masa.
TIANG KOKOH DIATAP DOA
Karya: Jumari Putra
Diguratan wajahmu ada sisa lelah,
Namun senyummu tak kan pernah pudar terlukis,
Engkau adalah adalah pelabuhan saat aku kalah,
Menghapus duka yang sempat membuat tangis,
Meredam perih yang begitu sadis.
Ayah, punggungmu adalah karang yang kuat,
Menahan beban tanpa pernah mengeluh,
Kasihmu adalah tali yang paling erat,
membasuh luka dengan tetesan piluh,
Membuat jiwaku kembali menjadi utuh.
Ibu, dalam doamu namaku selalu disebut,
Menjadi jembatan menuju langit tinggi,
Kelembutanmu bagaikan sutra yang lembut,
Takkan pernah meminta balasan atau janji,
Hanya ketulusan yang takkan pernah pergi.
Kalian adalah lentera dijalan yang gelap,
Menuntun langkahku agar tidak tersesat,
Saat duniaku mulai terasa senyap,
Pelukmu adalah obat yang paling cepat,
Mengingatkanku untuk selalu bersyukur.
Banggaku sebut namamu dalam puisi,
Warisan budi yang lebih dari permata,
Kalianlah alasan aku punya ambisi,
Membuktikan bakti lewat kerja dan nyata,
Cinta kalian adalah puncak segala harta.
Palembang,15 apr 2026
Tenun Warna Nusantara
Karya: Jumari Putra
Berbeda warna bukan berarti terpisah,
Kita adalah benang di satu kain.
Tak perlu ada benci yang membuat resah,
Meski jalannya mungkin sedikit lain,
Satu tujuan yang hendak kita pimpin.
Suara azan dan lonceng saling bersahut,
Di bawah langit yang sama-sama biru.
Kedamaian ini tak boleh ada yang merebut,
Jangan biarkan ego memicu seteru,
Sebab persatuan adalah ilmu yang baru.
Dari Sabang hingga Merauke kita berjajar,
Ribuan bahasa dalam satu napas.
Dari setiap perbedaan kita belajar,
Bahwa prasangka harus segera lepas,
Agar kasih sayang mengalir dengan bebas.
Kulit yang berbeda, iman yang tak sama,
Adalah kekayaan yang tiada tandingnya.
Mari duduk bersama di satu halaman,
Menjaga toleransi dalam tiap langkahnya,
Sebab keberagaman adalah indah wujudnya.
Indonesia adalah rumah bagi semua jiwa,
Tempat rukun menjadi fondasi utama.
Jangan biarkan perbedaan membawa kecewa,
Mari rayakan setiap warna yang bersama,
Dalam harmoni yang akan hidup selamanya.
Kursi yang Lupa Menapak Tanah
Karya: Jumari Putra
Di atas kertas janji-janji ditulis,
Namun di lapangan nasib rakyat terhimpit.
Kebijakan lahir dengan hati yang bengis,
Membuat luka yang terasa sangat sakit,
Harapan kecil pun kini kian menyempit.
Keadilan kini serupa barang dagangan,
Dijual murah di meja-meja kekuasaan.
Rakyat hanya bisa menatap dalam kebingungan,
Melihat aturan yang penuh dengan paksaan,
Mengabaikan nurani demi sebuah kejayaan.
Suara kami diredam dinding yang tinggi,
Dibalut rapi dengan istilah yang asing.
Ke mana perginya sumpah yang dulu suci,
Kini hanya terdengar bunyi yang berisik,
Dari mereka yang sibuk berebut nasi.
Penyimpangan ini adalah duri dalam daging,
Merusak tatanan yang dulu kita bangun.
Aturan hukum kini terlihat kian miring,
Tertutup kabut yang tampak kian rancu,
Membuat masa depan terasa kian layu.
Namun api perlawanan takkan pernah padam,
Menuntut lurusnya jalan para pemimpin.
Meski politik kian terasa sangat kelam,
Kami tetap berdiri dengan teguh dan yakin,
Bahwa kebenaran adalah cahaya yang licin.
palembang,15 April 2026
CAHAYA DI SELA LUKA
Karya:Gabriel Gilberto Messi
Langkah lunglai menyusuri jalan berdebu,
Di antara rintih yang sayup terdengar.
Beban berat terpikul di bahu yang kaku,
Mencari secercah harapan yang kian memudar.
Kita datang membawa hangatnya rindu,
Menghapus duka yang sempat menjalar.
Tangan terulur menyentuh jemari yang gemetar,
Membagi beban di bawah langit yang kelam.
Meski badai kehidupan datang menghajar,
Kita takkan biarkan mereka tenggelam dalam diam.
Binar empati menjadi lentera yang berpijar,
Menembus dinginnya malam yang paling dalam.
Senyum tulus adalah obat yang tak ternilai,
Menyeka air mata yang jatuh ke bumi.
Biarkan rasa persaudaraan ini mulai terurai,
Menyembuhkan luka di sanubari yang sepi.
Dunia yang keras takkan sanggup mencerai,
Selama kasih masih bertahta di dalam diri.
Di sudut sempit tempat mereka berteduh,
Ada doa yang dipanjatkan dalam sunyi.
Jangan biarkan semangat mereka runtuh,
Mari kita hadir sebagai pelipur hati yang murni.
Menghalau gundah dan rasa jenuh,
Menjadi saksi cinta yang turun ke bumi.
Tak perlu kata mewah untuk menyatakan peduli,
Cukup kehadiran yang tulus dan nyata.
Satu suapan nasi, satu helai kain pengganti,
Adalah bahasa cinta tanpa banyak bicaranya.
Sebab hidup akan jauh lebih berarti,
Saat kita mampu menghapus duka sesama.
Palembang,15 April 2026
PELITA DI BALIK LANGKAHKU
Karya:Gabriel Gilberto Messi
Di balik fajar, doa-doa mulai terurai,
Tangan yang kasar, namun penuh cinta damai,
Engkau berjuang, tanpa pernah kenal lelah,
Menuntun langkah, saat dunia terasa gundah,
Dalam senyummu, ada kekuatan yang tersimpan,
Mendidik jiwaku, dengan penuh kelembutan.
Engkau adalah atap, saat badai menerpa,
Memberi hangat, menghalau dinginnya hampa,
Setiap nasihat, laksana mutiara yang berharga,
Membasuh luka, menenangkan sukma yang dahaga,
Kebanggaan ini, takkan mampu terlukis kata,
Atas kasihmu, yang tulus tiada tara.
Garis di wajahmu, adalah saksi bisu waktu,
Tentang pengorbanan, yang tak pernah kau mengadu,
Engkau mendaki, demi masa depanku yang cerah,
Memikul beban, meski raga mulai lelah,
Di setiap sujud, namaku selalu kau sebutkan,
Mengetuk langit, memohonkan keberkahan.
Jemari lembutmu, pernah menghapus air mata,
Mengajarkanku, untuk teguh menatap semesta,
Tak ada harta, yang mampu menandingi jasa,
Cinta abadi, yang melampaui segala rasa,
Aku berjanji, 'kan kujaga marwah namamu,
Menjadi cahaya, di hari-hari tuamu.
Bangga diriku, lahir dari ketulusan hatimu,
Menjadi bagian, dari setiap tarikan napasmu,
Langkahku kini, adalah hasil dari keringatmu,
Membawa mimpi, yang kau titipkan di bahu,
Terima kasih, wahai pahlawan tanpa tanda,
Engkaulah rumah, tempat hatiku sedia.
Malam berganti, namun baktiku tetap bersemi,
Seperti janji, yang terpatri di dalam diri,
Walau waktu berlalu, kasihmu tetaplah abadi,
Menjadi kompas, di setiap jalan yang kutiti,
Doa terbaik, kupanjatkan untukmu selamanya,
Bahagia di dunia, hingga kelak di surga.
Palembang,17 April 2026
WARNA DALAM SATU HARMONI
Karya:Gabriel Gilberto Messi
Di bawah langit yang satu, kita berpijak,
Berbeda warna kulit, namun hati tak berjarak.
Langkah kaki beragam, di atas tanah yang retak,
Menyemai damai, dalam jiwa yang bijak.
Kisah persaudaraan, mulai kita cetak,
Aksara berbeda mengeja makna yang murni.
Merajut kasih di antara jurang yang sunyi.
Binar mata tulus menyapu prasangka ini,
Menyentuh kalbu tanpa peduli asal lini.
Dunia seolah indah, penuh simfoni,
Di antara kita, kasih tumbuh tak terhenti,
Senyum tulus sejuta makna terkandung.
Hangatnya meresap, menghapus bimbang yang menggunung.
Setiap doa, bagai melodi yang melambung,
Mengalirkan damai, menepis ego yang mengepung.
Waktu beringas tak ingin kita terpasung,
Dalam benak ukiran persatuan kian agung,
Jemari canggung menggenggam tangan yang lain.
Mencari dekap meski tradisi tak sejalin.
Kata-kata bisu lebih dari sekadar desain,
Mengukir rasa, takkan terhapus oleh kain.
Di bawah rembulan kita saling bercermin,
Menjelajah asa di kalbu yang makin yakin,
Angin berdesir membawa pesan kebersamaan.
Tentang jiwa-jiwa yang mulai dalam penyatuan.
Langkah kaki seiring tanpa ada beban,
Merajut masa depan dalam satu tujuan.
Setiap detik, anugerah Tuhan melimpahkan,
Menyentuh kalbu, menyatu dalam keberagaman.
Malam berlalu, bintang tetap berseri,
Seperti kita, abadi dalam harmoni negeri.
Walau badai datang, takkan gentar berdiri,
Menjaga janji dalam setiap derap diri.
Ini tentang kita, kasih yang takkan terbagi,
Melukiskan damai di kanvas bumi pertiwi.
Palembang,17 April 2026
LAYAR MAYA DILEMA NYATA
Karya:Gabriel Gilberto Messi
Layar berpijar memancarkan cahaya terang,
Di ujung jari, dunia seakan terbentang.
Namun hati perlahan merasa bimbang,
Antara kemajuan dan moral yang pincang.
Budaya asli mulai memudar dan hilang,
Tersapu arus yang datang menerjang.
Pesan terkirim dalam sekejap mata,
Menembus ruang tanpa batas kasta.
Namun lisan lupa bagaimana menyapa,
Terjebak dalam gawai penuh hampa.
Dunia nyata seolah kehilangan makna,
Tertutup bayang citra yang penuh pura-pura.
Data mengalir bagai sungai tak bertepi,
Rahasia diri tersimpan di ruang sepi.
Algoritma mengatur apa yang kita mimpi,
Hingga nurani terkadang sulit mendaki.
Kejujuran kini menjadi barang yang rapi,
Di balik jempol yang tak pernah berhenti.
Fitnah menyebar secepat kilat menyambar,
Kebenaran terkubur dalam hiruk-pikuk kabar.
Kita dipaksa untuk selalu bersabar,
Menghadapi emosi yang kian menjalar.
Di balik layar, ego kian membesar,
Melupakan etika yang seharusnya dikejar.
Teknologi maju membawa sejuta kemudahan,
Namun kemanusiaan jangan sampai dikorbankan.
Mesin bekerja tanpa rasa kasihan,
Hanya kita yang mampu memberi sentuhan.
Tantangan zaman jangan jadi keluhan,
Tapi jadikan jembatan menuju perubahan.
Masa depan cerah menanti di depan sana,
Asal jemari bijak dalam berkelana.
Jangan biarkan jiwa menjadi fana,
Hanya demi popularitas yang sementara.
Tetaplah berpijak pada nilai utama,
Agar teknologi membawa berkah bersama.
Palembang,17 April 2026
BAYANG SEMU DI KURSI KUASA
Karya: Gabriel Gilberto Messi
Lalu lalang janji merajut benang,
Di sudut gedung, nurani terdiam, terpasung.
Langkah berderap, irama penuh bimbang,
Aroma ambisi di tiap kebijakan tergantung.
Rakyat membisu, hanya mereka yang berdendang,
Kisah lama tentang dusta mulai terkenang.
Pena kuasa menari di lembar putih,
Merangkai aturan dari dalam kepentingan pribadi.
Binar mata menyimpan rencana yang letih,
Menyentuh hak rakyat tanpa terucap pasti.
Keadilan seolah berhenti, penuh misteri,
Di antara kita, ketimpangan tumbuh tak henti.
Senyum palsu sejuta makna terkandung,
Dibalik retorika, menghapus gundah yang semu.
Setiap angka, bagai melodi yang merangkung,
Mengalirkan laba, menepis resah di balik jamu.
Waktu beringas tak ingin kita terkurung,
Dalam benak perlawanan kian megah menyabung.
Jemari serakah bergeser pelan,
Mencari celah meski tak terucap lisan.
Kata-kata manis lebih dari sekian,
Mengukir manipulasi, takkan terhapus sirapan.
Di bawah lampu kota kita tatapan,
Menjelajah harapan di kalbu yang lelap dalam penantian.
Angin berdesir membawa pesan,
Tentang dua sisi hukum yang mulai menyatu.
Langkah elite seiring tanpa beban,
Merajut kuasa masa depan tanpa ragu.
Setiap detik, beban rakyat tercurahkan,
Menyentuh kalbu, menyatu di nadi yang kaku.
Malam berlalu, korupsi tetap berseri,
Seperti mereka, abadi dalam ingatan yang kelam.
Walau kritik datang, takkan gentar berdiri,
Menjaga kursi dalam setiap hentakan yang tajam.
Ini tentang harga diri yang kian mati,
Melukiskan realita di kanvas kenyataan yang suram.
Palembang,17 April 2026
LANGKAH DI HARI ESOK
Karya:Gabriel Gilberto Messi
Dunia berputar, membawa musim yang berganti,
Menyimpan tanya tentang apa yang akan terjadi.
Tantangan datang, menguji keteguhan hati,
Menuntut kita untuk tetap tegak berdiri.
Masa depan membentang, luas tak bertepi,
Membawa harapan yang harus kita jemput sendiri.
Rencana tersusun, di atas lembar yang bersih,
Meski jalan mendaki, tak perlu ada rasa sedih.
Keringat menetes, di antara lelah dan rintih,
Menjadi saksi perjuangan yang takkan pilih kasih.
Dunia yang baru, mungkin terasa lebih perih,
Namun jiwa yang kuat, takkan pernah merasa letih.
Zaman berubah, memaksa kita terus belajar,
Mengejar mimpi, di bawah langit yang berpijar.
Rintangan melintang, bagai ombak yang menjalar,
Menguji nyali, apakah semangat kita akan pudar.
Tetaplah fokus, meski kenyataan terasa sukar,
Hingga keberhasilan, datang menyapa dengan binar.
Kadang tersesat, di tengah hiruk pikuk yang bising,
Mencari arah, di sela ego yang kian pusing.
Masalah datang, silih berganti saling berpusing,
Namun keyakinan diri, tak boleh menjadi asing.
Teruslah melangkah, meski waktu terus berdesing,
Biarkan tekadmu, menjadi senjata yang paling runcing.
Kerja keras adalah jembatan menuju mimpi,
Menembus dinding, yang terasa sunyi dan sepi.
Tantangan hidup, bukanlah alasan untuk menepi,
Melainkan jalan, untuk menjadi pribadi yang rapi.
Hadapi esok, dengan hati yang tulus dan suci,
Percayalah bahwa, setiap usaha memiliki kunci.
Mentari akan terbit, menghapus gelapnya malam,
Membawa damai, ke dalam jiwa yang terdalam.
Tantangan masa depan, meski terkadang tampak kelam,
Akan kita taklukkan, dengan langkah yang semakin tajam.
Di ujung perjalanan, di antara doa yang teramat dalam,
Kebahagiaan menanti, dalam pelukan yang paling tentram.
Palembang,17 April 2026
CINTA YANG TAK TERSAMPAIKAN
Karya:Raditya Wira Pramudia
Kita sering berjalan beriringan
Tertawa dalam obrolan ringan
Tak ada yang terasa berbeda
Sampai hatiku mulai bicara
Tentang rasa yang tak biasa
Aku menyimpan dalam diam
Tak ingin merusak kenyamanan
Kau tetap seperti biasanya
Tanpa tahu apa yang kurasa
Aku pun hanya bisa menjaga
Melihatmu bersama yang lain
Ada perasaan yang sulit dijelaskan
Bukan marah, bukan juga benci
Hanya sedikit sesak di hati
Karena sadar bukan aku yang kau pilih
Ingin menjauh namun tak mampu
Karena kau sudah jadi bagian hariku
Aku tetap ada di tempat yang sama
Sebagai teman yang selalu ada
Walau hati kadang terluka
Mungkin ini tak perlu terucap
Biarlah cukup aku yang mengerti
Bahwa tidak semua rasa harus memiliki
Ada yang cukup disimpan sendiri
Dan tetap dikenang tanpa benci
Palembang,18 April 2026
TANAH YANG KUJAGA
Karya:Raditya Wira Pramudia
Tanah ini tempatku berpijak
Dari kecil hingga beranjak
Langitnya luas, lautnya tenang
Menyimpan harap yang tak hilang
Menjadi rumah sepanjang zaman
Beragam suku dan bahasa
Menyatu dalam satu rasa
Walau berbeda tetap sejalan
Menjaga arti persatuan
Agar tetap kuat bertahan
Cinta ini bukan sekadar kata
Tapi tindakan yang nyata
Menjaga, merawat, dan menghargai
Apa yang telah dimiliki
Sebagai bagian dari negeri
Tak selalu mudah menjaganya
Banyak hal datang menggoda
Namun hati tetap percaya
Bahwa bangsa ini berharga
Untuk terus dijaga bersama
Selama kaki masih melangkah
Dan waktu terus berjalan
Akan kujaga dengan sungguh
Tanah ini sampai akhir
Sebagai bentuk cintaku
Palembang,18 April 2026
AKU BISA
Karya:Raditya Wira Pramudia
Aku berdiri dengan keyakinan
Walau pernah jatuh perlahan
Langkah ini takkan berhenti
Meski ragu sempat menghampiri
Aku tetap percaya diri
Tak perlu jadi paling hebat
Cukup berani melangkah kuat
Setiap usaha yang kulakukan
Membawa arti dan harapan
Untuk masa depan yang dekat
Suara orang datang dan pergi
Tak semua harus kuikuti
Aku punya jalan sendiri
Dengan mimpi yang kupahami
Dan tekad yang terus kupatri
Perlahan aku mulai yakin
Bahwa aku mampu berdiri
Tanpa harus bergantung lagi
Pada keraguan di hati
Yang dulu sering menghantui
Kini aku melangkah pasti
Dengan hati yang lebih berani
Apa pun yang akan terjadi
Takkan membuatku berhenti
Karena aku percaya diri
Palembang,18 April 2026
UNTUK ORANG TUAKU
Karya:Raditya Wira Pramudia
Di setiap langkah yang kutempuh
Ada doa yang tak pernah jauh
Tanganmu yang dulu menuntun
Kini jadi kekuatan dalam hidupku
Yang tak pernah tergantikan
Lelahmu sering kau sembunyikan
Demi aku tetap bertahan
Tak banyak kata yang kau ucap
Namun kasihmu terasa lengkap
Dalam setiap pengorbanan
Aku mungkin belum sempurna
Sering salah dan membuat luka
Namun kau tetap menerima
Dengan sabar dan penuh cinta
Tanpa pernah berpaling arah
Waktu terus berjalan maju
Aku mulai mengerti dirimu
Betapa besar arti hadirmu
Dalam setiap langkah hidupku
Yang tak bisa terganti oleh siapa pun
Kini hanya satu yang kupinta
Semoga aku bisa membalasnya
Walau takkan pernah setara
Dengan semua yang kau beri
Cintaku akan selalu ada
Palembang,18 April 2026
SATU RASA BANYAK WARNA
Karya:Raditya Wira Pramudia
Di tengah beda yang nyata
kita gak saling jatuhin
pelan-pelan saling ngerti
tanpa maksa jadi sama
cukup saling jaga
Warna kulit beda-beda
cara hidup juga lain
gak ada yang lebih tinggi
semua punya tempat
buat dihargai
Keyakinan gak seragam
pikiran sering tabrakan
tapi hormat tetap jalan
biar gak ada yang tersingkir
dan tetap aman
Cinta gak pilih sisi
gak sibuk cari paling benar
dia datang buat nyatuin
yang beda jadi dekat
tanpa ribet
Di akhir semua cerita
yang kuat itu rasa
yang tulus nerima beda
tetap jalan bareng
meski arah gak sama
Palembang,18 April 2026
Langkah Kecil
Karya: Haziel Ageng Gratia Susanto
Tema: Perjuangan diri
Sikap penulis: Teguh dan tidak menyerah
Nada: Memotivasi
Amanat: Kesuksesan dimulai dari langkah kecil
Langkah kecil di pagi hari
Menyusuri jalan sepi sendiri
Tak ada suara menemani
Hanya tekad di dalam hati
Meski terasa berat sekali
Aku tetap melangkah pasti
Jalan panjang terbentang luas
Kadang ragu datang sekilas
Namun hati tak mau lepas
Dari mimpi yang terus deras
Walau jatuh terasa keras
Aku bangkit tanpa batas
Angin datang membawa dingin
Seolah menguji keyakinan ini
Namun aku tetap berdiri
Menahan rasa yang menyakiti
Karena mimpi bukan ilusi
Yang hilang tanpa arti
Langit biru mulai terbuka
Memberi harapan yang nyata
Bahwa usaha tak sia-sia
Jika hati terus percaya
Langkah kecil yang ku jaga
Akan sampai pada tujuan nyata
Malam datang membawa damai
Menutup lelah yang terpakai
Namun semangat tak pernah usai
Karena mimpi masih terurai
Dan esok aku mulai lagi
Langkah kecil yang berarti
Palembang, 11 April 2026
Sahabat Sejati
Karya: Haziel Ageng Gratia Susanto
Tema: Persahabatan
Sikap penulis: Menghargai dan tulus
Nada: Hangat dan bersahabat
Amanat: Sahabat sejati selalu ada dalam suka dan duka
Di bangku kelas kita bertemu
Tertawa tanpa rasa ragu
Berbagi cerita yang baru
Tentang mimpi yang kita tuju
Hari-hari terasa berlalu
Dengan kenangan yang menyatu
Kadang datang salah paham
Membuat hati terasa suram
Namun kita tetap diam
Menahan ego yang terpendam
Hingga akhirnya kita paham
Persahabatan tak mudah padam
Waktu terus berjalan jauh
Membawa kita semakin tumbuh
Meski jalan mulai berbeda arah
Namun hati tetap tak berubah
Karena kenangan yang indah
Tak akan hilang begitu saja
Dalam tawa dan air mata
Kita tetap saling menjaga
Menjadi tempat bercerita
Saat dunia terasa berbeda
Sahabat bukan sekadar kata
Tapi rasa yang nyata
Dan saat nanti kita berpisah
Mengejar mimpi yang lebih jauh
Kenangan ini tetap utuh
Tersimpan dalam hati yang penuh
Bahwa kita pernah tumbuh
Bersama tanpa mengeluh
Palembang, 12 April 2026
Hujan di Balik Jendela
Karya: Haziel Ageng Gratia Susanto
Tema: Kesedihan dan ketenangan
Sikap penulis: Melankolis
Nada: Lembut dan menyentuh
Amanat: Kesedihan adalah bagian dari proses hidup
Rintik hujan jatuh perlahan
Menyentuh kaca tanpa beban
Seolah membawa perasaan
Yang lama terpendam diam
Dalam sunyi yang mendalam
Tanpa suara yang terucap
Langit kelabu tampak muram
Seperti hati yang tenggelam
Dalam kenangan yang terdiam
Menjadi cerita yang terpendam
Namun hujan datang perlahan
Menyapu luka yang tak terlihat
Suara air menetes pelan
Mengisi ruang yang kesepian
Membawa rasa ketenangan
Di tengah hati yang kehilangan
Bahwa tangis bukanlah akhir
Dari setiap rasa yang hadir
Jendela menjadi saksi
Dari cerita yang tak berbunyi
Tentang luka yang tersimpan rapi
Di balik senyum yang dimiliki
Namun hujan mengerti
Apa yang tak mampu diucapi
Dan ketika hujan berhenti
Langit kembali cerah berseri
Seperti hati yang mulai pulih
Dari luka yang pernah perih
Mengajarkan arti berdiri
Setelah jatuh berkali-kali
Palembang, 12 April 2026
Jejak di Ujung Senja
Karya: Haziel Ageng Gratia Susanto
Tema: Perjalanan hidup
Sikap penulis: Reflektif
Nada: Tenang dan mengajak merenung
Amanat: Hargai setiap proses dalam hidup
Senja turun perlahan di ufuk barat
Mewarnai langkah yang terasa berat
Jejak kaki tertinggal pekat
Di jalan panjang penuh sekat
Namun hati tetap terikat
Pada harapan yang belum tamat
Langkah kecil mulai terhitung
Menyusuri waktu yang terus menggulung
Setiap luka terasa menyentuh
Namun jiwa tak ingin runtuh
Karena mimpi terus bertumbuh
Di balik rasa yang sempat rapuh
Angin sore berbisik lirih
Tentang hidup yang tak selalu bersih
Ada tangis di balik perih
Ada tawa yang pernah tersisih
Namun semua tetap berarti
Dalam perjalanan yang tak henti
Bayangan diri tampak memanjang
Seiring waktu yang terus berjalan
Mengajarkan arti bertahan
Di tengah dunia yang tak ramah
Bahwa setiap arah dan langkah
Adalah bagian dari kisah
Senja pun perlahan menghilang
Menyisakan langit yang mulai tenang
Namun jejak tak pernah hilang
Tersimpan dalam hati yang terang
Sebagai bukti sebuah perjuangan
Yang tak sia-sia dalam perjalanan
Palembang, 11 April 2026
Post a Comment