Tuesday, February 24, 2026

MEMBERIKAN TANGGAPAN

 


          


  

LEMBAR KEGIATAN PESERTA DIDIK

BAHASA INDONESIA XI

KD: Memberkian tanggapan secara kritis terhadap suatu opini

1. Bacalah wacana ini dengan cermat dan teliti seraya memperhatikan opini yang terdapat di     dalamnya!

2. Tulislah poin per poin opini yang terdapat di dalam wacana ini dengan penomoran yang benar!

3. Kajilah opini-opini tersebut berdasarkan pola penalaran silogisme dengan cerdik! Berilah   tanggapan atas kelemahan cara berpikir opini tersebut dengan memberikan cara berpikir yang lebih   baik disertai dengan bukti fakta!

4. Kerjakan dio Buku Ekspresi! 

 

Pendidikan Karakter Hanya Tanggung Jawab Sekolah: Mitos atau Fakta

Pendidikan karakter sering dibicarakan sebagai fondasi penting dalam dunia pendidikan, terutama di tengah tantangan sosial, budaya, dan teknologi yang terus berkembang. Namun, masih banyak anggapan bahwa pendidikan karakter sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Pandangan ini menarik untuk dikaji lebih dalam karena karakter bukanlah sesuatu yang terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang dan berkelanjutan.

Secara sederhana, pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk menanamkan nilai-nilai moral, etika, sikap, dan kebiasaan baik pada individu. Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, kerja sama, dan disiplin menjadi inti dari pendidikan karakter. Di sekolah, nilai-nilai ini biasanya terintegrasi dalam pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, serta budaya sekolah.

Anggapan bahwa pendidikan karakter hanya tanggung jawab sekolah dapat disebut sebagai mitos yang cukup mengakar. Sekolah memang memiliki peran strategis karena menjadi lingkungan formal tempat anak menghabiskan banyak waktu. Guru sering dianggap sebagai figur utama pembentuk karakter peserta didik, baik melalui pengajaran maupun keteladanan.

Namun, jika ditelaah lebih jauh, karakter anak sudah mulai terbentuk sejak usia dini, bahkan sebelum mereka masuk sekolah. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam proses pendidikan karakter. Sikap orang tua dalam berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan memberi contoh perilaku sehari-hari sangat memengaruhi pembentukan karakter anak.

Sebagai contoh, anak yang dibiasakan berkata jujur di rumah akan lebih mudah menerapkan kejujuran di sekolah. Sebaliknya, jika anak sering melihat perilaku tidak konsisten antara ucapan dan tindakan orang dewasa di sekitarnya, proses pendidikan karakter di sekolah bisa menjadi kurang efektif.

Lingkungan masyarakat juga memiliki kontribusi yang tidak kalah penting. Nilai-nilai yang berlaku di lingkungan tempat anak tinggal, seperti budaya gotong royong, toleransi, dan kepedulian sosial, turut memperkuat atau bahkan melemahkan pendidikan karakter yang diterima di sekolah dan keluarga.

Dengan demikian, pendidikan karakter seharusnya dipahami sebagai tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Ketiganya perlu berjalan selaras agar nilai-nilai karakter dapat tertanam secara konsisten dan berkelanjutan. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan lingkungan rumah dan sosial.

Dalam konteks pendidikan populer, kolaborasi ini menjadi kunci. Program sekolah yang melibatkan orang tua, seperti parenting education atau kegiatan berbasis komunitas, dapat menjadi contoh nyata sinergi pendidikan karakter. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter bukan hanya teori, tetapi praktik hidup sehari-hari.

Oleh karena itu, pernyataan bahwa pendidikan karakter hanya tanggung jawab sekolah lebih tepat disebut sebagai mitos daripada fakta. Fakta yang lebih mendekati kebenaran adalah bahwa sekolah berperan penting, tetapi bukan satu-satunya aktor dalam pembentukan karakter generasi muda.

Kesadaran kolektif tentang peran masing-masing pihak akan membantu menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat. Dengan ekosistem ini, pendidikan karakter tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar tercermin dalam perilaku anak di berbagai aspek kehidupan.

 

Selamat mengerjakan!

 

 

 

 

 

 


No comments: