Wednesday, May 21, 2025

PUISI KARYA SISWA-SISWI X.3 SMA XADUPA 2025

 

Mencoba merenung mengerjakan tugas Bahasa Indonesia. Ternyata gampang-gampang susah!


Puisi merupakan karya sastra yang amat erat kaitannya dengan ungkapan perasaan sseorang tentang sesuatu yang ada dalam benak pikirannnya. Perasaan yang berada dalam benak seseorang tersebut dikemas dalam ramuan bahasa sebagai medianya dengan memperhatikan aspek pilihan kata, gaya bahasa, rima, irama, kata-kata konkret, dan daya imajinasi.

Puisi sebagai ungkapan perasaan bisa dialami dan dlakukan oleh siapa pun segala umur,, di mana pun, dan kapan pun. Kodrati manusia adalah mankhluk yang bernalar dan berperasaan. Maka, karya puisi merupakan media curahan perasaan seseorang dalam kemasan bahasa yang indah berhubungan dengan pokok masalah hidup dan kehidupan, bsa bersifat personal maupun klasikal universal. 

Pelajar SMA merupakan subjek pembelajar yang secara psikologis merupakan fase perkembangan yang paling bergejolak dalam rangka menentukan jari dirinya. Oleh sebab itu, gejolak perasaan sedang mengalami arah puncak  penemuan formulasi yang tepat untuk dirinya. Hal ini memerlukan wadah sebagai tempat pencurahan perasaan untuk mengurangi endapan emosi dan pikiran. Maka, menulis puisi merupakan salah satu media pencurahan perasaan seseorang, dalam hal ini remaja tingkat SMAm, dalam berbagai konteks yang mereka alami dan rasakan setiap harinya. 

Rubrik ini merupakan tempat bagi siswa-siswi untuk mengungkapkan hal di atas dalam kaitannya proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Maka, tentunya akan diberikan apresiasi dan penghargaan terhadap karya siswa, terutama dikaji dari sisi keberanian, kejujuran, ketulusan, keihlasan, di samping tinjauan hakikat dan metode berpuisi ala I.A. Richard dalam buku Hakikat dan Metode Berpuisi.

Siswa-siswi kelas ini diwajibkan mengunggah puisinya untuk diapresiasi dan sebagai syarat pemenuhan kewajiban belajar.  Maka, harap kalian lakukan sebagaimana mestnya yang sudah ditentukan. Judul, nama, dan nomor absen harus disertakan. Manakala ada yang amat berminat, boleh mengirimkan lebih dari satu karyanya, dengan catatan harus orisinal dan tidak plagiaris sehingga tidak melanggar undang-undang hak cipta. 

Selamat mencurahkan pikiran dan perasaan! Terima kasih atas aktivtas berkarya kalian dan semuanya akan bermakna, mungkin nantinya. Waktu semakin memperkuat kenangan dan perasaan yang kalian ungkapkan dan rasakan!

81 comments:

  1. Kelasku Tempat Ternyamanku
    Karya:Samuel Alexander Hutabarat
    Kelas:10.3

    Di pagi hari aku melangkah pasti,
    Menuju kelas yang amat kusayangi.
    Di sana tawa dan ilmu bersatu,
    Hangatkan hati, tenangkan kalbu.

    Dindingnya saksi semangat membara,
    Papan tulis penuh cerita lama.
    Bangku-bangku setia menemani,
    Hari demi hari penuh arti.

    Suara guru bagai mentari pagi,
    Menyinari pikiran yang haus ilmu.
    Teman sekelas seperti saudara,
    Berbagi suka, tawa, dan duka.

    Kala hujan turun di luar sana,
    Kelasku jadi tempat berlindung.
    Di dalamnya damai kurasakan,
    Seperti pelukan tanpa usang.

    Waktu berlalu, tahun berganti,
    Namun kenangan ini takkan pergi.
    Kelasku, tempat ternyamanku,
    Selalu hidup dalam kalbu.



    ReplyDelete
  2. 1. "Bayang Cinta"
    (Dengan tema cinta)

    Dalam diam aku menatap,
    Jejakmu di relung jiwa,
    Setiap detik kuharap,
    Namamu tak pernah sirna.

    Cinta ini tak bersuara,
    Namun nyaring dalam rasa,
    Seperti angin yang menyapa,
    Tanpa bentuk, penuh makna.


    ReplyDelete
  3. Judul: Nada di hatiku

    Di antara senyap malam yang hening
    Kuselipkan lagu dalam bisikan lirih
    Nyanyianku bukan sekedar bunyi
    Tapi gema hati yang ingin berseri.

    Dalam tiap nada, kutemukan aku
    Ceritaku luruh dalam tiap lagu
    Kadang riang, kadang sendu
    Namun selalu jujur, selalu satu.

    Kulayak mimpi lewat melodi
    Menari di udara, bebas tak terkunci
    Suara ini tak harus sempurna
    Cukup setia pada rasa yang ada.

    Setiap bait jadi pelipur lara
    Kala dunia terlalu bising untuk bicara
    Nyanyian adalah cara jiwa ku bicara
    Menyungkap rindu, harap, dan sukma.

    Biarlah aku terus bernyanyi
    Meski hanya aku yang mengerti
    Karena dalam tiap nada yang mengalun
    Kukenalkan diriku yang paling tulus dan murni.

    ReplyDelete
  4. Anonymous11:25 PM

    Lukisan Semesta

    Diufuk pagi,mentari bersenandung
    Mengusap langit dengan jari cahaya
    Embun menggenggam daun-daun bisu
    Mewarnai hari tanpa kata

    Angin berbisik dalam tarian lembut
    Membelai jiwa yang penat diam-diam
    Burung pun melukis nada di angkasa
    Seakan dunia tak pernah lelah bermimpi

    Keindahan bukan hanya rupa
    Tapi detak tenang dalam dada
    Saat hati mampu melihat cahaya
    Mesku langit
    kadang diselubung lara

    Biarlah waktu terus berlari
    Selama semesta tetap bernyanyi
    Akan kutemukan indah sejati
    Dalam sederhana yang abadi


    ReplyDelete
  5. Selimut Kecemasan
    Karya: Deianeira Yamin
    Kelas: X.3
    No. Absen: 6

    Kecemasan menutupi,
    Bagai selimut yang membalut diri.
    Diriku terpaku, beku.
    Diriku beku, namun pikiranku berpacu.

    Kupikiri masa depanku, sebuah hantu.
    Masa depanku, seperti sebuah hantu masa lalu.
    Ambisiku, ke mana engkau?
    Tak terasa, masa depan mendekatiku.

    Cemas menelanku, seperti ombak laut biru.
    Ombak laut dingin, seperti aliran air mataku.
    Air mataku, meresap di selimutku.
    Selimutku, selimut cemas menelanku.

    Sia-siakah perjuangan mereka?
    Aku egois, kurasa.
    Kurasa aku membebanimu.
    Sini, kuangkat diriku dari pundakmu.

    Tak mengalir lagi, air mataku.
    Seperti sungai kering di musim kemarau.
    Tak terasa waktu berlalu.
    Tubuhku tertelan rasa letih, walau tak berjerih.

    ReplyDelete


  6. Judul:Umpan Tak Kasat Mata

    Diam ia menggantung, tak bersuara,
    di antara desir angin dan aliran kata,
    tak tercium, tak terlihat mata,
    namu

    Ia bukan kail yang mencakar raga,
    melainkan bisik yang membelai logika,
    menjanjikan madu di balik duri,
    menggoda rasa, menyamar nurani.

    Ia menyelinap dalam layar, dalam suara,
    umpan halus berbungkus pesona,
    mengajak hati menari di batas bahaya,
    menjaring mimpi, menggiring lara.

    Hati-hati pada umpan tanpa rupa,
    yang datang sebagai cahaya namun membawa gelita.
    Tak semua yang menarik pantas dipuja,
    kadang indah itu cuma dusta

    ReplyDelete

  7. Thalia Florencia Hutasoit11:25 PM
    Bayangmu yang Hilang

    Aku melangkah tanpa ragu
    meninggalkan jejak yang dulu telah berlalu
    Bayangmu yang dulu mengikuti
    kini lenyap Tanpa pamit pergi

    Jejak langkahmu pudar perlahan
    di jalan sunyi yang kau tinggalkan
    Aku memanggil, aku mencari,
    tapi suaramu hilang di sunyi.

    Malam menari dengan bayangan
    namun tak lagi kau disana.
    Cahaya lampu redup bergetar
    seperti hatiku yang Berdebar.

    Aku titip namun rindu pada rembulan
    namun sinarnya tak menyentuhmu
    Langit pun enggan memberi kabar,
    hanya sepi yang semakin mekar

    Bayangmu hilang, tinggallah kenangan,
    namun hatiku masih bertahan
    Jika esok kau tak kembali,
    biarkan waktu mengapus perih ini.

    ReplyDelete
  8. Cahaya di layar putih
    Karya:Samuel Alexander Hutabarat
    Kelas:10.3

    Di ruang sunyi tanpa suara, Proyektor hidup,Sinarnya nyata
    Bayang cerita mulai menjelma.
    Menari di dinding, membawa makna.

    Generlap cahaya tak bersuara. Menuntur Mimpi ke angkasa raya.
    setiap gambar, sejut kata,
    tersirat pesan,menggugah rasa.

    Pita waktu ia putar halus.
    kenangan lama jadi tak pupus.
    Film kehidupan mengalir lurus,
    dalam pancar cahaya yang tulus

    Mesin kecil di sudut ruangan.
    menghidupkan dunia penuh harapan
    Taksekedar alat dan tampilan,
    ia pematik imajinasi dan wawasan

    Maka teruslah bersinar terang.
    Wahai proyektor,si penjaga ruangan
    Dalam gelap engkau penenang
    Meruntut hati menyalakan terang

    ReplyDelete

  9. Judul: Jejak di Ujung Senja

    Di ujung senja yang mulai pudar,
    langkah kaki tak lagi segagah pagi.
    Angin menggulung kenangan dalam bisu,
    mengajak hati menari di antara waktu.

    Ada riuh tawa masa kecil,
    menjelma desir pada dedaunan yang gugur.
    Ada tangis remaja, patah oleh cinta pertama,
    terkubur pelan dalam senyum dewasa.

    Kita tumbuh, seperti pohon di tengah badai,
    akarnya mencari pegangan dalam tanah luka,
    batangnya menantang langit penuh tanya,
    daunnya mencatat tiap musim yang datang dan pergi.

    Bukan sekali dua kita ingin menyerah,
    saat gelap seperti tak mau reda,
    namun suara kecil dalam dada
    terus menyala, walau hanya seperti kunang-kunang.

    Lalu kita berjalan lagi—
    dengan luka yang dijahit pelan,
    dengan harap yang kadang compang-camping,
    namun tetap kita bawa,
    sebab tak ada arah selain ke depan.

    Malam tiba, bintang pun datang,
    seperti mimpi yang tak pernah mati.
    Dan meski tubuh lelah, mata basah,
    jiwa kita tak pernah benar-benar menyerah.

    Hingga nanti,
    di ujung waktu yang tak terjangkau,
    kita tinggal cerita yang dibisikkan angin
    pada rumput, pada langit,
    dan pada hati yang pernah mencinta.

    ReplyDelete
  10. Masa Depanku, Beku
    Karya: Deianeira Yamin
    Kelas: X.3
    No. Absen: 6

    Kecemasan bagai selimut
    Selimut cemas membalut
    Baluti diriku
    Namun aku beku

    Angin malam membeku
    Berhembus melalui diriku
    Tertidur, diriku membeku
    Memikirkan masa depanku

    Semakin lama kurenung
    Cemas menelanku
    Air mata mengalir di pipiku
    Kering di malam, membeku

    Tertidur diriku
    Namun pikiranku berpacu
    "Bagaimana dengan juang mereka?"
    "Sia-siakah juang mereka?"

    Habis air mataku
    Tak terasa waktu berlalu
    Tubuhku letih walau tak berjerih
    Ke dalam tidur, aku terjatuh

    ReplyDelete
  11. "Kehidupan di Masa Lalu pada bulan Maret"

    Aku terlahir di bulan Maret
    Yang sudah tinggal di tanah Pakpak
    Di saat ku terlahir seperti
    Masa kecil yang kurang bahagia
    Ketika diriku melihat dunia
    Aku melihat pemandangan yang indah

    Gunung dan pepohonan yang membuat mata memukau
    Melihat arus sungai saking kencangnya
    Memandangi ladang dan perumahan
    Di tempat yang cukup tinggi
    Bagaikan keindahan yang tidak bisa ditandingi

    Di malam hari, terasa gelap dan sunyi
    Melihat bintang yang bercahaya di langit
    Bentuknya seperti Pisces
    Hati yang lembut, penyayang,
    Dan mudah berkorban untuk orang tua
    Melihat bulan bagaikan
    Penerangan di kegelapan pada malam hari

    Terkadang di siang hari
    Muncul hujan sebagai sumber air kehidupan
    Menciptakan air hujan untuk kegiatan sehari- hari
    Terkadang muncul cuaca panas
    Sebagai sumber energi kehidupan
    Menciptakan tenaga surya

    Di sana, terdapat beberapa teman
    Yang selalu menemaniku dari kesepian
    Melindungi seorang sahabat
    Dari awal hingga akhir
    Itu janji yang tidak terlupakan
    Sayang sekali, tidak ada jawaban
    Aku tidak menyerah dan akan selalu menunggu
    Masa kecil yang tidak terlupakan

    ReplyDelete
  12. Nama: Yohana Anastasya Haloho
    Kelas: X.3
    Absen: 34

    Jadilah Seperti Sendal

    Jadilah seperti sendal,
    tak mewah, tak selalu dipuji
    namun setia menemani
    di jalan terjal ataupun berseri.

    Ia tidak peduli lumpur yang mengotori
    atau panas aspal yang menyakiti
    tetep kuat melangkah bersama kaki
    tanpa keluh, tanpa pamri diri.

    Sendal tahu posisinya rendah
    namun dari bawah, ia menjaga langkah
    tanpa ia, perjalanan pun susah
    meski jarang disangjung megah

    Maka jadilah seperti sendal
    yang sederhana tapi bermanfaat
    yang diam tapi berjasa
    yang rendah hati tapi luar biasa

    ReplyDelete
  13. Nafas
    Cipt:Kevin Salomo Turnip/15
    Kelas: X.3

    Tak ku sangka dan tak ku duga
    Bahwa aku dapat sampai saat ini
    Tulang-tulangku sudah remuk rasanya
    Uban menumbuhi rambutku hingga kini

    Keringat bagaikan darah yang segar
    Tiap langkah mau mati rasanya
    Tetapi aku tak sekalipun gentar
    Demi hari depan yang begitu manisnya

    Pagi bersaksi pada Geluh yang jatuh
    Malam menyimpan gelisah yang penuh
    aku berjuang bukan karena mudah
    tapi karena harapan tak boleh musnah

    Dibalik lesu tatapan sayu
    Ada tekad yang enggan layu
    Sebab masa depan tak datang merayu
    ia dipanggil mereka yang mau

    Hari-hari berkalu seperti bayang
    Tanpa warna tanpa terang
    Namun kuteruskan jalan panjang
    Meski jiwaku bimbang dan tegang

    Dibawah langit yang suram dan sendu
    Langkahku tertatih menampaki waktu
    Segenggam mimpi kugenggam kaku
    Berbalut letih tak lagi lesu

    ReplyDelete
  14. Judul: Dalam Langkah Bersama

    Di antara tawa dan cerita yang sederhana,
    Kau hadir tanpa diminta,
    Langkahmu sejajar dalam suka dan duka,
    Menjadi tenang di kala dunia tak ramah.

    Kita berjalan tanpa janji terucap,
    Namun setia tumbuh di sela waktu,
    Tak perlu banyak kata yang diserap,
    Cukup hadir saat hati pilu.

    Kadang kita berbeda arah pandang,
    Namun tak saling meninggalkan,
    Justru di sanalah kita saling berkembang,
    Menyulam paham dalam perbedaan.

    Pernah bertengkar, saling menjauh,
    Namun kembali seperti tak pernah ada cela,
    Karena yang tulus tak pernah runtuh,
    Hanya rehat, bukan lupa.

    Kini ku tahu, dalam hidup yang fana,
    Teman sejati bukan sekadar nama,
    Tapi mereka yang tetap ada,
    Meski dunia terus berubah rupa.

    Karya : Valentino Ifan Pratama
    No Absen : 31
    Kelas : X. 3

    ReplyDelete
  15. Nama: Ahmad Rafif Rizqullah
    Kelas: 10.3
    Absen: 2

    Judul: Jadilah Seputih Papan tulis Kelas itu

    Jadilah seputih Papan tulis kelas
    Yang tiap pagi menerima goresan baru
    tak Pernah mengeluh walau dilukis
    keliru lalu rela dibersihkan agar kembali bersatu

    Ia tak memilih tangan siapa yang menulis
    Anak pemalu atau yang paling aktif Ia hanya diam
    berserah dan tulus memberi ruang
    pada makna yang singkat namun aktif

    Berulang kali ia dicoret dibersihkan
    berulang kali ia menjadi tempat harapan
    meski tak kekal
    ia terus menyimpan bekas pelajaran dalam diam

    Jadilah seputih papan tulis kelas itu
    yang tetap tegak walau jarang dipuji
    Yang menjadi saksi tawa dan keluh tanpa pernah meminta kembali

    Putih bukan sekedar warna tapi keberanian untuk terus bersedia menjadi awal dari tiap cerita meski tahu, akhirnya akan sirna

    Hidup bukan tentang siapa yang hebat bicara
    Tapi siapa yang sanggup diam
    namun bermakna seperti papan tulis kelas itu
    walau tak bersuara menjadi tempat semua ilmu bermula

    ReplyDelete
  16. MENCARI TERANG
    Karya : Teresia Agustriani X.3

    Jarum jam terus berputar
    Menandakan bagaimana kehidupan
    Hidup tanpa bergerak
    Seperti mayat bernyawa

    Hidup dalam gelap
    Enggan mencari penerang
    Terlalu mendambakan kesempurnaan
    Namun melupakan perjuangan

    Perjuangan orang tua tak henti
    Doa akan masa depan terpancar
    Bermodal doa dan kasih sayang yang hadir
    Menuntun setiap langkah yang diiringi

    Terlalu takut melompat
    Terus menerus menganggap dirinya kenyang
    Padahal menyentuh satu butir nasi pun tidak
    Kegelapan terus menyelimuti ketakutan

    Seperti katak di dalam tempurung
    Enggan keluar dan hanya berlindung
    Sedari kecil banyak bermimpi
    Seperti kepompong yang berharap menjadi kupu-kupu cantik

    Perlahan cahaya yang didambakan menghilang
    Tersisa kegelapan yang terus menyelimuti
    Ingatlah setiap jam yang berdenting
    Mimpi dan kenyataan bertaut dalam keabadian

    Harapan dan mimpi membimbing langkah
    Namun raga tak kuasa
    Semangat mulai pudar
    Hingga hanya dapat bergumam

    ReplyDelete
  17. Doa ibuku
    Cipt:Kevin Salomo Turnip/15
    Kelas :X.3



    Dalam sujudmu, langit pun tergentar
    Namaku kau bisikan seribu kali
    Hingga bintang pun rela jatuh ke bumi

    Kau hantarkan doa dalam melewati badai yang mengoyak awan, membelah langit yang damai
    Tak ada jarak yang bisa kau hancurkan demi anak ,semesta kau lawan

    Peluhku jadi pelangi di pagi hari air matamu bisa tenggelamkan negeri kau tiada lelah meski dunia runtuh
    Kasihmu kekal tak pernah rapuh

    Setiap jantungmu berdetak di namaku
    Seakan dunia milikmu satu
    Cintamu tak cukup ditampung lautan
    Ia mengalir dari surga ke kehidupan

    ReplyDelete
  18. Anonymous11:41 PM

    Lukisan Semesta

    karya : M.Akram Athallah

    Di ufuk pagi, mentari bersenandung,
    mengusap langit dengan jari cahaya,
    embun menggenggam daun-daun bisu,
    mewarnai hari tanpa kata.

    Angin berbisik dalam tarian lembut,
    membelai jiwa yang penat diam-diam,
    burung pun melukis nada di angkasa,
    seakan dunia tak pernah lelah bermimpi.

    Keindahan bukan hanya rupa,
    tapi detak tenang dalam dada,
    saat hati mampu melihat cahaya,
    meski langit kadang diselubung lara.

    Biarlah waktu terus berlari,
    selama semesta tetap bernyanyi,
    akan kutemukan indah sejati,
    dalam sederhana yang abadi.

    ReplyDelete


  19. Judul: "Yang Pergi Tak Kembali"
    Karya : rico saputra
    Nama: rico saputra
    Kelas:10.3
    Sunyi menyelinap dalam dada,
    seperti malam tanpa bintang,
    kau pergi tanpa kata,
    meninggalkan aku dalam bayang.

    Langit menangis tanpa suara,
    hujan turun seperti air mata,
    aku mencari dalam kenangan,
    jejakmu yang kian menghilang.

    Rindu ini seperti luka,
    tak berdarah, tapi menyiksa,
    setiap malam kuteriakkan namamu,
    namun jawabnya hanya angin lalu.

    Waktu tak bisa memutar langkah,
    tak bisa membawa kau kembali,
    tapi dalam hati yang retak,
    namamu abadi, takkan terganti.

    ReplyDelete
  20. Judul : NASI PADANG
    Nama : Christofer Farrel Y. S.
    Absen : 5
    Kelas : 10.3

    Siang hari perut mulai lapar,
    Pikiran langsung ke nasi padang,
    Bayangan nasi hangat dan sambal pedas.

    Aku pilih hati ampela yang gurih,
    Ayam bakar yang wangi dan agak gosong,
    Dan rendang yang empuk dan berbumbu pekat,
    Semua disusun rapi di atas piring penuh.

    Kuah gulai disiram ke atas nasi,
    Mengalir ke sudut-sudut lauk,
    Sambal hijau diletakkan di pinggir,
    Siap bikin keringat keluar diam-dian.

    Hati ampelanya kenyal,
    Bumbunya masuk sampai ke dalam,
    Makan pelan agar tidak cepat habis,
    Karena rasanya terlalu enak buat disisakan.

    Setelah kenyang rasanya lega,
    Perut kenyang hatipun senang,
    Nasi padang selalu jadi jawaban setiap kali lapar,
    Makanan yang tiada duanya.

    ReplyDelete
  21. "Kasih yang Tak Lekang oleh Masa"

    Karya: Zahara Maharany Ahmad
    Kelas: X.3
    No. Absen: 35

    Di pagi yang yang belum bernyawa,
    kulihat bayangmu di antara cahaya,
    menyapu lantai, menyusun asa, dengan cinta yang tak bersuara.

    Tiap helai rambutmu menua,
    tapi tanganmu tetap setia,
    merajut harap dan luka,
    mengubah duka jadi bahagia.

    Engkau tak pernah meminta balas,
    cukup kami tumbuh dengan tegas,
    menjadi mimpi yang kau lepas,
    ke langit tinggi penuh luas.

    Dari peluhmu tumbuh taman,
    tempat kami bermain dan belajar sopan,
    dari sabarmu kami paham,
    arti kuat tanpa harus keras.

    Ibu, engkau adalah waktu,
    yang berjalan tanpa ragu,
    membawa kamu menuju,
    hidup yang lebih syahdu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯

      Delete
  22. "Di Pundak Ayah"

    Karya: Zahara Maharany Ahmad
    Kelas: X.3
    No. Absen: 35

    Pagi belum mekar sempurna,
    ayah telah pergi tanpa suara,
    dengan langkah pasti dan jiwa besar,
    ia titipkan harapan di balik sabar.

    Tak pernah ia minta dipuji,
    meski peluhnya basahi hari,
    ia hanya ingin anaknya mengerti,
    bahwa cinta kadang tak perlu ditanyai.

    Ayah adalah pelindung tanpa jubah,
    yang berdiri kala badai menerjah,
    di pundaknya pernah ku tertawa,
    kini kutemukan kekuatan di sana.

    Waktu mengukir uban di rambutnya,
    namun semangatnya tetap membara,
    ia ajarkan arti teguh berdiri,
    meski dunia tak selalu berseri.

    Ayah, kau adalah doa yang hidup,
    yang tak henti mengalir dalam tubuh,
    meski tak selalu kita bersua,
    namamu tak pernah hilang dari jiwa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯GIRLBOSS LESGOOO

      Delete
  23. Nama: Reven A.T.
    Kelas: X.3
    No. Absen: 25

    Berlari di Taman Mimpiku

    Wahai diriku di masa lampau
    Yang riang gembira selepas bermain di taman,
    Seperti api yang tak padam walau angin menerjang,
    Tiang-tiang senyummu tak runtuh oleh zaman.

    Kenangan itu mengingatkan kembali
    Pada hidup yang lepas dari beban dan cela,
    Tak tercemar oleh jahatnya dunia ini,
    Penuh kesejukan seperti embun di pagi buta.

    Namun hidup adalah langkah tak terhenti
    Menapaki panasnya dunia yang membara,
    Walau lelah perlahan meruntuhkan senyum tadi,
    Kita tetap berjalan, menembus segala luka.

    Biarlah waktu membawa semua cerita
    Nikmati yang terjadi, sambil terus menapak,
    Karena masih banyak hal yang harus dijaga,
    Dan harapan yang menanti di setiap jejak.

    ReplyDelete
  24. Pelukan yang Hangat dan Tak Pernah Pudar
    Karya : lusia desnia natalia turnip
    Kelas : X.3
    Absen : 18

    Di dalam dekapmu, aku temukan damai,
    hangatnya meresap hingga ke palung hati,
    seperti senja yang tak pernah usai,
    memberi cahaya di tiap tepi sunyi.

    Pelukanmu adalah rumah yang setia,
    menampung luka, meredam tangis,
    tak peduli seberapa jauh langkahku berkelana,
    kau tetap ada, tak pernah habis.

    Saat dunia membentang dingin dan asing,
    kau rengkuh aku tanpa tanya,
    membisikkan kasih dalam hening,
    menenangkan jiwa yang hampir sirna.

    Di pundakmu, semua resah terurai,
    air mata menjadi butiran doa,
    kau tetap teguh meski lelah menyergap,
    menjadi cahaya yang tak padam jua.

    Tak ada pelukan yang lebih sejati,
    selain pelukan seorang ibu,
    hangatnya mengaliri setiap nadi,
    membentuk rindu yang selalu menyatu.

    Dan meski waktu merentang jarak,
    dan tubuhmu kian melemah oleh usia,
    pelukanmu tetap terasa menghangat,
    abadi dalam setiap detak dan rasa.

    ReplyDelete
  25. Judul : SATU KARTU SERIBU TAWA
    Nama : Christofer Farrel Y. S.
    Absen : 5
    Kelas : 10.3

    Di bangku sekolah saat jam istirahat,
    Kami berkumpul tak pakai syarat,
    Keluarkan kartu, satu per satu,
    "UNO!" teriak kami,b penuh seru.

    Kartu merah, hijau, biru, dan kuning,
    Kadang bikin pusing, kadang nyenengin,
    Draw Ten datang, semua pada ngeluh,
    Tapi ketawa tetap tak bisa dihilangi.

    Giliran maju, hati pun dag dig dug,
    Apalagi kalau sudah mepet banget,
    Satu kartu tapi belum menang,
    Tiba-tiba diserang, langsung jadi banyak.

    Ada yang curang ngintip kartu,
    Yang lain pada protes, "Eh jangan gitu!",
    Tapi permainan tetap lanjut, nggak mau berhenti,
    UNO itu candu, bikin hati damai.

    Terkadang kami main dengan mengemil jajanan,
    Sambil ngobrol soal tugas yang bikin nyesek hati,
    Namun, begitu kartu sudah di tangan,
    Semua beban seolah menghilang pelan-pelan.

    Tak terasa bel masuk berbunyi,
    UNO disimpan, tawa kami masih terdengar,
    Main UNO bukan cuma soal menang kalah,
    Tapi soal pertemanan yang hangat.

    Di sela tugas yang numpuk setiap hari,
    UNO menjadi tempat kami berlari,
    Bukan lari dari kenyataan,
    Tetapi istirahat sebentar untuk tertawa lagi.

    ReplyDelete


  26. Bapakku Pecandu Rokok
    Karya : Vinsen Steven Grelly
    Kelas : X.3
    No.Absen : 33

    Bapakku pecandu rokok
    Asap mengepul aroma yang khas,
    Di setiap langkah, di setiap waktu,
    Rokok menjadi teman yang tak pernah pergi.

    Di pagi hari, di siang hari,
    Rokok tetap ada
    Asap mengepul mengebul tinggi,
    Menjadi bagian dari hidupnya sehari-hari.

    Bapakku pecandu rokok
    Tapi aku tetap mencintainya
    Karena di balik asap yang mengepul
    Terdapat cinta dan kasih sayang yang tak pernah berubah.

    Aku berharap suatu hari nanti
    Bapakku bisa meninggalkan rokok,
    Tapi untuk sekarang, aku hanya bisa
    Menerima dan mencintainya apa adanya.

    Bapakku pecandu rokok,
    Aku akan selalu ada di sampingmu.

    ReplyDelete
  27. Cahaya Di Layar Putih

    Karya:Samuel Alexander Hutabarat
    Kelas: X.3
    No Absen: 27

    Di ruang sunyi tanpa suara, Proyektor hidup,Sinarnya nyata
    Bayang cerita mulai menjelma.
    Menari di dinding, membawa makna.

    Generlap cahaya tak bersuara. Menuntur Mimpi ke angkasa raya.
    setiap gambar, sejut kata,
    tersirat pesan,menggugah rasa.

    Pita waktu ia putar halus.
    kenangan lama jadi tak pupus.
    Film kehidupan mengalir lurus,
    dalam pancar cahaya yang tulus

    Mesin kecil di sudut ruangan.
    menghidupkan dunia penuh harapan
    Taksekedar alat dan tampilan,
    ia pematik imajinasi dan wawasan

    Maka teruslah bersinar terang.
    Wahai proyektor,si penjaga ruangan
    Dalam gelap engkau penenang
    Meruntut hati menyalakan terang

    ReplyDelete
  28. AKU DAN KEGELAPAN
    Karya : lusia desnia natalia turnip
    Kelas : X.3
    Absen : 18

    Kala senja jatuh perlahan,
    dan cahaya terakhir hilang di ujung langit,
    aku mulai mendengar bisikan yang tak bernama,
    mengendap di pojok-pojok sunyi pikiranku.

    Gelap datang tak mengetuk,
    masuk begitu saja ke dalam kamar, ke dalam dada,
    menyergap napasku yang sudah pendek oleh cemas,
    seperti selimut tua yang menekan wajah—
    tanpa ampun.

    Aku takut pada hitam yang tak berbentuk,
    yang menyamar jadi bayangan di dinding,
    jadi suara retak lantai yang tak jelas asalnya,
    jadi tatapan dari balik lemari yang kututup rapat.

    Orang bilang gelap hanyalah tiadanya cahaya.
    Tapi mengapa ia terasa hidup?
    Mengapa ia tahu namaku?
    Mengapa ia tahu mimpi buruk yang selalu kupendam
    sejak kecil—
    sejak lampu padam dan suara ibu tak terdengar?

    Aku pernah mencoba berdamai,
    menyalakan lilin di dalam hati,
    membisikkan mantra,
    menggambar cahaya dengan pikiranku sendiri.
    Tapi gelap bukan hanya di luar,
    ia tumbuh di dalam,
    seperti akar yang merayap di dinding jiwa,
    seperti kenangan yang tak mau pergi.

    Aku takut bukan hanya karena tak bisa melihat,
    tapi karena aku bisa membayangkan terlalu banyak.
    Setiap bayangan adalah kemungkinan,
    dan setiap kemungkinan adalah luka yang mungkin datang.

    Namun aku masih di sini,
    menggigil, tapi berdiri,
    menyusun keberanian dari sisa-sisa cahaya,
    belajar menatap kegelapan tanpa lari.
    Mungkin kelak aku tak akan sembuh,
    tapi aku akan tetap berjalan
    walau pelan, walau gelap,
    walau takut.

    ReplyDelete
  29. Judul: "Yang Pergi Tak Kembali"
    Karya : rico saputra
    Nama: rico saputra
    Kelas:10.3
    No absen:26
    Sunyi menyelinap dalam dada,
    seperti malam tanpa bintang,
    kau pergi tanpa kata,
    meninggalkan aku dalam bayang.

    Langit menangis tanpa suara,
    hujan turun seperti air mata,
    aku mencari dalam kenangan,
    jejakmu yang kian menghilang.

    Rindu ini seperti luka,
    tak berdarah, tapi menyiksa,
    setiap malam kuteriakkan namamu,
    namun jawabnya hanya angin lalu.

    Waktu tak bisa memutar langkah,
    tak bisa membawa kau kembali,
    tapi dalam hati yang retak,
    namamu abadi, takkan terganti.

    ReplyDelete
  30. Kelasku Tempat Ternyamanku

    Nama:Samuel Alexander Hutabarat
    Kelas: X.3
    No Absen: 27

    Di pagi hari aku melangkah pasti,
    Menuju kelas yang amat kusayangi.
    Di sana tawa dan ilmu bersatu,
    Hangatkan hati, tenangkan kalbu.

    Dindingnya saksi semangat membara,
    Papan tulis penuh cerita lama.
    Bangku-bangku setia menemani,
    Hari demi hari penuh arti.

    Suara guru bagai mentari pagi,
    Menyinari pikiran yang haus ilmu.
    Teman sekelas seperti saudara,
    Berbagi suka, tawa, dan duka.

    Kala hujan turun di luar sana,
    Kelasku jadi tempat berlindung.
    Di dalamnya damai kurasakan,
    Seperti pelukan tanpa usang.

    Waktu berlalu, tahun berganti,
    Namun kenangan ini takkan pergi.
    Kelasku, tempat ternyamanku,
    Selalu hidup dalam kalbu.

    ReplyDelete
  31. Nama:kesia andilia
    Kelas: ×.3
    Absen: 14
    Judul : SATU HARI

    Hari yang berharga
    Tetap lah engaku berada
    Tanpa satu hari kami tidak bisa apa apa
    Tanpa waktu tidak akan berjalan seperti biasa

    Dari satu hari manusia bisa beraktifitas
    Yang akan terus terbatas
    Jika satu hari tiada mempunyai batas
    Berjalan lah terus menerus

    Engkau sangat berarti
    Yang sangat diperlukan setiap hari
    Satu hari engkau emas bagi
    Manusia yang menunggu satu hari

    Waktu yang telah kau beri
    Satu hari ini sangat la berharga
    Langit berubah sepanjang masa
    Terang,gelap, selalu ada di setiap hari nya

    Terang la setiap hari
    Gelap lah setiap saat
    Berjalan la seperti biasa
    Tanpa satu hari kami semua tidak merasa hidup

    ReplyDelete
  32. Bayangmu yang Hilang
    karya : Thalia Florencia Hutasoit
    kelas : X.3
    no.absen : 30

    Aku melangkah tanpa ragu
    meninggalkan jejak yang dulu telah berlalu
    Bayangmu yang dulu mengikuti
    kini lenyap Tanpa pamit pergi

    Jejak langkahmu pudar perlahan
    di jalan sunyi yang kau tinggalkan
    Aku memanggil, aku mencari,
    tapi suaramu hilang di sunyi.

    Malam menari dengan bayangan
    namun tak lagi kau disana.
    Cahaya lampu redup bergetar
    seperti hatiku yang Berdebar.

    Aku titip namun rindu pada rembulan
    namun sinarnya tak menyentuhmu
    Langit pun enggan memberi kabar,
    hanya sepi yang semakin mekar

    Bayangmu hilang, tinggallah kenangan,
    namun hatiku masih bertahan
    Jika esok kau tak kembali,
    biarkan waktu mengapus perih ini.

    ReplyDelete
  33. Nama: Malvino X.3
    Karya: Malvino
    Absen: 20
    Judul: Langkah Menuju Bintang

    Di ujung langit harapan bersinar
    Cita-cita berkilau, tinggi menggulang
    Langkah pertama walau gemetar
    Adalah awal yang takkan hilang

    Bukan mimpi yang harus dibayangkan
    Tapi tekad yang harus terus diperjuangkan
    Belajar sabar dalam kegagalan
    Dan bangkit kuat dari keraguan

    Peluh dan lelah jadi teman setia
    Doa dan restu jadi cahaya
    Ilmu digenggam dengan percaya
    Disulam dengan usaha tiada henti juga doa

    Tak perlu takut akan jatuh
    Sebab bintang pun terlihat jauh
    Namun bagi hati yang sungguh
    Tak ada yang terlalu rapuh

    ReplyDelete
  34. Judul : "Cukup Ayahku Saja yang Perokok"

    Karya : Devin
    Kelas : X.3
    No. Absen : 08

    Asap itu menari di ruang tamu kami,
    Mengambang perlahan di sela mimpi,
    Aku kecil hanya bisa diam dan menatap,
    Pada tangan ayah, api yang tak padam cepat.

    Cukup ayahku saja yang perokok,
    Jangan lagi dunia wariskan asap pekat,
    Biarlah dadanya saja yang sesak,
    Jangan generasi tumbuh dalam napas yang retak.

    Aku hafal suara batuknya di malam hari,
    Seperti lonceng yang mengusik mimpi,
    Ia bilang ini teman sejak dulu,
    Tapi teman sejati tak membuat paru-paru layu.

    Aku tak marah, hanya ingin bicara,
    Bahwa cinta tak selalu datang lewat gaya lama,
    Aku ingin memeluknya tanpa bau menyengat,
    Aku ingin hidup lebih lama dengannya, tak singkat.

    Jika boleh aku memilih masa depan,
    Takkan kutulis rokok dalam rencana jalan,
    Biar ayah jadi pelajaran, bukan warisan,
    Agar generasi esok bernapas dengan kebebasan.

    Cukup ayahku saja yang perokok,
    Biar semua berhenti di satu titik gelap,
    Kita nyalakan cahaya di tangan yang baru,
    Dengan harapan, bukan abu.

    Dan jika kelak aku menjadi ayah,
    Takkan kubawa warisan itu menyembah,
    Anakku berhak hirup udara bersih,
    Tanpa asap, tanpa resah, tanpa tangis yang lirih.

    ReplyDelete
  35. Sepedaku, Jalan Hidupku
    karya : Thalia Florencia Hutasoit
    kelas : X.3
    no. absen : 30


    Jalan kehidupan berliku-liku
    Seperti roda sepedaku yang terus berputar
    Tanjakan dan turunan, liku-liku yang tak terduga
    Menguji ke sabaran dan keberanian

    Aku terus melaju, dengan pedal yang terus dikayuh
    Menuju tujuan yang masih jauh dan samar
    lubang-lubang menganga, menghodongku di setiap langkah
    Tapi aku tidak menyerah, aku terus melaju

    Dalam perjalanan hidupku, aku menemukan banyak hal
    Yang membuatku lebih kuat, lebih bijak dan lebih sabar
    Aku belajar dari setiap rintangan,
    Dan aku menemukan bahwa kehidupan adalah perjalanan

    Aku tidak hanya mengemudikan dikan sepeda
    tapi aku juga juga mengemudikan hidupku
    Dengan kesadarar bahwa ada yang lebit lebih besar dari aku
    Yang mengatur segala dan menentukan menentukan jalan hidupku

    Jadi aku terus melaju dengan hati yang sabar dan jiwa yang kuat
    menuju tujuan yang masih jauh dengan harapan dan impian
    aku yakΔ±n bahwa aku dapat mencapainya
    dengan kesabaran, keberanian dan kebijaksanaan

    ReplyDelete
  36. Judul: "Yang Pergi Tak Kembali"
    Karya : rico saputra
    Nama: rico saputra
    Kelas:10.3
    Absen:26
    Sunyi menyelinap dalam dada,
    seperti malam tanpa bintang,
    kau pergi tanpa kata,
    meninggalkan aku dalam bayang.

    Langit menangis tanpa suara,
    hujan turun seperti air mata,
    aku mencari dalam kenangan,
    jejakmu yang kian menghilang.

    Rindu ini seperti luka,
    tak berdarah, tapi menyiksa,
    setiap malam kuteriakkan namamu,
    namun jawabnya hanya angin lalu.

    Waktu tak bisa memutar langkah,
    tak bisa membawa kau kembali,
    tapi dalam hati yang retak,
    namamu abadi, takkan terganti.

    ReplyDelete
  37. Nama: Fransikus Noven S.
    kelas: 10.3
    absen: 10


    judul: Jadilah Seperti Pensilku

    Jadilah seperti pensilku yang sederhana
    Tubuhnya mungil, tak berkilau gemerlap dunia,
    Namun tiap goresanya punya makna,
    Menulis mimpi, membentuk sejarah manusia.
    Ia tak mengeluh saat diasah, Meski sakit,
    ia tahu itu untuk arah.

    Jadilah seperti pensilku yang setia,
    Mengiringi tangan dalam suka dan lara,
    Ia tak memilih kapan digunakan,
    Tak menolak meski hanya untuk coretan harian.
    Setiap goresanya,
    walau kecil dan pelan,
    Adalah bukti bahwa ia ikut berperan.

    Ia tahu hidupnya akan terus memendek,
    Dari ujung yang tajam menjadi tumpul dan retak, namun ia tetap menari di atas kertas,
    Meninggalkan jejak meski waktunya terbatas.
    Bukankah hidup juga begitu ?
    Memberi arti sebelum berlalu.

    Pensilku juga menyimpan pelajaran bijak,
    Bahwa kesalahan bukan akhir langkah,
    Dengan pengapus di ujungnya yang lembut,
    Ia ajarkan kita bahwa gagal bukan sesuatu yang keruh.
    Ia memberi ruang untuk memperbaiki,
    Tanpa harus takut atau menyepi.

    Jadilah seperti pensilku yang tak sambang,
    Tak iri pada pena berkilau atau tinta yang congkak,
    Ia tahu, meski tak mencolok mata,
    Ia punya kekuatan yang jauh lebih nyata.
    Karya sejati tak butuh tepuk tangan,
    Hanya butuh ketulusan dan keyakinan.

    ReplyDelete
  38. Nama : Margaretha Keyla Praska
    Kelas : X 3
    Nomor Absen : 21
    Puisi 1

    AKANKAH DIA?

    Akankan dia? Dia yong terlihat namun
    tidak seperti terlihat, bagaikan semut yang sedang melihat bintang. Itulah yang dirasakan Seorang
    Retrouvailles

    Akankan itu? Rumah yang terlihat nyaman
    namun susah untuk ditempati, bagaikan kelinci
    Yang ingin berlindung di rumah

    Akankah kamu? Yang terlihat indah dari kejauhan
    namun hampir mustahil untuk dihampiri,
    bagaikan Anglerfish yang ingin melihat
    matahari

    Lalu, Siapakah Retrouvailles, Kelinci,
    dan Angerfist itu? Apakah itu kamu
    Atau bahkan itu adalah aku? Aku rasa memang aku

    Bisakah aku mencapainya? Mencapai dia yang hampir mustahil untuk
    dihampiri dan ditempati, dan aku bisa
    berharan di dalam kekuatan DOA.

    Katya : Margaretha Keyla Praska



    Puisi 2
    HATI-HATI MENGGUNAKANNYA

    Pada Saat Pikiran mengendalilean Perilaku Maka di Situlah kesalahan dimulai
    Kesalahan yang dimulai dari si janat itu
    Dan tidak sehasusnya terjadi

    Tubuh yang Seharusnya menjadi sandasan
    Naman Malah menjadi kegelapan
    Kegelapan yang ditimbulkan Karena Ketidakadanya Cahaya

    Lingkungan di sekitar yang masim dapat
    dilihat Naman Sedilart selcali anale terang
    Anak terang yang selalu taat
    Dan Selalu menjaga kesucian tulang

    Anak terang yang seharusnya percaya akan Dia
    Anak terang yang seharusnya melayani
    Tanpa dapat terjerumus dalam lingkungan sekitarnya
    Untuk dapat hidup kekal di sana nanti

    Anak terang adalah kita
    Kita Yang Yakin akan kebangkitan-Nya
    Yang selalu bersinar di antara kegelapan
    Dan melayani di dalam keimanan

    Ketika hati berkata
    Maka cahaya mengala Bagaikan bintang yung menunjuk kota Daud
    Saat Juruslamat telah lahir

    Untuk apakah aturan?
    Untuk apa lagi jika tidak untuk dilanggar?
    Untuk menguji kesetiaan anak-Nya
    Di dalam lingkungan yang gelap

    Perbandingan domba dan kambing
    Adalah ibarat cahaya dan kegelapan
    Kambing Yang bingung arah Pulang
    Dan domba Yang sesat di kegelapan

    Maka la datang sebagai manusia
    la juga mati
    Untuk keterangan dunia
    Dan pengharapan hidup ini

    Karya: Margaretha Keyla Praska

    ReplyDelete
  39. Nama: Ahmad Rafif Rizqullah
    Kelas: X.3
    Absen: 2


    Jadilah Seputih Papan Tulis Kelas Itu

    Jadilah seputih papan tulis kelas,
    yang tiap pagi menerima goresan baru.
    Tak pernah mengeluh walau dilukis keliru,
    rela dibersihkan agar kembali bersatu.

    Ia tak memilih tangan siapa yang menulis
    anak pemalu atau yang paling aktif.
    Ia hanya diam, berserah, dan tulus,
    memberi ruang pada makna yang singkat namun aktif.

    Berulang kali ia dicoret, dibersihkan,
    berulang kali menjadi tempat harapan.
    Meski tak kekal,
    ia terus menyimpan bekas pelajaran dalam diam.

    Jadilah seputih papan tulis kelas itu,
    yang tetap tegak walau jarang dipuji,
    yang menjadi saksi tawa dan keluh,
    tanpa pernah meminta kembali.

    Putih bukan sekadar warna,
    tapi keberanian untuk terus bersedia
    menjadi awal dari tiap cerita,
    meski tahu akhirnya akan sirna.

    Hidup bukan tentang siapa yang hebat bicara,
    tapi siapa yang sanggup diam namun bermakna
    seperti papan tulis kelas itu,
    walau tak bersuara,
    menjadi tempat semua ilmu bermula.

    ReplyDelete
  40. Nama : Anggita Zefanya Aritonang
    Kelas : X.3
    Absen : 03
    Nama Sekolah : SMA Xaverius 2 Palembang

    Puisi 1 :
    Rumput Kering

    Hijau lembut menari pelan
    Ditiup angin dan kejauhan
    Walau diinjak tetap bertahan
    Itulah makna kesetiaan

    Rumput bukan bunga wangi
    Namun setia menghijau bumi.
    Rumput mengajarkan kita ini
    Makna hidup yang tersembunyi

    Dunia penat dan bising
    Duduklah diatas rumput kering
    la menyembuhkan hati gersang
    Kenangan hijau tak kembali datang

    Di kaki anak yang berlari
    Rumput rumput menyambut berseri
    Kini hanya sisa memori
    Di tanah kering yang sunyi

    Waktu mengikis perlahan
    Sinar mentari tak lagi terbenam
    Rumput kering pun diam-diam
    meratapi senyum yang perlahan Padam

    Tiap helainya menjadi serbuk
    Tiap tapak menjadi retak
    Rumput tak bisa bersorak
    Namun jiwanya tetap tegak

    Karya : Anggita Zefanya Aritonang

    Puisi 2 :
    Edelweis

    Edelwis bunga yang tumbuh di puncak
    Putih adalah warna bunga yang indah
    Putihnya bersinar di dalam pelukan angin
    Menyimpan keindahan alam yang sunyi

    Bunga edelwis adalah bunga abadi
    Melambangkan keteguhan
    Yang tak tergoyangkan oleh waktu
    Engkau adalah simbol kekuatan

    Tetaplah abadi seperti edelweis
    Meskipun ada badai yang menyerang
    Tapi tetap berdiri tegak melawan badai
    Kekuatan sejati terletak di hati

    Seperti bunga edelweis yang tumbuh di ketinggian
    Kita juga harus kuat dalam menjalani hidup ini
    Jangan ragu dalam segala rintangan
    Tetap menjadi diri sendiri dalam keabadian seperti edelweis.

    Bunga Edelweis mengajarkan kita bahwa
    Keindahan bukan hanya soal fisik
    Tetapi kesetiaan yang tak pernah pudar
    Seperti edelweis yang tetap abadi sepanjang waktu

    Karya : Anggita Zefanya Aritonang

    ReplyDelete
  41. Nirwana dunia
    Karya : Shahira Talita She
    Kelas : X.3
    No. Absen : 28

    Dulu...
    Tak kala indah
    Menusuk atma
    Tiap melihat terbayang nirwana

    Diriku memancarkan defisini asri
    Lingkungan yang sangat indah
    Hampir tak tercela
    Namun sayang...
    Berjumpa dengan tangan yang meraja rela

    Dirimu dirusak, disayat, dicela dan dicemar
    Begitu pilu melihat dan merasa
    Ditinggal dan terkoyak
    Nirwana menjadi ketidakkekalan
    Akibat ulah oknum tak terdidik

    Begitu pilu dan merasa
    Kapan akan sadar
    Apa susahnya menjaga dan menikmati
    Dari dikau untuk dikau
    Kepedulian tiap orang memengaruhi lingkungan

    Satu bantuan kecil sangat berharga
    Satu tangan menopang sangat kuat
    Dimulai dari hal kecil
    Menumpuk menghasilkan hal luar biasa

    ReplyDelete
  42. Mataku
    Karya : Vania Silvia Sela
    Kelas : X.3
    No. Absen : 32

    Mataku besar, tenang mengarah
    Menyentuh langit yang diam saja
    Tak banyak kata, tak banyak marah
    Namun menyimpan dunia rahasia

    Tatapannya luas, penuh cerita
    Bagai daun tanpa riak kecil
    Dalam gelap pun tetap bisa
    Menyala lembut, hangat dan senyap kilir

    Ia berbicara saat aku diam
    Menjaga luka, menahan tawa
    Seperti malam tak perlu kelam
    Asal ada bintang di dalamnya

    Bentuknya bulat, penuh rasa
    Kadang sembunyi, kadang terbuka
    Tapi tak pernah hilang makna
    Meski lelah datang tak terduga

    Ada teduh dibalik garis
    Tak perlu hias, ia bersinar
    Karena jujur tak bisa di tiris
    Meski pandang tak selalu benar

    Alis yang tipis merangkai damai
    Membingkai mata dengan lembut
    Tak perlu terang untuk sampai
    Cukup nyala dari dalam yang lurut

    Mataku besar, bukan sombong
    Hanya caraku melihat terang
    Menyerap dunia yang kadang kosong
    Dan tetap hidup meski seorang

    ReplyDelete